Puisi: Tragedi Kesetiaan Seorang Emban (Karya Iman Budhi Santosa)

Puisi "Tragedi Kesetiaan Seorang Emban" karya Iman Budhi Santosa mengangkat nilai-nilai budaya Jawa melalui kisah seorang emban atau pengasuh yang tet
Tragedi Kesetiaan Seorang Emban
: Anjani dan Endang Suwarsih


Selesai membasuh muka di bibir telaga
ia tak berani meratap karena duka putri junjungan
sudah menghunjam dada abdi pidak-pedarakan

"Mengapa harus terjadi, Putri?" Endang Suwarsih bergumam
sebab ia hanya emban dan berada di pungkuran
suaranya pun bukan tembang, pantas didendangkan
setelah sampyuh, nista dan cacat melulur sekujur tubuh
setelah Cupu Manik Astagina
diperebutkan tangan-tangan angkara murka

Sepasang perawan berwajah wanara
sama-sama luka, membenamkan diri ke telaga Nirmala
memburu cantik yang dihapus dewata
yang lain menjaga, mengembang junjungannya

Ah, abdi-abdi Jawa yang setia
cantik bandara karena emas permata
cantikmu karena selendang
rela memanjakan anak-anak wayang
menimang benar salah penuh kasih sayang

2008

Sumber: Ziarah Tanah Jawa (2013)

Catatan:
Pidak-pedarakan adalah rakyat kecil, hina dina.
Pungkuran adalah rumah bagian belakang.
Sampyuh adalah mati semua.
Bandara adalah sebutan terhadap majikan.

Analisis Puisi:

Puisi "Tragedi Kesetiaan Seorang Emban" karya Iman Budhi Santosa mengangkat nilai-nilai budaya Jawa melalui kisah seorang emban atau pengasuh yang tetap setia kepada junjungannya meskipun berada dalam posisi sebagai rakyat kecil. Puisi ini memanfaatkan tokoh-tokoh dan simbol dari kisah Cupu Manik Astagina, legenda yang berkaitan dengan tokoh Anjani dan Endang Suwarsih, untuk menyampaikan pesan tentang kesetiaan, pengabdian, serta ketimpangan sosial.

Melalui bahasa yang puitis dan sarat simbol budaya, penyair menghadirkan sosok emban sebagai lambang pengabdian tanpa pamrih. Meskipun hidup dalam keterbatasan, ia tetap menjalankan tugasnya dengan kasih sayang dan ketulusan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesetiaan, pengabdian, dan pengorbanan seorang abdi kepada junjungannya. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang nilai-nilai budaya Jawa, ketimpangan sosial, kasih sayang, dan tragedi yang lahir akibat keserakahan manusia.

Puisi ini bercerita tentang seorang emban bernama Endang Suwarsih yang menyaksikan penderitaan putri yang diasuhnya. Sebagai seorang abdi dari kalangan pidak-pedarakan (rakyat kecil), ia hanya mampu memendam kesedihan karena kedudukannya tidak memungkinkan untuk banyak berbicara ataupun mengubah keadaan.

Puisi juga menyinggung kisah Cupu Manik Astagina, pusaka yang diperebutkan hingga melahirkan malapetaka. Dua perempuan akhirnya berubah menjadi berwajah wanara (kera) akibat kutukan. Di tengah tragedi tersebut, sang emban tetap menunjukkan kesetiaan kepada junjungannya. Pada bagian akhir, penyair memuji para emban Jawa yang tetap mengabdi dengan penuh kasih sayang meskipun hidup sederhana dan tidak memperoleh kemewahan sebagaimana majikannya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kesetiaan sejati tidak diukur dari kedudukan sosial atau kekayaan, melainkan dari ketulusan hati dalam mengabdi dan mencintai sesama.

Puisi ini juga mengkritik keserakahan dan perebutan kekuasaan yang membawa kehancuran. Sebaliknya, sosok emban digambarkan sebagai pribadi yang tetap memegang nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan pengabdian meskipun berada di lapisan masyarakat paling bawah.

Selain itu, penyair ingin mengangkat penghargaan terhadap peran para abdi atau pengasuh yang sering kali luput dari perhatian, padahal mereka memiliki jasa besar dalam kehidupan keluarga yang mereka layani.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Kesetiaan dan pengabdian merupakan nilai luhur yang patut dijaga.
  • Jangan membiarkan keserakahan menguasai diri karena dapat membawa kehancuran.
  • Hormatilah orang-orang kecil yang bekerja dengan tulus, sebab pengorbanan mereka sering kali sangat besar.
  • Kasih sayang lebih berharga daripada harta dan kedudukan.
  • Lestarikan nilai-nilai budaya yang mengajarkan ketulusan, pengabdian, dan rasa hormat kepada sesama.
Puisi "Tragedi Kesetiaan Seorang Emban" karya Iman Budhi Santosa merupakan refleksi mendalam tentang arti kesetiaan, pengabdian, dan kasih sayang melalui sosok emban dalam budaya Jawa. Dengan memanfaatkan alusi terhadap kisah Cupu Manik Astagina, penyair menunjukkan bahwa ketulusan seorang abdi jauh lebih bernilai daripada kemewahan atau kedudukan sosial. Penggunaan imaji yang kuat, simbol budaya yang kaya, serta berbagai majas menjadikan puisi ini bukan hanya indah secara estetis, tetapi juga sarat pesan moral mengenai pentingnya menghargai pengabdian, menjaga nilai kemanusiaan, dan menghindari keserakahan.

Iman Budhi Santosa
Puisi: Tragedi Kesetiaan Seorang Emban
Karya: Iman Budhi Santosa

Biodata Iman Budhi Santosa:
  • Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
  • Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.