Puisi: Sepanjang Nadi Yogyakarta (Karya Budhi Setyawan)

Puisi "Sepanjang Nadi Yogyakarta" karya Budhi Setyawan merupakan ode bagi Yogyakarta sebagai kota yang menyatukan sejarah, budaya, perjuangan, ...

Sepanjang Nadi Yogyakarta

/1/
pada anak anak rambutmu, sore yang rinai
mengupas kenang menjelang senja tembaga.
pada jalanan itu, yang lurus dan belok, yang
renik dan lentik, yang mencipta kelok dalam
wilayah pencarian. suar suar cerita darimu masih
mengulur desir di ceruk rantau kesepian, di orbit
lingkar renungan.

/2/
merapi bersama awan putih menaungi sebuah
tugu. ia yang tegak menanam hening, tak menuliskan
kata, namun tekun meletupkan sketsa kisah kisah
wiracarita ke udara. menyerbuk serupa tepung,
terbias jejak para penempuh sejarah yang rindu
merdeka dengan gelegak tarung. dan derap derap itu
menandai pertemuan kita yang menjelma gaung.

/3/
lampu lampu di tepi jalan tetap membagikan takjub
di ruas kelana. serupa kerlip bintang yang tak letih
menyinar nama nama jalan yang ditulis dengan aksara
jawa. aku menemu suasana lama, palung silam bagi
sebuah penyebutan. seperti ada yang ketuk memanggil
nama dan raut leluhur, lirih dan perlahan, mengirimkan
artefak adab dan wiweka tutur.

/4/
sepeda motor menyemut mengantarkan mereka yang
dikuyupi asa. di sekitar becak dan andong, mobil dan
bus kota, melintasi aneka gugusan panorama, juga
ribuan wajah bersahaja. taman taman yang ramah
mengulurkan sambut, dalam degup yang tak pernah
redup. blangkon dan keris ditata berbaris, kain batik
dan surjan dipajang lebar, gudeg dan bakpia saling
berjajar, tak pernah berebut gelar: siapa yang paling
manis. karena rasa bergayut pada akar rahasia.

/5/
barisan kios dan toko adalah gua gua di kekinian
untuk menjenguk rongga sejarah, situs perniagaan
dengan bincang bertukar angka menawar kerelaan.
pun pedagang pasar dan kaki lima mengukir gegap,
membaur mencipta lagu yang dinyanyikan pengamen
dari kawah cakrawala. kerumun cuap di angkringan
kian nyaring, menebarkan improvisasi senandung
setelah malam mencerna petualangan nasi kucing.

/6/
kaset wayang kulit dan gending gamelan dengan lambat
mengisahkan negeri gemah ripah, turunnya wahyu, canda
ria tembang, juga peperangan yang masih saja betah
bersemayam di dalam bilik pesona. mana ksatria,
sementara beragam wajah satria dan raksasa saling
menari,
bersimpang tubruk, di kelir pengharapan. tak usai usai
irama menyusuri rute harmoni, seperti menuju ke sungai
negeri dongeng, percik haru rindu di masa lalu.

/7/
candi candi di kejauhan zaman, masih terus kirimkan
catatan pengiring prasasti. istana raja di jantung kota
masih berdegup, dalam berbagai krida tarian angin dan
perubahan iklim. meski kadang kemarau terlalu dingin
atau hujan salah musim, mereka tak sungkan menggugah
memori, tentang santun dan bijak gerak dinamika, kadang
juga pijar metafisika. di hari hari yang semakin digital,
tak surut mereka dalam menyorot terang bagi kemuliaan
di kemudian. keseimbangan arif kata, eling dan waspada,
alam kecil alam besar, ikrar sukma putih debar.

/8/
lalu aku teringat umbu. kuda putih dari sebuah padang
sabana, yang tak berandong. ia yang menarik puisi dan
menaburkan mantra jernih pada para pejalan sunyi. juga
kepada para teruna yang menambang sari kedalaman di
relung kediaman. setiap kata akan menjelma saung,
sebagai wahana menyuarakan khidmat cinta yang kidung,
semesta pendakian getar menuju makrifat agung.

/9/
kotamu telah menjadi lanskap kelahiran kedua bagi para
kembara. karena air kotamu manjur mengusir dahaga,
mengisi pembuluh, menciumi ruh. ia mewarnai urat nadi
pemaknaan hayat, menjelma rimbun ranum kenang juang
yang senantiasa nyala, tak pernah habis dijamahi usia.

2012

Sumber: Elegi-Elegi Yogya (DIVA Press, 2024)

Analisis Puisi:

Puisi "Sepanjang Nadi Yogyakarta" karya Budhi Setyawan merupakan puisi panjang yang memotret Kota Yogyakarta bukan hanya sebagai sebuah wilayah geografis, tetapi sebagai ruang hidup yang menyimpan sejarah, kebudayaan, pendidikan, perjuangan, dan nilai-nilai spiritual. Penyair mengajak pembaca menelusuri denyut kehidupan kota melalui berbagai simbol khas Yogyakarta, mulai dari Tugu, Merapi, Malioboro, becak, andong, angkringan, gamelan, keraton, hingga candi-candi yang menjadi saksi perjalanan bangsa.

