Puisi: Demi Waktu (Karya Weni Suryandari)

Puisi "Demi Waktu" karya Weni Suryandari menyajikan suatu refleksi mendalam tentang kehidupan, cinta, dan perjalanan menuju keabadian.
Demi Waktu

Seperti cermin;
Padamu kulihat diriku  sama berteriak pilu
Pada lilin menyala juga pada hasrat di kepala
Saling memuja saling menjaga
Siang kepada malam, bulan kepada kelam
Biar menjadi tanda sebuah pintu rahasia

Di balik rimbun kisah-kisah, rindu setia pada basah
Tanpa banyak kata-kata, do'a terbang ke angkasa
Tuhanku, sampaikan surga, anganku jadilah nyata
Giringlah kami pada takdir keabadian 

Demi waktu;
Laut dan gunung berjumpalitan, dada berdebaran
Mata hati, mata air, mata api, bakar getir

Setetes darah pada pengorbanan,
jauh lebih tajam dari kata
2014

Sumber: Sisa Cium di Alun-Alun (2016)

Analisis Puisi:

Puisi "Demi Waktu" karya Weni Suryandari menyajikan suatu refleksi mendalam tentang kehidupan, cinta, dan perjalanan menuju keabadian. Dengan penggunaan bahasa yang indah dan metafora yang mendalam, puisi ini mengajak pembaca untuk merenung tentang waktu dan makna kehidupan.

Metafora "Cermin": Puisi dimulai dengan metafora "cermin," menciptakan gambaran tentang introspeksi diri. Cermin di sini bukan hanya benda fisik, tetapi juga simbol refleksi batin dan pemahaman terhadap diri sendiri.

Pemaknaan Lilin dan Hasrat: Lilin yang menyala mewakili kehidupan dan keinginan yang terus berkobar. Penggunaan kata "hasrat" mengisyaratkan keinginan dan semangat hidup yang menjadi pendorong di kepala.

Hubungan Timbal-Balik: Ungkapan "Saling memuja, saling menjaga" menggambarkan hubungan yang saling melengkapi dan mendukung antara elemen-elemen kehidupan. Ini bisa merujuk pada hubungan antara siang dan malam, bulan dan kelam, menciptakan keseimbangan dalam perjalanan kehidupan.

Pintu Rahasia: Metafora "pintu rahasia" memberikan sentuhan misteri dan keajaiban pada perjalanan kehidupan. Pintu rahasia bisa menjadi simbol peluang, keberuntungan, atau makna mendalam yang terungkap seiring waktu.

Penggambaran Rindu dan Basah: "Rindu setia pada basah" menciptakan gambaran yang sangat emosional dan mendalam. Ini bisa merujuk pada rindu yang penuh kelembutan dan keaslian, serta perasaan yang muncul dari pengalaman hidup.

Do'a dan Kebingungan Hidup: Do'a yang terbang ke angkasa menciptakan citra spiritualitas dan hubungan yang mendalam dengan Tuhan. Pada saat yang sama, kebingungan hidup diungkapkan melalui do'a ini, mencerminkan kompleksitas dan tantangan dalam menavigasi kehidupan.

Laut, Gunung, dan Keberanian: Deskripsi tentang laut dan gunung yang berjumpalitan, serta dada yang berdebaran, memberikan nuansa petualangan dan keberanian dalam menjalani perjalanan hidup yang penuh tantangan.

Setetes Darah dan Pengorbanan: Metafora "setetes darah pada pengorbanan" menyoroti pentingnya pengorbanan dan keberanian dalam mencapai sesuatu yang bernilai. Darah menjadi simbol kehidupan dan pengorbanan yang tidak terhindarkan.

Puisi "Demi Waktu" menggambarkan kehidupan sebagai perjalanan menuju keabadian dengan penuh makna. Dengan penggunaan bahasa yang indah dan simbolisme yang kaya, Weni Suryandari mengajak pembaca untuk merenung tentang esensi kehidupan dan perannya dalam menjalani perjalanan waktu yang terus berlanjut.

Weni Suryandari
Puisi: Demi Waktu
Karya: Weni Suryandari

Biodata Weni Suryandari:
  • Weni Suryandari lahir pada tanggal 4 Februari 1966 di Surabaya, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.