Puisi: Tan (Karya Tjahjono Widarmanto)

Puisi "Tan" karya Tjahjono Widarmanto adalah karya sastra yang mengeksplorasi tema tentang kematian, perubahan, sejarah, dan pandangan terhadap tubuh.
Tan (1)

sejak kanak-kanak aku selalu membayangkan
sebagai pengelana jauh yang tak butuh tubuh
tak pernah berencana kapan saat pergi
tak pernah mencatat kapan akan datang

sejak dilahirkan sebagai bayi aku tak pernah takut pada mati
sebab malaikat maut selalu duduk di pinggir ranjangku mendongeng
tentang kisah cinta romantik atau kisah para koboi
melecut kuda meringkik di padang sabana sambil menjentikkan pistol

sejak akrab berkawan dengan gelap petang dan malam
aku menjelma bayang-bayang beterbangan tak butuh tubuh
sebab tubuh tak sanggup penjarakan jiwa seperti anggapan orang dungu itu
yang menerka penjara bisa meringkihkan hasrat

tak ada malam yang kutakutkan setelah jadi kawan
mencatatkan apa yang mereka sebut: revolusi
padahal bagiku itu sekadar permainan petak umpet belaka

telah kutanggalkan tubuh yang tak lagi kubutuh
sebab itu aku hanya melengos tak peduli
saat kalian akan menanam jasadku di bawah pohon-pohon pisang
atau di dasar comberan sekalipun
: kalian terlalu dungu berharap warna merah jadi hitam di lumpur.

sejak aku tak butuh tubuh, aku paham
sejarah selalu lamban dan terlambat mencatat peristiwa!

Tan (2)

penjara-penjara itu hanya cangkang
yang tak bisa mengubah putih telor jadi hitam
tak bisa mengubah tumbuh sayap
tak sanggup jadi tirai penghalang mata nyalang

letup senapan dan panas mesiu
telah memahatmu dalam sejarah
walau kuburmu tanpa nisan
mustahil kaburkan ingatan

segenap aksara tak cukup menuliskannya
namun di setiap ingatan
kau telah pancangkan lonceng besar
berdentang menggelisahkan tidur panjang.

Tan (3)

kusimak bau rerumputan, semak dan lumpur tanah
sebab dari sanalah bisa dihafal kembali sejarah
yang lolos dari pengetahuan anak-anak sekolah
dan tak satu pun tukang kaba atau juru cerita meriwayatkan
sesuatu yang hilang sebelum sempat diberi nama

aku sudah mencoba menyapa kusno
: “terimalah warisan ini, lenguh dan derap langkah.”

tetapi mereka terlalu banyak mengeluh dan mencatat
lalu bermimpi bahwa revolusi bisa berjalan damai dan perlente

mereka juga tak pernah tahu
kompas yang patah jarumnya itu
telah kusimpan di saku celana

dan, betapa bodohnya mereka
saat mendekati senja di dingin yang ganjil
meletupkan pistol dan menguruk tubuhku

kompas yang patah jarumnya
yang kusimpan di saku celana itu
turut dihisap lumpur

mulai saat itulah, mata mereka yang dekil
tersuruk kehilangan mata angin.

Sumber: Tempo (5 April 2015)

Analisis Puisi:

Puisi "Tan" karya Tjahjono Widarmanto adalah karya sastra yang mengeksplorasi tema tentang kematian, perubahan, sejarah, dan pandangan terhadap tubuh. Dalam tiga bagian yang berbeda, puisi ini menyajikan refleksi mendalam tentang eksistensi manusia, perjalanan hidup, dan pengaruhnya terhadap persepsi terhadap kematian.

Tan (1)

Eksplorasi Identitas dan Kehidupan: Bagian pertama menggambarkan pemandangan tentang pengelana yang tidak terikat oleh tubuh. Ini menciptakan imaji tentang seseorang yang tidak merasa terikat oleh waktu atau rencana hidup. Penggambaran pengelana ini mencerminkan eksplorasi tentang identitas manusia dan perjalanan hidupnya.

Pertemanan dengan Gelap dan Kematian: Bagian ini menggambarkan hubungan yang erat dengan malam dan kematian. Kematian disimbolkan oleh malaikat maut yang mendongeng tentang cerita cinta dan petualangan. Ini menciptakan perasaan bahwa kematian adalah bagian yang akrab dan tidak menakutkan dalam hidup pengarang.

Permainan dan Revolusi: Puisi ini menyajikan pandangan bahwa peristiwa-peristiwa sejarah, seperti revolusi, sebenarnya hanya seperti permainan atau petak umpet. Ini menyoroti pandangan terhadap peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah yang terkadang hanya menjadi permainan untuk beberapa orang.

Tan (2)

Tahanan dan Kehilangan Identitas: Bagian kedua menciptakan gambaran tentang tahanan sebagai cangkang yang tidak mampu mengubah atau menghalangi perubahan yang sebenarnya. Ini mencerminkan pandangan bahwa meskipun seseorang mungkin berada dalam situasi sulit atau terikat, identitas dan jiwa tidak bisa sepenuhnya terjebak atau diubah oleh kondisi tersebut.

Kehidupan dan Kematian dalam Sejarah: Bagian ini menyoroti konsep keabadian dan perubahan melalui sejarah. Meskipun seseorang mungkin meninggal tanpa nisan atau pengakuan, jejak perjalanan hidupnya tetap ada dan tidak dapat dihapuskan dari ingatan kolektif.

Tan (3)

Merawat Kenangan dan Sejarah: Bagian ketiga mengeksplorasi kembali sejarah melalui aroma bau alam dan lingkungan. Ini menciptakan gambaran tentang hubungan yang mendalam antara manusia dan tanah serta bagaimana kenangan dan sejarah bisa dihidupkan kembali melalui indera penciuman.

Patahnya Kompas dan Ketidaktahuan: Bagian ini menunjukkan bahwa patahnya kompas dan pengetahuan yang kurang bisa menyebabkan ketidaktahuan manusia tentang arah dan tujuan sejarah. Ketidakmengertian terhadap arah ini tercermin dalam tindakan tragis yang diambil terhadap si pengarang.

Puisi "Tan" karya Tjahjono Widarmanto menyajikan refleksi yang dalam tentang kematian, perubahan, sejarah, dan persepsi terhadap tubuh. Melalui bahasa metafora yang kaya, puisi ini mengajak pembaca untuk merenung tentang arti hidup, identitas, dan bagaimana pandangan terhadap kematian dapat mempengaruhi tindakan dan persepsi manusia terhadap sejarah dan kehidupan.

Tjahjono Widarmanto
Puisi: Tan
Karya: Tjahjono Widarmanto

Biodata Tjahjono Widarmanto:
  • Tjahjono Widarmanto lahir pada tanggal 18 April 1969 di Ngawi, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.