Puisi: Suluk Pohon-Pohon (Karya Aprinus Salam)

Puisi "Suluk Pohon-Pohon" karya Aprinus Salam menggambarkan pohon sebagai makhluk yang senantiasa memberi manfaat, bahkan setelah berubah menjadi ...
Suluk Pohon-Pohon

Dari tanah kembali ke Tuhan
Tapi aku kayu

            Melalui diam, dan bersama dedaunan
            Kulahirkan daun dan ranting
            Kau bertengger bak mahkota
            Yang kau pasang di kepala

            Atas tubuhku, akulah meja dan kursi
            rumah-rumah dengan dinding yang menjamur
            dan tiang-tiang yang goyang dicumbu rengat

            Di dapurmu, dihimpitan batu dan tembikar
            Mengabu diriku memasak makanan
            Tak mau aku menjadi hangus
            Pada hutan-hutan yang terbakar

            Bersama tegak, diriku tak bernama
            Buah-buah pun bergelantungan
            mencari jalannya sendiri
            sebab tubuhmu menerimaku dengan cepat
            Mengantarkan aku pulang kepada-Nya

            Pun ketika kau istirah, kau duduk bersama
            teduh pepohonan, pagar menyangsikan
            perasaan dan batas yang membuat jalan
            Jalan semua orang

Tapi aku kayu
Menjadi pohon tak berhingga
Biarlah Tuhan menamai diriku

Sumber: Suluk Bagimu Negeri (Gambang Buku Budaya, 2017)

Analisis Puisi:

Puisi "Suluk Pohon-Pohon" karya Aprinus Salam merupakan puisi reflektif yang memadukan unsur spiritual, alam, dan kemanusiaan. Kata suluk dalam judul merujuk pada perjalanan spiritual atau perenungan batin, sehingga sejak awal puisi ini mengajak pembaca melihat pohon bukan sekadar bagian dari alam, melainkan simbol kehidupan yang terus memberi manfaat tanpa mengharapkan balasan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pengabdian, siklus kehidupan, dan kepasrahan manusia kepada Tuhan melalui simbol pohon. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang hubungan manusia dengan alam, keikhlasan dalam memberi, serta makna kehidupan yang berujung kepada Sang Pencipta.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan hidup sebuah pohon yang terus memberikan manfaat bagi kehidupan. Pohon tidak hanya hidup di hutan, tetapi juga hadir dalam berbagai bentuk setelah menjadi kayu. Ia berubah menjadi meja, kursi, rumah, bahkan kayu bakar yang membantu manusia memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Meskipun mengalami perubahan bentuk dan fungsi, pohon tetap menjalankan perannya dengan ikhlas. Penyair juga menyampaikan kegelisahan terhadap kebakaran hutan yang menghancurkan kehidupan pohon secara sia-sia.

Pada bagian akhir, pohon digambarkan sebagai makhluk yang tidak membutuhkan kemasyhuran atau nama besar. Ia menyerahkan seluruh identitasnya kepada Tuhan, karena pada akhirnya hanya Tuhan yang berhak memberi makna sejati atas keberadaannya.

Makna Tersirat

Puisi ini mengandung sejumlah makna tersirat yang mendalam.
  • Pertama, pohon merupakan simbol keikhlasan. Ia terus memberi manfaat sejak hidup hingga setelah ditebang, tanpa meminta balasan.
  • Kedua, perubahan pohon menjadi kayu yang digunakan manusia melambangkan bahwa kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang memberi manfaat bagi orang lain.
  • Ketiga, ungkapan "Tak mau aku menjadi hangus pada hutan-hutan yang terbakar" merupakan kritik terhadap kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. Pohon ingin mati dengan memberi manfaat, bukan musnah karena bencana yang sebenarnya dapat dicegah.
  • Keempat, larik "Biarlah Tuhan menamai diriku" menunjukkan sikap rendah hati. Penyair menyiratkan bahwa manusia tidak perlu mengejar pengakuan dunia karena penilaian tertinggi berasal dari Tuhan.
  • Kelima, perjalanan dari tanah kembali kepada Tuhan mencerminkan siklus kehidupan yang bersifat spiritual. Semua makhluk berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, antara lain:
  • Jadilah pribadi yang bermanfaat bagi sesama, sebagaimana pohon yang terus memberi kehidupan.
  • Manusia hendaknya menjaga kelestarian alam dan tidak merusaknya demi kepentingan sesaat.
  • Keikhlasan merupakan nilai yang lebih penting daripada pengakuan atau popularitas.
  • Semua makhluk memiliki peran dalam kehidupan dan patut dihargai.
  • Pada akhirnya, seluruh kehidupan akan kembali kepada Tuhan, sehingga manusia perlu menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab dan kerendahan hati.
Puisi "Suluk Pohon-Pohon" karya Aprinus Salam merupakan puisi reflektif yang mengangkat nilai-nilai spiritual, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap alam melalui simbol pohon. Penyair menggambarkan pohon sebagai makhluk yang senantiasa memberi manfaat, bahkan setelah berubah menjadi kayu, sehingga menjadi teladan tentang keikhlasan dan pengabdian.

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang bermanfaat bagi sesama. Karya ini mengingatkan bahwa semua makhluk berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, sehingga manusia hendaknya menjalani hidup dengan rendah hati, menjaga alam, dan mengisi kehidupan dengan kebaikan.

Aprinus Salam
Puisi: Suluk Pohon-Pohon
Karya: Aprinus Salam
© Sepenuhnya. All rights reserved.