Puisi: Desember dalam Semangkuk Bulgogi (Karya Tengsoe Tjahjono)

Puisi “Desember dalam Semangkuk Bulgogi” karya Tengsoe Tjahjono menghadirkan pengalaman yang unik: sebuah semangkuk bulgogi, salju, musim dingin, ...

Desember dalam Semangkuk Bulgogi

kupesan bulgogi. salju mengapur jendela. hari kemarin
mendidih di antara serpihan daging dan sayur mayur. tapak
jejak mengabur, terbuka untuk dibaca. monitor 1000 inci
diserbu perca-perca peristiwa, tautan-tautan yang mesti
dirunut muaranya

kuah pedas, menipiskan air mata. hanya bibir sedikit
terbakar, tanpa kata. lalu desember pelan mengelupas
seperti kulit bawang.
sebelum dirajang di meja dapur. mengurai kenangan asin-
masam

musim-musim menyisakan suhu di tubuh dan taman.
bunga-daun-ranting saling menyusul berebut pijar matahari
dan kecipak sungai.
masing-masing suapan terasa seperti kata-kata dalam kitab
suci. datanglah padaku yang letih-lesu. pada salju sepatu
pun belajar perkasa dan berlari

desember selalu ditunggu dan ditinggalkan lalu. pesta
yang menyisakan piring dan gelas. meja dengan tumpahan
weski dan remah roti. di bawah guguran salju mata siapa
terpejam. melupakan bulgogi yang perlahan mendingin

desember menjadi bubur. sesampai di mulut, lidahmu terasa
asing.

Seoul, 31 Desember 2014

Sumber: Meditasi Kimchi: kitab puisi tentang Korea (Pelangi Sastra Malang, 2016)

Analisis Puisi:

Puisi “Desember dalam Semangkuk Bulgogi” karya Tengsoe Tjahjono menghadirkan pengalaman yang unik: sebuah semangkuk bulgogi, salju, musim dingin, kenangan, peristiwa masa lalu, hingga rasa asing yang tertinggal di lidah. Melalui benda-benda sehari-hari dan suasana makan, penyair membangun perenungan tentang waktu, kenangan, perubahan, kelelahan, dan pengalaman hidup yang terus bergerak.

Bulgogi dalam puisi ini tidak hanya berfungsi sebagai makanan. Semangkuk makanan menjadi pintu masuk untuk mengenang hari-hari yang telah berlalu. Sementara itu, Desember menjadi simbol waktu yang datang, dinantikan, kemudian ditinggalkan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan waktu dan kenangan yang meninggalkan perubahan dalam diri manusia. Tema tersebut tampak sejak bagian awal:

“hari kemarin
mendidih di antara serpihan daging dan sayur mayur”

Masa lalu tidak sekadar dikenang, tetapi seolah hadir kembali di dalam makanan yang sedang disantap. Pengalaman masa lalu bercampur dengan pengalaman masa kini. Tema perubahan waktu semakin terlihat dalam:

“lalu desember pelan mengelupas
seperti kulit bawang”

Desember tidak digambarkan sebagai sesuatu yang tetap. Waktu terus “mengelupas”, membuka lapisan demi lapisan kenangan dan pengalaman.

Pada bagian akhir, penyair menunjukkan bahwa waktu terus berjalan hingga sesuatu yang dahulu akrab dapat berubah menjadi asing:

“desember menjadi bubur. sesampai di mulut, lidahmu terasa
asing.”

Dengan demikian, tema puisi ini berkaitan dengan waktu yang terus berubah dan mengubah cara manusia merasakan kenangan, tempat, pengalaman, bahkan dirinya sendiri.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kenangan tidak pernah benar-benar tetap. Seiring waktu, pengalaman yang dahulu dekat dapat berubah, memudar, atau terasa asing ketika kembali dihadapi.

Bulgogi dalam puisi dapat dipahami sebagai simbol pengalaman sehari-hari yang membawa ingatan. Ketika penyair makan, berbagai peristiwa masa lalu kembali hadir.

Namun kenangan tersebut tidak tersusun secara rapi. Penyair menyebut:

“perca-perca peristiwa”

“tautan-tautan yang mesti
dirunut muaranya”

Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia terdiri atas potongan-potongan pengalaman yang tidak selalu mudah dipahami hubungannya.

Makna tersirat lainnya terdapat pada:

“desember pelan mengelupas
seperti kulit bawang”

Seperti bawang yang memiliki banyak lapisan, kehidupan dan kenangan manusia juga memiliki banyak lapisan. Ketika satu lapisan dibuka, muncul lapisan lain yang mungkin menyimpan pengalaman berbeda.

Pada bagian akhir:

“lidahmu terasa asing”

terdapat makna yang cukup mendalam. Rasa asing tersebut dapat menunjukkan bahwa perjalanan waktu telah mengubah manusia. Bukan hanya dunia yang berubah, tetapi cara manusia merasakan dunia juga berubah.

Sesuatu yang dahulu dikenal dapat menjadi asing karena manusia telah mengalami berbagai peristiwa.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa manusia perlu menyadari bahwa waktu terus berjalan dan setiap pengalaman akan berubah ketika dilihat dari jarak waktu yang berbeda.

Puisi mengajarkan bahwa kenangan dapat menjadi bagian penting dari kehidupan, tetapi manusia tidak dapat kembali sepenuhnya ke masa lalu.

Desember:

“selalu ditunggu dan ditinggalkan lalu”

Kalimat tersebut menunjukkan siklus kehidupan. Sesuatu yang dinantikan akhirnya akan berlalu dan menjadi bagian dari masa lalu.

Puisi juga dapat dimaknai sebagai ajakan untuk menerima perubahan. Kehidupan tidak selalu memberikan rasa yang tetap. Ada masa ketika sesuatu yang dahulu terasa akrab justru menjadi asing.

Selain itu, terdapat pesan bahwa manusia perlu merenungkan jejak pengalaman hidupnya, memahami hubungan antara peristiwa satu dan lainnya, serta menerima bahwa tidak semua kenangan dapat dijelaskan secara utuh.

Tengsoe Tjahjono
Puisi: Desember dalam Semangkuk Bulgogi
Karya: Tengsoe Tjahjono

Biodata Tengsoe Tjahjono:
  • Tengsoe Tjahjono lahir pada tanggal 3 Oktober 1958 di Jember, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.