Puisi: Terjebak Sunyi Sendiri (Karya Sholihul Mubarok)

Puisi "Terjebak Sunyi Sendiri" karya Sholihul Mubarok menggambarkan bagaimana kehilangan dapat berkembang menjadi kesepian yang menguasai seluruh ...

Terjebak Sunyi Sendiri

jika arah tak lagi menuturkan wajah
maka aku menetap sebagai perangkap

gulita terlalu acap menggembalakan gulana
menitipkan jejak duka pada akar yang mencengkeram dada
dahan-dahan membahasakan beban di kepala
menjadi pasak bagi tiap jengkal kegelisahan
ranting mengutus daun agar cahaya tak sampai ke tanah

kau tak akan kembali
telanjur rimbun sunyi yang dahulu kau tanami

Gresik, 29 Mei 2026

Analisis Puisi:

Puisi "Terjebak Sunyi Sendiri" karya Sholihul Mubarok merupakan puisi reflektif yang menggambarkan pengalaman batin seseorang yang tenggelam dalam kesepian dan kehilangan. Pilihan diksi yang padat dan simbolis membuat puisi ini tidak sekadar berbicara tentang kesendirian, tetapi juga tentang luka yang telah berakar, harapan yang tertutup, dan kenyataan bahwa tidak semua yang pergi akan kembali.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesepian, kehilangan, dan pergulatan batin manusia dalam menghadapi kenyataan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang keputusasaan, keterasingan, penantian yang sia-sia, serta perubahan batin setelah ditinggalkan seseorang.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa luka yang tidak disembuhkan akan terus tumbuh dan menguasai kehidupan seseorang hingga menjadi bagian dari dirinya sendiri.

Ungkapan:

"aku menetap sebagai perangkap"

menunjukkan bahwa terkadang manusia tidak hanya terjebak oleh keadaan, tetapi juga oleh pikirannya sendiri.

Gulita yang menggembalakan gulana menggambarkan bagaimana kesedihan dapat terus berkembang apabila dibiarkan menguasai hati.

Akar, dahan, dan ranting melambangkan proses bertumbuhnya luka. Semakin lama dipendam, luka itu semakin kuat mencengkeram dan semakin sulit ditembus oleh cahaya harapan.

Larik penutup:

"telanjur rimbun sunyi yang dahulu kau tanami."

mengandung makna bahwa seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita dapat meninggalkan jejak emosional yang terus berkembang, bahkan setelah ia pergi.

Secara lebih luas, puisi ini mengingatkan bahwa kesepian bukan hanya akibat kehilangan orang lain, tetapi juga akibat kegagalan melepaskan kenangan yang terus dipelihara.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, yaitu:
  • Jangan membiarkan kesedihan terus bertumbuh hingga menguasai kehidupan.
  • Belajarlah menerima kenyataan bahwa tidak semua orang yang pergi akan kembali.
  • Hadapilah kehilangan dengan keberanian untuk melanjutkan hidup.
  • Jangan terjebak dalam kenangan yang menghalangi datangnya harapan baru.
  • Rawat hati agar tidak dipenuhi "rimbun sunyi" yang menghalangi cahaya kehidupan.
Puisi "Terjebak Sunyi Sendiri" karya Sholihul Mubarok merupakan puisi reflektif yang menggambarkan bagaimana kehilangan dapat berkembang menjadi kesepian yang menguasai seluruh ruang batin. Dengan memanfaatkan metafora hutan yang gelap, akar yang mencengkeram, serta cahaya yang tertutup daun, penyair menghadirkan gambaran emosional yang kuat tentang proses manusia menghadapi luka.

Puisi ini berhasil menyampaikan bahwa kesedihan akan terus tumbuh apabila dipelihara. Sebaliknya, penerimaan terhadap kenyataan menjadi langkah penting agar cahaya harapan dapat kembali menembus kegelapan hati.

Sholihul Mubarok
Puisi: Terjebak Sunyi Sendiri
Karya: Sholihul Mubarok

Biodata Sholihul Mubarok:

Sholihul Mubarok lahir pada tanggal 24 Februari 1985 di Gresik, Jawa Timur. Ia merupakan penyair yang aktif berkarya di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, antara lain Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, serta antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025).

Selain menulis buku puisi, ia juga aktif mengikuti kegiatan sastra daring dan menghadirkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube @SholihulMubarokOfficial. Saat ini, ia tengah mempersiapkan buku puisi terbarunya berjudul Dalam Semesta Matamu (2026).

© Sepenuhnya. All rights reserved.