Puisi: Tembang Kerinduan (Karya Fridolin Ukur)

Puisi "Tembang Kerinduan" karya Fridolin Ukur mengajarkan bahwa cinta, pengabdian, dan pengampunan adalah warisan yang akan tetap hidup, bahkan ...
Tembang Kerinduan
Ulang Tahun ke-107
Gereja Batak Karo Protestan
Retreat Center - Suka Makmur
18 April 1997

        Raut wajahmu masih seperti dulu, Bunda!
        Seperti gunung si piso-piso,
        keningnya tak pernah mengerut
        walaupun ribuan pisau berkarat
        mencabik-cabik kehijauan yang terhampar

Raut wajahmu masih seperti dulu, Bunda!
Ketika benih cinta
mekar di rahimmu 107 tahun lalu;
seperti air terjun si piso-piso
tak renta dimakan zaman
setia memberi kesejukan
bagi perbatasan bumi karo

        Pada awalnya kau bertanya
        pada tangan-tangan putih
        yang mengajakmu berjalan
        menelusuri lembah dan ngarai
        bebukitan dan gunung-gunung
        menjelajahi liku-liku tanah karo

Kini kau tak bertanya lagi,
kau bercerita
pada putra-putrimu
anak-anak bangsa,
tentang cinta bermekaran dari rahimmu
tentang pengampunan tercurah dari sorga!

        Hari ini aku datang menyeret kakiku yang renta
        ingin menyanyi di hari ulang tahunmu,
        walaupun sumbang, tapi
        inilah senandung kasih
        inilah madah puja
        inilah kidung cinta
        yang tak pernah layu!

Sumber: Wajah Cinta (2000)

Analisis Puisi:

Puisi "Tembang Kerinduan" karya Fridolin Ukur merupakan puisi yang sarat dengan rasa hormat, cinta, dan kerinduan terhadap sosok "Bunda" yang menjadi simbol kasih, keteguhan, dan pengabdian. Melalui penggambaran alam khas Tanah Karo, seperti Gunung dan Air Terjun Sipiso-piso, penyair membangun hubungan erat antara keindahan alam, sejarah, dan perjalanan kehidupan seseorang yang dihormati.

Puisi ini tidak hanya mengungkapkan rasa rindu secara personal, tetapi juga memuat penghargaan terhadap perjalanan panjang pengabdian, nilai kasih, serta semangat yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan, penghormatan, dan penghargaan terhadap sosok yang telah mengabdikan hidupnya demi kasih, pengorbanan, dan kemanusiaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang cinta kasih, pengabdian, keteguhan, sejarah, iman, serta warisan nilai-nilai kehidupan.

Puisi ini bercerita tentang seorang penyair yang mengenang sosok "Bunda" dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang. Sosok tersebut digambarkan tetap tegar dan penuh cinta meskipun telah melewati perjalanan hidup yang panjang.

Penyair membandingkan keteguhan sang Bunda dengan Gunung dan Air Terjun Sipiso-piso yang tetap kokoh dan memberi kesejukan sepanjang zaman. Melalui perumpamaan tersebut, pembaca diajak melihat bahwa kasih dan pengabdian sejati tidak pernah pudar oleh waktu.

Selanjutnya, penyair menceritakan bagaimana sang Bunda dahulu memulai perjalanan dengan penuh pertanyaan, lalu berkembang menjadi pribadi yang membimbing banyak orang serta mewariskan cinta dan pengampunan kepada anak-anak bangsa.

Pada bagian akhir, penyair datang dengan segala kerendahan hati untuk mempersembahkan sebuah tembang sederhana sebagai ungkapan rasa syukur, penghormatan, dan kerinduan yang tidak pernah layu.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kasih sejati dan pengabdian yang tulus akan terus hidup dalam ingatan banyak orang. Seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani sesama akan meninggalkan jejak yang melampaui usia dan waktu.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa perjalanan hidup yang panjang bukan sekadar tentang bertambahnya usia, melainkan tentang bagaimana seseorang menanamkan cinta, pengampunan, dan harapan kepada generasi berikutnya.

Selain itu, alam dijadikan simbol keteguhan. Sebagaimana gunung tetap berdiri dan air terjun terus mengalir, demikian pula kasih yang tulus akan selalu memberi kehidupan.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Amanat atau pesan yang disampaikan dalam puisi ini antara lain:
  • Hargailah orang-orang yang telah mengabdikan hidupnya demi sesama.
  • Kasih sayang dan pengampunan merupakan warisan yang paling berharga.
  • Keteguhan dalam menghadapi berbagai cobaan akan melahirkan keteladanan.
  • Jangan melupakan sejarah dan jasa orang-orang yang telah memberi manfaat bagi banyak orang.
  • Ungkapkan rasa syukur dan penghormatan kepada mereka yang telah menjadi inspirasi dalam kehidupan.
Puisi "Tembang Kerinduan" karya Fridolin Ukur merupakan puisi penghormatan yang mengangkat nilai kasih, pengabdian, dan keteladanan melalui sosok "Bunda". Dengan memanfaatkan keindahan alam Tanah Karo sebagai simbol keteguhan dan kesejukan, penyair menghadirkan refleksi tentang pentingnya mengenang jasa serta mewariskan nilai-nilai kemanusiaan kepada generasi berikutnya.

Puisi ini mengajarkan bahwa cinta, pengabdian, dan pengampunan adalah warisan yang akan tetap hidup, bahkan ketika waktu terus berjalan.

Fridolin Ukur
Puisi: Tembang Kerinduan
Karya: Fridolin Ukur

Biodata Fridolin Ukur:
  • Fridolin Ukur lahir di Tamiang Layang, Kalimantan Tengah, pada tanggal 5 April 1930.
  • Fridolin Ukur meninggal di Jakarta, pada tanggal 26 Juni 2003 (pada umur 73 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.