Bertolak
Sehelai setangan kelabu melambai dari geladak
Dan sampai ke pucuk awan terdengar teriak
Terus memanjat, mengumandangkan seruan:
Kami bertolak, kami bertolak tak balik lagi,
Selamat tinggal, handai dan tolan!!
Di bawah—, mesin menggenta, debu berontak
Dan di atas—, panggilan mencambuk, darah melonjak
Mempersiapkan api dan wangi pada sinar dan hati,
Tanda mata untuk paman yang dihambat waktu
Sudah jemu pada senyum dan airmata
Aduh! Sarat nian muatan kapal kali ini:
Tunas, butir dan benih—; nafas, cita dan mimpi,
Yang lahir dari kepedihan pangkuan sejarah.
Tapi tiada wakil-wakil kejayaan jaman silam
Yang sia-sia membawa imbangan.
Malam cemerlang bulan melempar cahaya di atas air.
Antara selamat tinggal dan selamat datang,
Membentang laut-pekat dan pantai-harapan!
Dan sebentar lagi kapal berlabuh di pantai-baru
Di mana senyum dan airmata tak kenal jemu.....
Jakarta, 1 Januari 1955
Sumber: Zaman Baru (Januari, 1955)
Analisis Puisi:
Puisi “Bertolak” karya M.S. Ashar menggambarkan sebuah perjalanan yang bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Keberangkatan kapal dalam puisi menjadi simbol sebuah peralihan menuju kehidupan dan masa depan yang baru.
Dengan menggunakan gambaran kapal yang meninggalkan pelabuhan, penyair menghadirkan suasana perpisahan sekaligus harapan. Ada “selamat tinggal” kepada masa lalu, tetapi pada saat yang sama ada “selamat datang” terhadap masa depan. Laut yang terbentang di antara keduanya menjadi simbol perjalanan panjang yang harus dilalui sebelum mencapai “pantai-baru”.
Puisi ini juga kuat dengan nuansa sejarah. Kehadiran kata-kata seperti “kepedihan pangkuan sejarah”, “jaman silam”, dan “pantai-harapan” menunjukkan adanya kesadaran terhadap masa lalu serta keinginan untuk meninggalkan sesuatu yang dianggap tidak lagi relevan dan menyongsong masa depan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keberangkatan menuju masa depan dengan meninggalkan masa lalu. Keberangkatan kapal menjadi gambaran utama yang mengikat seluruh puisi. Seruan:
“Kami bertolak, kami bertolak tak balik lagi”
menegaskan tekad untuk pergi dan tidak kembali kepada keadaan sebelumnya.
Tema tersebut juga berkaitan dengan perubahan, harapan, perjuangan, dan pembaruan. Kapal yang membawa berbagai “tunas, butir dan benik” dapat ditafsirkan sebagai simbol generasi atau gagasan baru yang sedang dibawa menuju kehidupan yang baru.
Di sisi lain, puisi juga mengandung tema perpisahan. Seruan:
“Selamat tinggal, handai dan tolan!!”
menunjukkan adanya kesedihan karena harus meninggalkan orang-orang yang dikenal dan dicintai.
Dengan demikian, tema puisi ini dapat dirumuskan sebagai perjalanan meninggalkan masa lalu untuk menyongsong masa depan yang penuh harapan.
Makna Tersirat
Makna tersirat yang paling kuat dalam puisi ini adalah keinginan untuk melakukan perubahan dan memulai kehidupan baru dengan meninggalkan masa lalu.
Kata “bertolak” tidak hanya berarti kapal berangkat dari pelabuhan. Dalam konteks puisi, kata tersebut dapat dimaknai sebagai tindakan meninggalkan keadaan lama dan bergerak menuju keadaan yang baru.
Seruan:
“tak balik lagi”
menunjukkan tekad yang kuat untuk tidak kembali kepada masa lalu.
Sementara itu, “pantai-harapan” dan “pantai-baru” menjadi simbol masa depan yang belum diketahui tetapi diharapkan lebih baik.
Laut yang berada di antara “selamat tinggal” dan “selamat datang” juga memiliki makna simbolis. Laut dapat ditafsirkan sebagai rintangan, ketidakpastian, dan proses panjang yang harus dilalui untuk mencapai masa depan.
Adapun:
“Tunas, butir dan benih—; nafas, cita dan mimpi”
menunjukkan bahwa masa depan dibangun oleh sesuatu yang masih dalam tahap awal. “Tunas” dan “benih” merupakan simbol kehidupan yang sedang tumbuh, sedangkan “cita dan mimpi” menunjukkan harapan manusia.
Dengan demikian, puisi ini dapat dibaca sebagai sebuah metafora tentang perjalanan sejarah menuju pembaruan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini mengandung pesan bahwa manusia harus berani meninggalkan masa lalu ketika ingin mencapai kehidupan yang lebih baik.
Masa lalu memang memiliki arti penting karena menjadi bagian dari sejarah. Namun, manusia tidak boleh terus-menerus terikat kepadanya. Ada saatnya seseorang atau suatu masyarakat harus berani “bertolak” dan bergerak menuju masa depan.
Puisi ini juga menyampaikan pesan tentang keberanian menghadapi ketidakpastian. Laut yang terbentang antara pelabuhan lama dan pantai baru menggambarkan bahwa masa depan tidak selalu mudah dicapai.
Selain itu, penyair menunjukkan bahwa perjalanan menuju masa depan harus membawa cita dan mimpi, bukan sekadar meninggalkan masa lalu.
Dengan demikian, amanatnya adalah:
Beranilah meninggalkan keadaan lama yang tidak lagi sesuai dengan cita-cita, teruslah bergerak menuju masa depan, dan pertahankan harapan meskipun perjalanan penuh ketidakpastian.
Puisi “Bertolak” karya M.S. Ashar merupakan puisi tentang perjalanan yang memiliki makna simbolis. Perjalanan kapal dalam puisi bukan hanya perjalanan geografis, tetapi menjadi gambaran tentang perjalanan manusia atau suatu generasi dari masa lalu menuju masa depan.
Karya: M.S. Ashar
Biodata M.S. Ashar:
- M.S. Ashar lahir pada tanggal 19 Desember 1921 di Kutaraja.