Waktu Sepenggalah Matahari
(Puitisasi terjemahan al-Qur’an: Ad-Dhuha)
Demi waktu sepenggalah matahari
dan malam ketika senyap sunyi
Tuhanmu tiada meninggalkan kau, ataupun benci
dan sebenarnya apa yang akan terjadi
lebih baik bagimu daripada yang sudah
nanti Tuhanmu pasti memberi anugerah
maka engkau pun akan berpuas hati
Bukankah dahulu ia mendapatimu tak berbapa
lalu memberi perlindungan?
Dan mendapatimu sedang meraba-raba
lalu menunjukkan jalan?
dan mendapatimu sedang papa?
lalu memberi kekayaan?
Maka terhadap anak tak berbapa
jangan berlaku tak semena-mena
dan pada orang yang meminta-minta
jangan mencaci-cerca
sedang anugerah Tuhanmu, beritakanlah!
Sumber: Kabar dari Langit (1988)
Analisis Puisi:
Puisi "Waktu Sepenggalah Matahari" karya Mohammad Diponegoro merupakan sebuah puitisasi terjemahan Surah Ad-Dhuha dalam Al-Qur'an. Puisi ini mempertahankan inti pesan wahyu dengan menghadirkannya dalam bentuk bahasa puitis yang indah, mudah direnungkan, dan tetap sarat makna spiritual.
Puisi ini menyampaikan pesan tentang kasih sayang Allah, harapan di tengah kesulitan, serta kewajiban manusia untuk mensyukuri nikmat-Nya. Di samping itu, puisi ini mengajarkan kepedulian terhadap anak yatim, orang miskin, dan pentingnya menyebarkan nikmat yang telah diberikan Tuhan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kasih sayang Tuhan, harapan, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama. Selain tema utama tersebut, puisi ini juga mengangkat beberapa tema pendukung, yaitu:
- Keimanan kepada Allah.
- Optimisme dalam menghadapi ujian hidup.
- Nikmat dan pertolongan Tuhan.
- Kepedulian sosial.
- Kewajiban mensyukuri karunia Allah.
Puisi ini bercerita tentang jaminan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Melalui sumpah atas waktu duha dan malam yang tenang, Allah menegaskan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan ataupun membenci hamba-Nya. Bahkan, masa depan yang telah disiapkan akan lebih baik daripada masa lalu.
Selanjutnya, puisi ini mengingatkan berbagai nikmat yang pernah diberikan Allah, seperti perlindungan ketika menjadi yatim, petunjuk saat berada dalam kebingungan, dan kecukupan ketika hidup dalam kekurangan.
Sebagai penutup, puisi ini berisi tuntunan agar manusia memperlakukan anak yatim dengan baik, tidak menghardik orang yang meminta pertolongan, serta senantiasa menceritakan nikmat Tuhan sebagai bentuk rasa syukur.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa pertolongan Tuhan mungkin tidak selalu datang seketika, tetapi kasih sayang-Nya tidak pernah terputus. Selain itu, puisi ini juga mengandung beberapa makna lain, yaitu:
- Kesulitan hidup bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan hamba-Nya.
- Masa depan dapat menjadi lebih baik apabila seseorang tetap beriman dan bersabar.
- Nikmat yang telah diterima hendaknya diwujudkan dalam kepedulian kepada sesama.
- Rasa syukur tidak cukup diucapkan, tetapi juga diwujudkan melalui perbuatan.
- Orang yang pernah merasakan kesusahan akan lebih mampu memahami penderitaan orang lain.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
- Percayalah bahwa setiap kesulitan akan diikuti kemudahan sesuai kehendak-Nya.
- Bersyukurlah atas setiap nikmat yang telah diberikan Tuhan.
- Sayangilah anak yatim dan hormatilah orang yang membutuhkan pertolongan.
- Jadikan nikmat yang diterima sebagai motivasi untuk berbuat baik kepada sesama.
- Sebarkan kebaikan dan ceritakan nikmat Allah sebagai bentuk syukur, bukan kesombongan.
Puisi "Waktu Sepenggalah Matahari" karya Mohammad Diponegoro merupakan puitisasi yang indah dari kandungan Surah Ad-Dhuha. Puisi ini menyampaikan pesan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Kesulitan hanyalah bagian dari perjalanan hidup yang akan diikuti oleh pertolongan dan anugerah-Nya.
Puisi ini menjadi pengingat agar manusia senantiasa beriman, bersyukur, dan peduli kepada sesama. Karya ini mengajarkan bahwa nikmat Tuhan hendaknya diwujudkan dalam sikap rendah hati, kasih sayang, dan semangat berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Karya: Mohammad Diponegoro
Biodata Mohammad Diponegoro:
- Mohammad Diponegoro lahir di Yogyakarta, pada tanggal 28 Juni 1928.
- Mohammad Diponegoro meninggal dunia di Yogyakarta, pada tanggal 9 Mei 1982 (pada usia 53 tahun).
