Puisi: Burung-Burung Telaga Cayuga (Karya Mochtar Pabottingi)

Puisi “Burung-Burung Telaga Cayuga” karya Mochtar Pabottingi menyampaikan gagasan bahwa cinta bukan hanya milik dua orang yang saling mencintai.
Burung-Burung Telaga Cayuga

Pada matamu rimba membukakan daun-daunnya
Memanggil matahari

Pada matamu padang ilalang menguraikan rambutnya
Menyebarkan harum telaga musim panas

Pada matamu kurasakan gelitik air sungai
Menciumi batuan kali
Dan mataku lalu terbenam pada matamu. Seperti matahari
Terbenam pada telaga. Hingga lahirlah bianglala

Dan itu pun terjadi
Begitu saja
Di tepi danau. Di tengah hutan
Engkau dan aku
Mengalir bersama sungai
Meregangkan batang-batang pohonan

Kita saling membakar
Dalam nyala
Letup-meletup. Jilat-menjilat
Dalam tamasya purba
Nun di pucuk-pucuk ombak
Nun di dasar-dasar lembah
Nun
Bersilancar
Bergulingan
Melesat ke angkasa

Ratusan kuda berpacu
Menembus gemuruh planit-planit
Angin jadi puluhan genderang
Dan sejuta seruling
Yang ditiup para malaikat
Pelangi jadi ribuan bendera
Yang mengibas-ngibas tatasurya

    Dan kita terus melesat
    Di tengah badai api
    Hingga kata pun tak sampai
    Hingga kita pun terhempas-hempas
    Terhempas-hempas
    Dalam samudra

Bukan kita yang bercinta, wanitaku
Melainkan kehidupan
Bukan kita yang berdosa, wanitaku
Melainkan penciptaan
Tatkala ia menggeliat
Tatkala busur fajar melepaskan selaksa panahnya
Tatkala bunga-bunga menghembuskan mantranya
Memenuhi angkasa
Dan meluluhkan kita ke dalam nafasnya

Honolulu, 1986

Sumber: Dalam Rimba Bayang-Bayang (2003)

Analisis Puisi:

Puisi “Burung-Burung Telaga Cayuga” karya Mochtar Pabottingi merupakan puisi yang menggambarkan pengalaman cinta dan penyatuan dua manusia dengan menggunakan gambaran alam yang luas dan intens. Hutan, padang ilalang, sungai, telaga, pelangi, planet, angin, badai api, hingga bunga-bunga digunakan untuk membangun pengalaman yang bergerak dari ketertarikan personal menuju pengalaman yang lebih universal.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta, penyatuan manusia, kehidupan, dan penciptaan yang menyatu dengan alam semesta. Pada awal puisi, pengalaman cinta digambarkan melalui tatapan mata:

“Pada matamu rimba membukakan daun-daunnya
Memanggil matahari”

Mata kekasih menjadi pintu masuk menuju pengalaman alam yang luas. Dari mata tersebut, penyair merasakan hutan, padang ilalang, sungai, air, dan telaga.

Hubungan antara dua tokoh kemudian berkembang menjadi pengalaman yang semakin intens:

“Dan kita terus melesat
Di tengah badai api”

Cinta tidak lagi hanya menjadi perasaan individual, tetapi berkembang menjadi pengalaman yang melibatkan seluruh kehidupan.

Tema tersebut mencapai puncaknya pada bagian akhir ketika penyair menyatakan bahwa bukan mereka yang sepenuhnya mengendalikan pengalaman cinta, melainkan kehidupan dan penciptaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa cinta dapat menjadi pengalaman yang membuat manusia kehilangan batas antara dirinya, orang lain, alam, dan kehidupan.

Pada awalnya, hubungan tersebut dimulai dari sesuatu yang sangat personal, yaitu tatapan mata. Namun, dari tatapan itu muncul seluruh dunia:

“Pada matamu rimba membukakan daun-daunnya”

Mata kekasih bukan hanya objek untuk dilihat, tetapi menjadi simbol pintu menuju pengalaman yang lebih luas.

Larik:

“Dan mataku lalu terbenam pada matamu”

mengandung makna bahwa penyair seakan-akan tenggelam dalam diri kekasih. Ia kehilangan batas antara dirinya sendiri dengan orang yang dicintainya.

Penyair kemudian membawa pengalaman tersebut ke tingkat yang lebih universal. Cinta tidak dianggap sebagai sesuatu yang sepenuhnya diciptakan atau dikendalikan manusia. Cinta merupakan bagian dari kekuatan kehidupan:

“Bukan kita yang bercinta, wanitaku
Melainkan kehidupan”

Dengan demikian, cinta dapat dipahami sebagai kekuatan alamiah yang menghubungkan manusia dengan kehidupan dan proses penciptaan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa cinta merupakan bagian penting dari kehidupan dan penciptaan. Cinta bukan hanya hubungan antara dua individu, tetapi dapat menjadi pengalaman yang menghubungkan manusia dengan alam dan keberadaan.

Puisi juga mengajarkan bahwa manusia tidak selalu menjadi pusat dari segala sesuatu. Ada kekuatan kehidupan yang lebih besar daripada kehendak individual.

Pernyataan:

“Bukan kita yang berdosa, wanitaku
Melainkan penciptaan”

menunjukkan bahwa penyair melihat pengalaman cinta dan penciptaan sebagai bagian dari sesuatu yang alamiah.

Pesan lainnya adalah bahwa cinta dapat membuat seseorang mengalami dunia secara lebih intens. Melalui cinta, alam tidak lagi sekadar menjadi pemandangan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman batin manusia.

Mochtar Pabottingi
Puisi: Burung-Burung Telaga Cayuga
Karya: Mochtar Pabottingi

Biodata Mochtar Pabottingi:
  • Mochtar Pabottingi lahir pada tanggal 17 Juli 1945 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.