Puisi: Suatu Waktu Aku Tiba di Rotterdam (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi "Suatu Waktu Aku Tiba di Rotterdam" karya Wayan Jengki Sunarta mengajarkan bahwa cinta tidak hanya hidup dalam pertemuan, tetapi juga dalam ...
Suatu Waktu Aku Tiba di Rotterdam

helena…helena…
suatu waktu aku ‘kan tiba di rotterdam
mengunjungimu dengan seluruh rindu
saat musim semi mekar demi janji

kita berperahu sejauh alur sungai
aku mendayung, terus mendayung
kau senyum menatap kawanan angsa
yang bercumbuan mesra
hingga lesung pipimu lembut merona
bikin aku gemas karena cinta

siapa yang bisa menduga
kau dan aku dipertemukan
sehelai kartu pos
bergambar bunga-bunga tulip merekah

sejenak kita abaikan waktu, sang guru
yang mengajari kita banyak rahasia itu

kita menyelinap ke gang-gang kota
mampir di kedai-kedai sederhana
minum anggur sambil saling membaca harapan
pada matamu yang bagai lautan tak terduga
pada mataku yang letih karena insomnia

bergandengan tangan kita susuri trotoar yang ramah
tawar menawar dengan pedagang-pedagang cindramata
kau tentu suka kalung manik-manik
yang dijulurkan si gadis gipsy itu

di lehermu yang ramping
yang lekuk dan likunya tak jenuh kujelajahi
manik-manik itu berkilau
lebih sempurna dari cahya senja
lebih sumringah dari semerbak bunga
hingga urat biru di bening kulitmu
jadi makin bermakna

helena…helena…
suatu waktu aku ‘kan tiba di rotterdam
sekuntum bunga margot kusematkan
di rambutmu yang blonda
dan kita bercinta dalam telaga
bagai sepasang angsa kasmaran

2006

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi "Suatu Waktu Aku Tiba di Rotterdam" karya Wayan Jengki Sunarta merupakan puisi liris yang memadukan romantisme, kerinduan, dan imajinasi perjalanan ke sebuah kota yang identik dengan kanal-kanal indah, musim semi, dan bunga tulip. Penyair menghadirkan kisah cinta yang tumbuh melampaui batas geografis, disatukan oleh harapan dan impian untuk bertemu.

Rotterdam tidak hanya hadir sebagai sebuah kota di Belanda, tetapi juga menjadi simbol ruang impian, tempat kerinduan menemukan pelabuhannya. Puisi ini mengajak pembaca menyelami pengalaman cinta yang hangat sekaligus penuh harapan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan cinta yang dipelihara oleh harapan akan sebuah pertemuan. Selain itu, puisi ini juga memuat tema-tema pendukung, antara lain:
  • romantisme lintas jarak;
  • perjalanan sebagai simbol pencarian cinta;
  • keindahan kenangan dan impian;
  • harapan yang terus hidup meskipun waktu berlalu.
Keseluruhan puisi memperlihatkan bahwa cinta mampu menghubungkan dua insan meskipun dipisahkan oleh ruang dan waktu.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang membayangkan suatu hari akan tiba di Rotterdam untuk menemui perempuan bernama Helena. Pertemuan itu telah lama diimpikan dan dipenuhi kerinduan yang mendalam.

Dalam angan-angannya, mereka menikmati musim semi, berperahu menyusuri sungai, menyaksikan angsa-angsa yang berenang berpasangan, berjalan menyusuri gang-gang kota, mengunjungi kedai-kedai kecil, hingga memilih cendera mata bersama.

Hubungan mereka berawal dari sesuatu yang sederhana, yaitu sehelai kartu pos bergambar bunga tulip. Dari benda kecil itu tumbuh harapan besar akan sebuah perjumpaan.

Pada bagian akhir, penyair membayangkan menyematkan sekuntum bunga di rambut Helena sebelum keduanya larut dalam kebahagiaan cinta. Seluruh pengalaman tersebut mungkin belum benar-benar terjadi, tetapi hidup sepenuhnya dalam ruang imajinasi dan harapan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa cinta sering kali bertahan karena harapan dan imajinasi yang terus dipelihara. Selain itu, puisi ini mengandung beberapa makna lain, yaitu:
  • kerinduan dapat menjadi sumber kekuatan untuk terus bermimpi;
  • perjalanan fisik sekaligus merupakan perjalanan batin;
  • pertemuan yang indah sering kali diawali oleh komunikasi sederhana;
  • cinta mampu mengubah tempat asing menjadi terasa akrab;
  • waktu tidak selalu menjadi penghalang bagi harapan.
Puisi ini menunjukkan bahwa kebahagiaan terkadang lahir lebih dahulu dalam imajinasi sebelum menjadi kenyataan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, antara lain:
  • Jagalah harapan meskipun pertemuan masih berupa impian.
  • Cinta tumbuh melalui perhatian, kenangan, dan komunikasi yang tulus.
  • Nikmatilah perjalanan hidup bersama orang yang dicintai.
  • Jangan berhenti bermimpi untuk mewujudkan kebahagiaan.
  • Keindahan hidup sering ditemukan dalam momen-momen sederhana yang dijalani bersama.
Pesan utama puisi ini adalah bahwa cinta sejati selalu memberi alasan untuk berharap, menunggu, dan terus melangkah menuju pertemuan.

Puisi "Suatu Waktu Aku Tiba di Rotterdam" karya Wayan Jengki Sunarta merupakan puisi romantis yang memadukan kerinduan, perjalanan, dan impian dalam balutan citraan yang indah. Rotterdam hadir bukan sekadar sebagai latar geografis, tetapi sebagai simbol tujuan cinta yang terus diharapkan.

Puisi ini mengajarkan bahwa cinta tidak hanya hidup dalam pertemuan, tetapi juga dalam harapan, kenangan, dan keberanian untuk terus memelihara impian hingga suatu saat menjadi kenyataan.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Suatu Waktu Aku Tiba di Rotterdam
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.