Thermobabi
nol derajat babi sekarat
pantatnya digubal es
enam derajat babi melompat
pastor ditendang
kuali diberaki
bupati maki-maki
dasar babi belum kenal P4
tujuh derajat babi hangat
dia melahap singkong
pak tani tenang saja
sembilan derajat babi repot
tengkuknya diserang kadas
digosok-gosokkannya di pokok beringin
sampai lunas
delapanbelas derajat babi ingat
yah, sekarang kan tanggal dua
pegawai negeri gajian
pensiunan arisan uban
babi mulai hatihati
empatpuluh derajat babi berjingkat
bintang film dicium
tukang beca dirazia
gubernur lepas baju lepas sepatu
udara panas
bersandal dan berkaos oblong
menteri menyalami babi
halo, apa kabar you
babi tersipu
sembilanpuluh derajat air menguap
seratus derajat darah mendidih
seratus satu derajat babi dikuliti
seratusdua derajat kuali pecah
babi bergulingguling
pastor, bupati, gubernur dan menteri
siap bermusyawarah
keputusan benjakenjol di tangan
seratusenam derajat babi mengkilap
duaratus derajat udara pucat
babi kian kuning
duaratus derajat petani kaget
duaratusdua derajat bupati
masuk kamar
pastor tidur
gubernur meluncur di jas dinasnya
menteri sikat gigi
duaratuslima derajat kuali berpijar
matahari kenduri
babi menyala
asapnya lurus
nyenggol surga
1980/1983
Sumber: Horison (Maret, 1984)
Analisis Puisi:
Puisi "Thermobabi" karya F. Rahardi merupakan puisi satiris yang memadukan humor, absurditas, dan kritik sosial dalam satu rangkaian peristiwa yang terus meningkat layaknya skala suhu pada termometer. Penyair menggunakan sosok babi sebagai tokoh utama yang mengalami berbagai perubahan seiring naiknya "derajat", sementara tokoh-tokoh lain seperti pastor, petani, bupati, gubernur, menteri, hingga masyarakat ikut terlibat dalam rangkaian kejadian yang tampak ganjil.
Melalui susunan larik yang mengikuti kenaikan suhu, puisi ini menyampaikan kritik terhadap perilaku manusia, birokrasi, kekuasaan, dan kehidupan sosial yang sering kali berjalan tidak sesuai logika. Humor yang muncul bukan bertujuan sekadar menghibur, melainkan menjadi sarana untuk mempertanyakan berbagai kenyataan dalam masyarakat.
Tema
Tema utama puisi "Thermobabi" adalah kritik sosial terhadap kekuasaan, birokrasi, perilaku manusia, dan absurditas kehidupan masyarakat. Puisi ini juga mengangkat tema tentang perubahan keadaan yang memengaruhi perilaku individu maupun lembaga. Semakin tinggi "derajat", semakin tampak kekacauan dan ironi yang terjadi.
Puisi ini bercerita tentang seekor babi yang mengalami berbagai perubahan seiring meningkatnya suhu. Pada setiap tingkat derajat, babi melakukan tindakan yang berbeda-beda, sementara berbagai tokoh masyarakat seperti pastor, petani, bupati, gubernur, dan menteri ikut bereaksi terhadap keberadaannya.
Rangkaian peristiwa tersebut disusun secara bertahap, mulai dari kejadian yang tampak sederhana hingga semakin absurd. Pada akhirnya, babi menyala, asapnya menjulang, dan seolah-olah menyentuh surga.
Secara simbolis, puisi ini bukanlah kisah tentang seekor babi semata, melainkan gambaran mengenai perubahan sosial, dinamika kekuasaan, dan perilaku manusia yang sering kali dipenuhi kontradiksi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan sosial dan politik kerap dipenuhi situasi yang tidak rasional, tetapi tetap diterima sebagai sesuatu yang biasa.
Sosok babi dapat ditafsirkan sebagai simbol berbagai hal, seperti naluri manusia, objek yang diperebutkan, pihak yang dijadikan kambing hitam, atau representasi perilaku yang dianggap menyimpang. Penyair sengaja tidak memberikan makna tunggal sehingga pembaca memiliki ruang untuk menafsirkan sesuai konteks.
Penyebutan pastor, bupati, gubernur, menteri, petani, dan pegawai negeri memperlihatkan bahwa kritik dalam puisi ini menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Tidak ada kelompok yang sepenuhnya bebas dari ironi yang digambarkan penyair.
Kenaikan suhu dari nol hingga lebih dari dua ratus derajat dapat dimaknai sebagai simbol meningkatnya ketegangan sosial, tekanan, atau eskalasi persoalan yang akhirnya mencapai titik ekstrem.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Bersikaplah kritis terhadap berbagai fenomena sosial dan politik yang tampak tidak masuk akal.
- Kekuasaan tidak selalu bertindak secara rasional atau berpihak kepada kepentingan masyarakat.
- Jangan menerima suatu keadaan begitu saja tanpa mempertanyakan makna di baliknya.
- Humor dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan kritik terhadap realitas sosial.
- Perubahan sosial sering kali melibatkan banyak pihak dan memunculkan berbagai bentuk kontradiksi.
Puisi "Thermobabi" karya F. Rahardi merupakan karya satiris yang memanfaatkan humor, absurditas, dan simbol-simbol untuk menyampaikan kritik terhadap kehidupan sosial dan politik. Melalui kenaikan "derajat" yang menyerupai termometer, penyair menggambarkan eskalasi situasi yang semakin kacau dan penuh kontradiksi.
Kehadiran babi, para pejabat, tokoh agama, petani, serta berbagai peristiwa yang tidak masuk akal menunjukkan bahwa puisi ini tidak dimaksudkan untuk dibaca secara harfiah. Sebaliknya, pembaca diajak melihat berbagai ironi dalam masyarakat melalui bahasa yang kreatif, jenaka, dan tajam.
Karya: F. Rahardi
Biodata F. Rahardi:
- F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
