Batu-Batu Lumat Tercabik
sewaktu orang-orang bicara itu
tak kausapa
sewaktu kian lincah martilmu memecah batu-batu
bukan jalanku lagi yang membentang
antara halte dengan halte itu
bukan jembatanku lagi melintang atas sungai
antara tepian ini dengan daerah sanamu
kau dirikan sisa ruang di lembar akhir
buku harianmu
apakah pada sebuah kampung atau kota
apakah cuma pada suatu mimpi,
kukerahkan mata dan ingatan
masih saja gagal aku mengenalmu kembali
batu-batu berhamburan lumat tercabik
tapi segala nyanyian hanya pelan membisik
tapi segala lisan hanya rongga yang diam
Madedadi, 1996
Sumber: Kompas (28 Juni 2000)
Analisis Puisi:
Puisi "Batu-Batu Lumat Tercabik" karya Herry Lamongan menghadirkan refleksi tentang perubahan, perpisahan, dan rapuhnya hubungan antarmanusia. Melalui simbol batu, martil, jembatan, dan buku harian, penyair menggambarkan seseorang yang berusaha mengenali kembali sosok yang dahulu dekat, tetapi kini telah berubah hingga terasa asing.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perubahan hubungan manusia yang berujung pada keterasingan dan kehilangan. Tema tersebut didukung oleh beberapa tema pendukung, yaitu:
- Kenangan dan ingatan.
- Perpisahan.
- Perubahan identitas.
- Kegagalan komunikasi.
- Kesunyian batin.
Makna Tersirat
Puisi ini memiliki makna tersirat bahwa perubahan hidup dapat menghilangkan kedekatan yang pernah terjalin erat.
Batu-batu melambangkan hubungan, kenangan, atau prinsip hidup yang dahulu kokoh, tetapi akhirnya hancur oleh perubahan.
Martil menjadi simbol kekuatan waktu, keadaan, atau keputusan yang perlahan menghancurkan ikatan antarmanusia.
Jalan dan jembatan melambangkan komunikasi, kedekatan, dan hubungan emosional. Ketika keduanya "bukan lagi milikku", penyair menyiratkan bahwa hubungan tersebut telah benar-benar terputus.
Buku harian menjadi simbol memori dan jejak kehidupan. Penyair berusaha menemukan kembali sosok yang dikenalnya melalui kenangan, tetapi gagal karena manusia terus berubah.
Pada bagian akhir, nyanyian yang membisik dan lisan yang diam menunjukkan bahwa tidak semua kehilangan dijelaskan melalui kata-kata. Ada kesedihan yang hanya dapat dirasakan dalam keheningan.
Secara keseluruhan, puisi ini menyiratkan bahwa waktu mampu mengubah manusia, hubungan, bahkan cara seseorang dikenang.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting.
- Hubungan antarmanusia perlu dijaga melalui komunikasi yang baik.
- Perubahan adalah bagian dari kehidupan, tetapi kenangan tetap memiliki makna.
- Jangan menunggu sampai hubungan hancur sebelum berusaha memperbaikinya.
- Diam yang berkepanjangan dapat menciptakan jarak yang semakin sulit dijembatani.
- Kenangan dapat menjadi pelajaran untuk menghargai orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan.
Melalui puisi ini, penyair mengajak pembaca untuk menyadari bahwa kehilangan sering kali datang perlahan, dimulai dari berkurangnya komunikasi dan perhatian.
Puisi "Batu-Batu Lumat Tercabik" karya Herry Lamongan merupakan refleksi puitis mengenai perubahan, kehilangan, dan renggangnya hubungan antarmanusia. Melalui simbol batu, martil, jalan, jembatan, dan buku harian, penyair memperlihatkan bahwa kehancuran sebuah hubungan sering kali berlangsung perlahan hingga akhirnya hanya menyisakan kenangan dan keheningan.
Puisi ini mengajak pembaca merenungkan pentingnya menjaga komunikasi dan menghargai setiap hubungan sebelum waktu mengubah semuanya menjadi sesuatu yang sulit dikenali kembali.
Karya: Herry Lamongan
Biodata Herry Lamongan:
- Herry Lamongan, bernama asli Djuhaeri, lahir pada tanggal 8 Mei 1959 di Bondowoso, Jawa Timur.