Puisi: Untukmu Ujung Kenangan (Karya Handrawan Nadesul)

Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih mencintai alam, menjaga kelestariannya, dan menghargai setiap perjalanan sebagai bagian penting dalam ...

Untukmu Ujung Kenangan

Selembar Kartupos

Kukirim dari Meratus


(1)

Menatap Meratus aku menemukan tanjakan penglipuran
Mendengar nyanyian anginmu melayang jauh di awan
Di terasmu sekarang bersimpuh kupegang lenganmu
Ceriterakan lagi padaku luka rimba di tangkaimu
Tentang pohon yang mengaduh dan daun yang tersayat
Kau ikat setiap bagian tubuhku supaya kelak mengenangmu
Dari sela pohon rimba Loksado kudaki elok langit cahayamu

(2)

Di Amandit aku menyaksikan menetes peluh peradaban
Awan tiba-tiba rebah melepaskan senja ke tepian wajahmu
Terkepung aku di antara ribuan sunyi bumi manikam
Kepada harum angin dan bunyi malam aku bertanya
Akankah benderang rumah hidupku terpejam di ladangmu
Merasakan dengus napas segala ruh berayun di setiap kegelapan
Hanyut bunyi jantungku tertindih pekik arusmu

(3)

Mendaki Dusun Haruyan aku tersirap bunyi kesunyian
Di celah kabut kudengar suara daun saling berpelukan
Pada tebingmu berderai angin memanggil setiap rerumputan
Duduk sendiri di huma terlelap hidupku dibuai bebukitanmu
Masih adakah yang lebih sentausa dari hatiku sepagian ini
Mengulum manis desau ombak samudera halimunmu
Loksado suatu hari pasti kurindukan pukau embunmu.

2017

Sumber: Untukmu Aku Bernyanyi (2018)

Analisis Puisi:

Puisi "Untukmu Ujung Kenangan Selembar Kartupos Kukirim dari Meratus" karya Handrawan Nadesul merupakan puisi perjalanan yang memadukan kekaguman terhadap bentang alam Pegunungan Meratus dengan refleksi batin penyair. Melalui tiga bagian puisi, pembaca diajak menyusuri kawasan Meratus, Loksado, Amandit, dan Haruyan yang digambarkan bukan sekadar sebagai tempat geografis, melainkan ruang yang menyimpan kenangan, sejarah, dan kehidupan.

Judul puisi yang panjang menghadirkan kesan personal. Kartupos menjadi simbol pesan yang dikirim dari sebuah perjalanan kepada seseorang yang dikenang. Dengan demikian, puisi ini bukan hanya catatan wisata, tetapi juga surat batin yang berisi kerinduan, kekaguman, dan penghormatan terhadap alam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keindahan alam, perjalanan batin, dan kerinduan terhadap tempat yang meninggalkan kesan mendalam. Tema-tema pendukung dalam puisi ini meliputi:
  • Hubungan manusia dengan alam.
  • Kenangan.
  • Kelestarian lingkungan.
  • Spiritualitas.
  • Perjalanan dan perenungan.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan penyair menyusuri kawasan Pegunungan Meratus beserta wilayah-wilayah di sekitarnya, seperti Loksado, Amandit, dan Haruyan. Dalam perjalanan tersebut, penyair menikmati keindahan alam sekaligus merasakan ikatan emosional yang kuat dengan lingkungan yang dikunjunginya.

Pada bagian pertama, penyair menggambarkan kekaguman terhadap Meratus yang penuh pesona. Alam seolah mengajak berdialog mengenai luka-luka hutan akibat kerusakan yang dialaminya.

Bagian kedua membawa pembaca ke Amandit, tempat penyair merenungkan perjalanan peradaban, kesunyian malam, dan kehidupan yang menyatu dengan alam.

Pada bagian ketiga, suasana semakin tenang ketika penyair tiba di Haruyan dan Loksado. Kabut, bukit, rerumputan, dan embun menghadirkan kedamaian batin yang mendalam hingga akhirnya lahirlah pengakuan bahwa suatu hari tempat itu akan selalu dirindukan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa alam bukan sekadar objek yang dipandang, melainkan sahabat yang menyimpan sejarah, kehidupan, dan pelajaran bagi manusia.

Penyair menunjukkan bahwa perjalanan sejati bukan hanya perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan mengenali diri sendiri melalui keheningan alam.

Selain itu, puisi ini juga menyiratkan pentingnya menjaga kelestarian hutan. Ungkapan mengenai pohon yang mengaduh dan daun yang tersayat menjadi simbol bahwa alam turut merasakan luka akibat ulah manusia.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Cintailah alam sebagai bagian dari kehidupan manusia.
  • Jagalah kelestarian hutan agar tetap menjadi sumber kehidupan.
  • Luangkan waktu untuk menyatu dengan alam dan merenungkan kehidupan.
  • Setiap perjalanan akan meninggalkan pengalaman berharga yang patut dikenang.
  • Keindahan alam hendaknya disyukuri sekaligus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Puisi "Untukmu Ujung Kenangan Selembar Kartupos Kukirim dari Meratus" karya Handrawan Nadesul merupakan puisi perjalanan yang menggabungkan keindahan alam, refleksi batin, dan kepedulian terhadap lingkungan. Pegunungan Meratus tidak hanya digambarkan sebagai bentang alam yang memesona, tetapi juga sebagai ruang spiritual yang menyimpan kenangan dan pelajaran hidup.

Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih mencintai alam, menjaga kelestariannya, dan menghargai setiap perjalanan sebagai bagian penting dalam pembentukan jati diri manusia.

Handrawan Nadesul
Puisi: Untukmu Ujung Kenangan
Karya: Handrawan Nadesul

Biodata Handrawan Nadesul:
  • Dr. Handrawan Nadesul (Gouw Han Goan) lahir pada tanggal 31 Desember 1948 di Karawang, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.