Puisi ini menunjukkan bahwa Yogyakarta adalah kota yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Kota ini digambarkan sebagai tempat lahirnya kenangan, ruang belajar kehidupan, sekaligus rumah bagi para pencari makna.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kecintaan terhadap Yogyakarta sebagai pusat sejarah, budaya, perjuangan, dan perjalanan spiritual manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang identitas budaya, pelestarian tradisi, nasionalisme, perjalanan hidup, pendidikan, dan hubungan manusia dengan sejarah.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan penyair menyusuri berbagai sudut Yogyakarta yang dipenuhi jejak sejarah dan kebudayaan. Setiap bagian puisi menghadirkan potongan-potongan kehidupan kota yang membentuk identitas Yogyakarta.

Penyair menggambarkan Tugu Yogyakarta sebagai simbol perjuangan, Merapi sebagai penjaga kota, lampu jalan dan papan nama beraksara Jawa sebagai pengingat warisan budaya, serta kehidupan masyarakat yang berlangsung di sekitar becak, andong, pasar, angkringan, dan pusat perdagangan.

Puisi juga menghadirkan kekayaan seni melalui wayang kulit, gamelan, tarian, hingga Keraton Yogyakarta yang tetap menjaga nilai-nilai luhur di tengah perkembangan zaman digital. Pada bagian akhir, penyair mengenang sosok "Umbu"—yang dapat dipahami sebagai rujukan kepada penyair Umbu Landu Paranggi—sebagai figur yang memberi inspirasi bagi dunia sastra Yogyakarta. Penutup puisi menegaskan bahwa Yogyakarta telah menjadi "kelahiran kedua" bagi banyak orang yang datang untuk belajar, berkarya, dan menemukan makna kehidupan.

Makna Tersirat

Puisi ini mengandung banyak makna tersirat.
  • Pertama, Yogyakarta bukan sekadar kota, melainkan simbol ruang pembentukan karakter dan kebudayaan. Siapa pun yang hidup dan belajar di kota ini akan memperoleh pengalaman yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.
  • Kedua, Tugu, Merapi, keraton, candi, dan berbagai simbol budaya menunjukkan bahwa sejarah selalu hidup dalam kehidupan masyarakat masa kini. Masa lalu tidak ditinggalkan, tetapi menjadi fondasi bagi masa depan.
  • Ketiga, kehidupan sederhana yang tergambar melalui becak, angkringan, pedagang kaki lima, dan gudeg menunjukkan bahwa kekuatan Yogyakarta bukan hanya terletak pada bangunan bersejarah, tetapi juga pada kehidupan masyarakatnya yang ramah dan bersahaja.
  • Keempat, penyebutan "Umbu" menjadi simbol penghormatan kepada dunia sastra dan tradisi intelektual yang tumbuh subur di Yogyakarta. Puisi dipandang sebagai jalan menuju kedalaman batin dan kebijaksanaan.
  • Kelima, ungkapan bahwa air kota "menciumi ruh" menyiratkan bahwa Yogyakarta memberikan pengaruh spiritual dan intelektual yang mendalam bagi siapa saja yang pernah hidup di dalamnya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, yaitu:
  • Warisan budaya dan sejarah harus dijaga sebagai identitas bangsa.
  • Kemajuan zaman tidak boleh menghilangkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
  • Kesederhanaan masyarakat merupakan kekayaan yang patut dihargai.
  • Seni, sastra, dan budaya memiliki peran penting dalam membentuk karakter manusia.
  • Kehidupan akan menjadi lebih bermakna apabila manusia mampu belajar dari sejarah sekaligus tetap terbuka terhadap perubahan.
Puisi "Sepanjang Nadi Yogyakarta" karya Budhi Setyawan merupakan ode bagi Yogyakarta sebagai kota yang menyatukan sejarah, budaya, perjuangan, seni, dan spiritualitas. Melalui perjalanan yang melintasi berbagai ikon kota, penyair menunjukkan bahwa Yogyakarta bukan hanya tempat untuk dikunjungi, tetapi juga ruang untuk belajar, mengenang, dan menemukan makna kehidupan.

Puisi ini mengajak pembaca untuk menghargai warisan budaya, menjaga nilai-nilai luhur, serta menjadikan sejarah dan tradisi sebagai sumber inspirasi dalam menghadapi kehidupan yang terus berubah.

Budhi Setyawan
Puisi: Sepanjang Nadi Yogyakarta
Karya: Budhi Setyawan

Biodata Budhi Setyawan:
  • Budhi Setyawan lahir pada tanggal 9 Agustus 1969 di Purworejo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.