Berbicara
untuk apa kau berbicara tentang daun
jika kau tak mendengar bisikan angin di situ
untuk apa kau berbicara tentang air
jika kau tak dapat membuatnya mengalir
untuk apa kau berbicara tentang api
jika hanya dapat membakar dirimu sendiri
untuk apa kau berbicara tentang puisi
jika kau tak pernah tahu maknanya
untuk apa kau berbicara yang tak kau tahu
jika kau ternyata hanya sekedar ingin tahu
untuk apa kau berbicara tentang kejujuran
jika kau ternyata selalu saja berdusta
untuk apa aku selalu berdiam
karena kau tak pernah tahu
apa sebenarnya sedang aku pikirkan
jika aku tak pernah berpikir tentang apa pun
dan kau bilang, kau tahu itu
maka aku pun beranjak meninggalkanmu
LA, 2013
Sumber: Puisi Indonesia '87: kumpulan puisi (Teras Budaya Jakarta, 2014)
Analisis Puisi:
Puisi “Berbicara” karya Remmy Novaris DM merupakan puisi yang mengajak pembaca untuk merenungkan hubungan antara perkataan, pengetahuan, kejujuran, dan tindakan. Melalui rangkaian pertanyaan yang berulang dengan ungkapan “untuk apa kau berbicara”, penyair seolah-olah mempertanyakan kebiasaan seseorang yang gemar berbicara mengenai sesuatu, tetapi tidak benar-benar memahami ataupun menghayati apa yang dibicarakannya.
Puisi ini tidak hanya membahas aktivitas berbicara secara harfiah. Di balik kata-katanya terdapat kritik terhadap sikap seseorang yang berbicara tanpa pemahaman, ingin mengetahui sesuatu sekadar karena rasa ingin tahu, bahkan membicarakan kejujuran sementara dirinya sendiri masih berdusta.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap perkataan yang tidak disertai pemahaman, kejujuran, dan tindakan nyata.
Penyair menggunakan beberapa objek seperti daun, angin, air, api, puisi, dan kejujuran untuk menggambarkan bahwa membicarakan sesuatu seharusnya tidak berhenti pada kata-kata. Seseorang perlu memahami hakikat dari sesuatu yang dibicarakannya.
Hal tersebut tampak dalam kutipan:
“untuk apa kau berbicara tentang puisi
jika kau tak pernah tahu maknanya”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa perkataan akan menjadi tidak berarti apabila orang yang mengucapkannya tidak memahami makna yang dibicarakan.
Dengan demikian, puisi ini bercerita tentang pentingnya keselarasan antara ucapan, pemahaman, pikiran, dan tindakan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini cukup kuat. Penyair tidak secara langsung mengatakan bahwa seseorang harus berhenti berbicara sembarangan. Sebaliknya, pesan tersebut disampaikan melalui pertanyaan-pertanyaan retoris.
Pada bait pertama, daun, angin, air, dan api dapat dimaknai sebagai simbol pengalaman dan pemahaman terhadap kehidupan. Berbicara tentang daun, misalnya, tidak cukup hanya mengetahui bahwa daun merupakan bagian dari tumbuhan. Ada “bisikan angin” yang menggambarkan sesuatu yang lebih dalam, yakni kepekaan untuk memahami makna di balik suatu objek.
Begitu pula dengan air dan api. Air tidak hanya menjadi sesuatu yang dibicarakan, tetapi memiliki sifat mengalir. Api tidak hanya memiliki bentuk dan panas, tetapi juga dapat membakar. Dengan demikian, penyair seperti sedang mengatakan bahwa memahami sesuatu berarti mengenali hakikat dan konsekuensinya, bukan sekadar mengetahui namanya.
Pada bait kedua, kritik tersebut semakin jelas. Penyair membicarakan puisi, pengetahuan, rasa ingin tahu, dan kejujuran. Orang yang berbicara tentang kejujuran tetapi selalu berdusta dianggap tidak memiliki keselarasan antara ucapan dan perilakunya.
Bait terakhir memberikan perubahan sudut pandang. Kata “kau” masih digunakan, tetapi muncul “aku” sebagai sosok yang memilih diam dan kemudian pergi. Sikap diam tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk kekecewaan terhadap seseorang yang merasa mengetahui sesuatu tentang dirinya, padahal sebenarnya tidak.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah agar manusia tidak berbicara mengenai sesuatu yang tidak dipahami dan tidak mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan dirinya.
Ada beberapa pesan yang dapat ditarik dari puisi ini.
- Pertama, seseorang sebaiknya memahami sesuatu sebelum membicarakannya. Pengetahuan yang dangkal dapat membuat perkataan kehilangan makna.
- Kedua, rasa ingin tahu perlu disertai usaha untuk memahami. Bertanya atau berbicara hanya karena ingin tahu tanpa benar-benar berusaha memahami dapat menjadi percakapan yang kosong.
- Ketiga, perkataan harus selaras dengan tindakan. Seseorang tidak seharusnya berbicara tentang kejujuran jika dalam kehidupan sehari-hari ia justru terbiasa berdusta.
- Keempat, tidak semua hal harus dijelaskan kepada orang lain. Terkadang seseorang memilih diam karena menyadari bahwa lawan bicaranya belum tentu mampu memahami apa yang ada di dalam pikirannya.
Puisi “Berbicara” karya Remmy Novaris DM pada dasarnya merupakan refleksi sekaligus kritik terhadap kebiasaan berbicara tanpa pemahaman dan tanpa kesesuaian dengan tindakan. Penyair memperlihatkan bahwa perkataan tidak otomatis memiliki nilai hanya karena diucapkan.
Karya: Remmy Novaris DM
Biodata Remmy Novaris DM:
- Remmy Novaris Daud Masinambouw lahir 5 November 1958.