Suara Orang Pedalaman
"batang tajunjung, batang sasangga
daunnya maharing langit, di langit bajunjung kaca
turunan segenap leluhur di kukus manyan"
dari hutan-hutan bertumbangan
gunung dan bukit yang runtuh
kami orang-orang pedalaman
menjerit ke setiap penjuru kesaksian
meneriakkan perampasan dan perebutan
penggusuran dan pembongkaran
gaungan mesin menggetarkan balai-balai
dan menumbangkan tiang-tiang campan
harapan anak cucu orang pedalaman
lalaya tak bergerisik
sedangkan bau kemenyan merebak
mengirimkan jeritan orang pedalaman
ke setiap hati pembantai dan penjarah belantara
semalam suntuk berterang rembulan dan bersuluh damar
orang-orang pedalaman batandik menapaki rampatai
mengusir amuk sangkala
simbah keringat membasuh malam
mengusir bala dan marabahaya
segenap hajat ditunaikan seiring harapan
orang-orang pedalaman terus bersuara
menyuarakan perampasan rahim tanah ulayat
Balangan, 2015
Sumber: Suara Orang Pedalaman (Tahura Media, 2016)
Analisis Puisi:
Puisi "Suara Orang Pedalaman" karya Fahmi Wahid merupakan puisi kritik sosial dan ekologis yang menyuarakan penderitaan masyarakat adat akibat kerusakan lingkungan dan perampasan tanah ulayat. Melalui diksi yang kaya dengan unsur budaya Dayak Kalimantan, penyair menghadirkan suara kolektif masyarakat pedalaman yang berjuang mempertahankan hutan, tanah leluhur, serta identitas budaya mereka dari ancaman eksploitasi.
Puisi ini tidak hanya berbicara mengenai kerusakan alam, tetapi juga tentang hilangnya ruang hidup, tradisi, dan masa depan generasi penerus. Dengan simbol-simbol adat dan alam, penyair mengajak pembaca memahami bahwa hutan bagi masyarakat pedalaman bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan bagian dari kehidupan, sejarah, dan spiritualitas.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjuangan masyarakat adat mempertahankan tanah ulayat, hutan, dan warisan leluhur dari perampasan serta kerusakan lingkungan. Selain itu, puisi ini mengangkat tema keadilan sosial, pelestarian lingkungan, penghormatan terhadap budaya lokal, hak masyarakat adat, serta perlawanan terhadap eksploitasi alam yang mengorbankan kehidupan manusia.
Puisi ini bercerita tentang jeritan masyarakat pedalaman yang kehilangan hutan dan tanah leluhur akibat pembalakan, penggusuran, serta perebutan wilayah adat.
Pada bagian awal, penyair menghadirkan mantra atau ungkapan adat yang menggambarkan hubungan spiritual antara manusia, leluhur, dan alam. Setelah itu, suasana berubah menjadi gambaran kehancuran: hutan ditebang, gunung dirusak, dan masyarakat kehilangan tempat hidupnya.
Penyair kemudian menyuarakan berbagai bentuk ketidakadilan, mulai dari perampasan tanah, penggusuran, hingga pembongkaran wilayah adat. Kehadiran mesin-mesin besar menjadi simbol kekuatan industri yang menghancurkan rumah, balai adat, dan harapan generasi mendatang.
Meski demikian, masyarakat pedalaman tidak menyerah. Mereka tetap menjalankan ritual adat, memohon perlindungan leluhur, serta terus menyuarakan hak mereka atas tanah ulayat yang dirampas.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kerusakan hutan bukan hanya menghancurkan alam, tetapi juga merampas identitas, budaya, dan kehidupan masyarakat adat.
Ungkapan "rahim tanah ulayat" menjadi simbol yang sangat kuat. Rahim merupakan tempat lahirnya kehidupan, sehingga ketika tanah ulayat dirampas, yang hilang bukan hanya lahan, tetapi juga sumber kehidupan, sejarah, dan keberlangsungan generasi berikutnya.
Puisi ini juga menyampaikan kritik terhadap pembangunan yang mengabaikan hak-hak masyarakat adat. Kemajuan yang hanya diukur dari eksploitasi sumber daya alam justru melahirkan penderitaan bagi mereka yang selama ini hidup selaras dengan alam.
Di sisi lain, ritual adat, kemenyan, damar, dan doa-doa leluhur menunjukkan bahwa masyarakat pedalaman tetap mempertahankan nilai-nilai budaya sebagai bentuk perlawanan sekaligus harapan.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Hutan harus dijaga karena merupakan sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk lainnya.
- Hak masyarakat adat atas tanah ulayat perlu dihormati dan dilindungi.
- Pembangunan hendaknya memperhatikan keadilan sosial serta kelestarian lingkungan.
- Budaya dan tradisi leluhur merupakan warisan yang harus dipertahankan.
- Jangan mengorbankan kehidupan masyarakat demi kepentingan ekonomi sesaat.
- Suara masyarakat kecil harus didengar dalam setiap kebijakan yang menyangkut lingkungan dan tanah adat.
Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap persoalan ekologis sekaligus menghargai keberadaan masyarakat adat sebagai penjaga alam.
Puisi "Suara Orang Pedalaman" karya Fahmi Wahid merupakan karya sastra yang menyuarakan perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan tanah ulayat, hutan, dan warisan budaya mereka. Melalui perpaduan simbol alam, tradisi, dan spiritualitas, penyair menyampaikan kritik tajam terhadap perusakan lingkungan serta perampasan hak-hak masyarakat pedalaman.
Puisi ini mengingatkan bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan, budaya, dan masa depan generasi yang akan datang.
Karya: Fahmi Wahid
Biodata Fahmi Wahid:
- Fahmi Wahid lahir pada tanggal 3 Agustus 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.