Telunjuk-Telunjuk yang Menuding-nuding
Bergemalah suatu suara
: Ada sesuatu yang baru dalam ruangan ini
Adakah kalian tahu dari mana datangnya?
(Para penghuni ruangan ini
dengan kepala-kepala mereka yang tak terhitung
merunduk ke bumi
diam)
Bergemalah kembali suara itu
: Ada sesuatu yang bau dalam ruangan ini
Adakah mungkin sumbernya dari seluruh engkau?
(Para penghuni mendongakkan wajah-wajah
yang kaget dan merasa dituduh
dan kepala-kepala pun menggeleng-geleng)
Gema itu sekonyong meninggi
: Ada sesuatu yang bau dalam ruangan ini
Adakah sumber lain kecuali kalian?
(Para penghuni berlarian ke dalam diri
sambil bisik berbisik: toh bukan aku, mereka!
dan penuhlah udara dengan telunjuk-telunjuk
menuding-nuding
tuding-menuding
dan segera mampuslah keakraban dalam ruangan
ini)
Gema itu kemudian membelenggu seluruh pintu
: Pada saat ini semakin sesaklah ruang oleh bau
: Bau kalian? Dan ini pasti!
(Telunjuk-telunjuk yang menuding-nuding
menggelepar ke dalam nafsu kepalan-kepalan tinju
serang-menyerang!
Dalam sekejap lantai ruangan ini
telah menjadi ranjang pelacuran
di mana tubuh-tubuh yang letih bersetubuh dalam dengki
di mana lengan-lengan pucat berpelukan dalam darah
sampai datang suatu saat
suara-suara parau mereka memancing jawab
atas tanya
: Siapakah engkau, hei suara yang demikian
mau tahu
Siapakah engkau, hei gema yang demikian jauh
merusak ruang ini lewat bencanamu?)
Tapi gema suara itu telah mengecil
surut ke dalam ruang-ruang kecil
di diri yang sendiri
para penghuni
Sumber: Horison (November, 1986)
Analisis Puisi:
Puisi “Telunjuk-Telunjuk yang Menuding-nuding” karya Rahman Arge merupakan puisi sosial yang menggambarkan konflik manusia akibat kebiasaan menyalahkan orang lain tanpa melakukan introspeksi diri. Dengan menggunakan simbol ruangan, suara, bau, dan telunjuk yang menunjuk, penyair menghadirkan kritik terhadap perilaku manusia yang mudah menuduh, mencari kambing hitam, dan kehilangan rasa persaudaraan.
Puisi ini memiliki kekuatan pada penggunaan simbol-simbol yang tajam. "Ruangan" bukan hanya tempat fisik, melainkan gambaran kehidupan bersama, masyarakat, atau lingkungan manusia. Sementara "bau" menjadi lambang masalah, kesalahan, atau keburukan yang sebenarnya berasal dari manusia itu sendiri.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kritik sosial terhadap sikap manusia yang suka menyalahkan orang lain dan enggan mengakui kesalahan diri sendiri. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema:
- konflik sosial;
- hilangnya kepercayaan antarmanusia;
- egoisme;
- kehancuran hubungan akibat prasangka dan tuduhan.
Puisi ini bercerita tentang sekelompok penghuni ruangan yang menghadapi suatu masalah berupa "bau" yang tidak menyenangkan. Ketika suara mempertanyakan asal bau tersebut, para penghuni ruangan tidak langsung melakukan introspeksi, melainkan saling mencurigai dan menuduh.
Pada awalnya, semua penghuni hanya diam dan menunduk. Namun, ketika tuduhan mulai diarahkan kepada mereka, masing-masing berusaha melepaskan diri dengan mengatakan bahwa sumber masalah bukan berasal dari dirinya, melainkan dari orang lain.
Akibat kebiasaan saling menuding, hubungan di antara mereka pun hancur. Keakraban berubah menjadi permusuhan. Telunjuk yang seharusnya hanya menjadi alat menunjuk berubah menjadi simbol kebencian dan pertikaian.
Pada akhirnya, suara yang menjadi sumber pertanyaan tersebut semakin mengecil dan kembali masuk ke ruang batin masing-masing penghuni. Hal ini menunjukkan bahwa masalah sebenarnya bukan hanya berasal dari luar, tetapi berada dalam diri setiap manusia.
Makna Tersirat
Puisi ini memiliki makna tersirat yang kuat tentang kehidupan sosial manusia. Beberapa makna yang dapat dipahami antara lain:
- Manusia sering lebih mudah mencari kesalahan orang lain daripada mengakui kekurangan diri sendiri.
- Permasalahan bersama tidak akan selesai jika setiap orang hanya saling menyalahkan.
- Tuduhan tanpa introspeksi dapat menghancurkan hubungan dan persatuan.
- Keburukan yang ada dalam lingkungan sering kali merupakan hasil dari perilaku bersama.
- Manusia perlu berani melihat dirinya sendiri sebelum menunjuk kesalahan orang lain.
Simbol telunjuk yang menuding-nuding menjadi gambaran sikap manusia yang gemar menghakimi tanpa kesadaran bahwa dirinya juga mungkin menjadi bagian dari masalah.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, yaitu:
- Jangan mudah menuduh orang lain sebelum melakukan introspeksi diri.
- Masalah bersama harus diselesaikan dengan kesadaran dan tanggung jawab bersama.
- Sikap saling menyalahkan hanya akan memperbesar konflik.
- Kejujuran terhadap diri sendiri merupakan langkah awal untuk memperbaiki keadaan.
- Persatuan dan keakraban dapat hancur apabila manusia dikuasai ego dan kebencian.
Melalui puisi ini, Rahman Arge mengingatkan bahwa manusia harus berhenti mengarahkan telunjuk kepada orang lain dan mulai melihat ke dalam dirinya sendiri.
Puisi “Telunjuk-Telunjuk yang Menuding-nuding” karya Rahman Arge merupakan kritik tajam terhadap perilaku manusia yang gemar mencari kesalahan orang lain. Melalui simbol ruangan, bau, dan telunjuk, penyair menunjukkan bahwa kehancuran hubungan sosial sering kali bermula dari sikap saling menuduh dan hilangnya kesediaan untuk bercermin.
Puisi ini mengajarkan bahwa sebelum menunjuk kesalahan orang lain, manusia perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah dirinya juga menjadi bagian dari masalah tersebut? Dengan demikian, puisi ini bukan hanya menggambarkan konflik sosial, tetapi juga menjadi ajakan untuk membangun kesadaran, tanggung jawab, dan kejujuran terhadap diri sendiri.
Puisi: Telunjuk-Telunjuk yang Menuding-nuding
Karya: Rahman Arge
Biodata Rahman Arge:
- Rahman Arge (Abdul Rahman Gega) lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 17 Juli 1935.
- Rahman Arge meninggal dunia pada tanggal 10 Agustus 2015 (pada usia 80).
- Edjaan Tempo Doeloe: Rachman Arge.