Puisi: Upacara Bulan (Karya Korrie Layun Rampan)

Puisi “Upacara Bulan” karya Korrie Layun Rampan mengingatkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan nilai-nilai kemanusiaan meskipun hidup dipenuhi ...

Upacara Bulan


Upacara bulan di ranting-ranting jiwa
Memelihara serangga
Lalu matahari esok hari
Mendirikan kemah-kemah semut api

Para bidadari menarikan birahi
Di gerbang-gerbang kehidupan
Kaudengar ketukan demi ketukan
Di pintu-pintu hati kita?

Yang diserukan sauh pada lautan
Kapal dermaga kita
Yang diserukan mercusuar
Nyawa cinta yang gemetar!

Adakah kaudengar telepon hati
Yang berbicara tentang kejujuran budi
Dunia kita
Tentang sakit dan derita?

Upacara matahari di pusaran waktu
Memelihara padi
Di ladang-ladang berdarah
Di kota-kota kesangsian

Kecemasan purba melekat di dahi dan ubun kita
Tanda di pundak-pundak sejarah
Kaulihat langit merendah
Menyerbumu dengan kesangsian derita!

Sumber: Upacara Bulan (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Upacara Bulan” karya Korrie Layun Rampan menghadirkan perpaduan antara alam, kehidupan batin manusia, serta refleksi sosial. Melalui simbol-simbol seperti bulan, matahari, semut api, lautan, padi, hingga sejarah, penyair membangun suasana yang puitis sekaligus penuh perenungan. Puisi ini tidak hanya mengajak pembaca menikmati keindahan bahasa, tetapi juga merenungkan hubungan manusia dengan kehidupan, kejujuran, cinta, dan penderitaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan kehidupan manusia yang dipenuhi harapan, cinta, kejujuran, sekaligus kecemasan dan penderitaan. Penyair memperlihatkan bahwa kehidupan selalu bergerak di antara keindahan dan kesulitan. Alam dijadikan cermin untuk menggambarkan perjalanan batin manusia.

Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema spiritual dan kemanusiaan. Simbol-simbol alam digunakan untuk menunjukkan bahwa setiap peristiwa kehidupan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar fenomena fisik.

Puisi ini bercerita tentang sebuah perjalanan kehidupan yang diibaratkan sebagai rangkaian upacara alam. Bulan, matahari, lautan, kapal, hingga ladang menjadi simbol perjalanan manusia dalam mencari makna hidup.

Di tengah perjalanan tersebut, manusia dihadapkan pada cinta, kejujuran, sejarah, kecemasan, dan derita. Penyair mempertanyakan apakah manusia masih mampu mendengar "telepon hati" yang mengajak kepada nilai-nilai kemanusiaan ketika dunia dipenuhi berbagai kesangsian.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa kehidupan bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga soal menjaga nurani.

Melalui larik:

"Adakah kaudengar telepon hati / Yang berbicara tentang kejujuran budi"

penyair mengajak pembaca untuk kembali mendengarkan suara hati yang sering tenggelam oleh hiruk-pikuk dunia.

Sementara bagian:

"Upacara matahari di pusaran waktu / Memelihara padi / Di ladang-ladang berdarah"

menyiratkan bahwa kemakmuran sering lahir dari perjuangan, pengorbanan, bahkan penderitaan. Keindahan hidup tidak pernah hadir tanpa proses yang panjang.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang ingin disampaikan penyair antara lain:
  • Manusia hendaknya tetap menjaga kejujuran dalam menjalani kehidupan.
  • Kehidupan selalu berisi kebahagiaan sekaligus penderitaan yang harus diterima dengan bijaksana.
  • Cinta dan hati nurani merupakan kompas yang menuntun manusia.
  • Sejarah dan pengalaman hidup hendaknya menjadi pelajaran, bukan sekadar kenangan.
  • Alam mengajarkan bahwa setiap perubahan merupakan bagian dari siklus kehidupan.
Puisi ini mengingatkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan nilai-nilai kemanusiaan meskipun hidup dipenuhi kecemasan.

Puisi “Upacara Bulan” karya Korrie Layun Rampan merupakan puisi reflektif yang memadukan simbol-simbol alam dengan perenungan tentang kehidupan manusia. Penyair mengajak pembaca menyadari bahwa kehidupan selalu berada di antara harapan dan penderitaan, cinta dan kecemasan, serta sejarah dan masa depan.

Korrie Layun Rampan
Puisi: Upacara Bulan
Karya: Korrie Layun Rampan

Biodata Korrie Layun Rampan:
  • Korrie Layun Rampan adalah seorang penulis (penyair, cerpenis, novelis, penerjemah), editor, dan kritikus sastra Indonesia berdarah Dayak Benuaq.
  • Korrie Layun Rampan lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur.
  • Korrie Layun Rampan meninggal dunia pada tanggal 19 November 2015 di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.