Puisi: Teriakan Bumi (Karya Fahmi Wahid)

Puisi "Teriakan Bumi" karya Fahmi Wahid menjadi pengingat bahwa bumi tidak dapat terus dieksploitasi tanpa batas. Jika manusia terus mengabaikan ...

Teriakan Bumi

Sekian ribu abad
kau injak punggung bumi
mendulangi hidup
di rahim tanah

Tapi mendengarkah
setiap teriak parau
dalam jantung bumi
yang berkubang
sungai berdarah

Bumiku berteriak
melolong panjang:
meminta tolong

Sumber: Banjarmasin Post (4 Februari 2018)

Analisis Puisi:

Puisi "Teriakan Bumi" karya Fahmi Wahid merupakan puisi bertema lingkungan yang menyampaikan kritik terhadap perilaku manusia dalam mengeksploitasi alam. Puisi ini memiliki daya ungkap yang kuat melalui simbol-simbol seperti punggung bumi, rahim tanah, jantung bumi, dan sungai berdarah. Simbol-simbol tersebut menghadirkan gambaran tentang bumi sebagai makhluk hidup yang mengalami penderitaan akibat ulah manusia.

Melalui pilihan kata yang lugas dan emosional, penyair mengajak pembaca menyadari bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Sebaliknya, bumi memiliki "suara" yang selama ini diabaikan. Teriakan itu menjadi metafora atas berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi akibat keserakahan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerusakan lingkungan akibat eksploitasi alam serta ajakan untuk menjaga kelestarian bumi. Selain tema utama tersebut, puisi ini juga mengangkat beberapa tema pendukung, yaitu:
  • Hubungan manusia dengan alam.
  • Kritik terhadap keserakahan manusia.
  • Kepedulian terhadap lingkungan.
  • Penderitaan bumi.
  • Tanggung jawab ekologis.
Puisi ini bercerita tentang hubungan panjang antara manusia dan bumi. Selama ribuan tahun manusia memanfaatkan bumi sebagai tempat hidup dan sumber penghidupan. Mereka menggali hasil bumi, mengolah tanah, dan mengambil berbagai kekayaan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Namun, di balik aktivitas tersebut, bumi sesungguhnya mengalami penderitaan. Penyair mempertanyakan apakah manusia pernah benar-benar mendengar jeritan bumi yang terluka. Gambaran "jantung bumi yang berkubang" dan "sungai berdarah" menunjukkan kondisi alam yang rusak akibat eksploitasi dan pencemaran.

Pada bagian akhir, bumi digambarkan berteriak dan melolong meminta pertolongan. Seruan itu menjadi peringatan bahwa kerusakan lingkungan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan membutuhkan kepedulian semua pihak.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa alam memiliki batas kemampuan untuk menanggung eksploitasi manusia. Ketika keseimbangan lingkungan terus dirusak, bumi akan memberikan tanda-tanda berupa berbagai bencana dan kerusakan.

Selain itu, puisi ini juga mengandung beberapa makna lain, yaitu:
  • Manusia sering menikmati hasil alam tanpa memikirkan dampak jangka panjang.
  • Kerusakan lingkungan pada akhirnya akan kembali merugikan manusia sendiri.
  • Bumi adalah tempat kehidupan yang harus dirawat, bukan dieksploitasi secara berlebihan.
  • Kepedulian terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
  • Pembangunan seharusnya tetap memperhatikan keberlanjutan alam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Jagalah bumi karena alam merupakan sumber kehidupan manusia.
  • Jangan mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.
  • Tingkatkan kepedulian terhadap kerusakan lingkungan sebelum semuanya terlambat.
  • Manusia harus hidup selaras dengan alam, bukan merusaknya.
  • Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk mewariskan lingkungan yang sehat kepada generasi mendatang.
Puisi "Teriakan Bumi" karya Fahmi Wahid merupakan puisi yang menyampaikan kritik tajam terhadap eksploitasi alam dan mengajak manusia untuk kembali menghargai bumi sebagai sumber kehidupan. Melalui simbol-simbol yang kuat, penyair memperlihatkan bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan fisik, tetapi juga persoalan moral dan kemanusiaan.

Puisi ini menjadi pengingat bahwa bumi tidak dapat terus dieksploitasi tanpa batas. Jika manusia terus mengabaikan jeritannya, maka dampaknya akan kembali dirasakan oleh manusia sendiri.

Fahmi Wahid
Puisi: Teriakan Bumi
Karya: Fahmi Wahid

Biodata Fahmi Wahid:
  • Fahmi Wahid lahir pada tanggal 3 Agustus 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.