Puisi: Detak Arloji (Karya Tjahjono Widarmanto)

Puisi "Detak Arloji" karya Tjahjono Widarmanto menggambarkan perasaan ketergesaan, kerentanan, dan perubahan dalam hidup manusia.
Detak Arloji

detak arloji itu tiba-tiba dentamkan bisu
langkahku yang renta dipaksa bergegas
tersuruk dalam puing-puing waktu berdaki

mata gerhana menikam

kaki terluka gemetar tapi tak bisa roboh
menyeret gagasku dalam belukar usia lapar dan sempit

gerhana kembali menyergap
menelanjangi tubuhku lantas tertawa menuding
Sambil kencingi sajak-sajakku

dari onggok sajak itu tercium bau pesing dan anyir
ulat belatung merayap nggerogoti wajahku

Sumber: Perbincangan Terakhir dengan Tuan Guru (2018)

Analisis Puisi:

Puisi "Detak Arloji" karya Tjahjono Widarmanto adalah sebuah karya sastra yang menggambarkan perasaan ketergesaan, kerentanan, dan perubahan dalam hidup manusia. Dalam puisi ini, penyair menggunakan gambaran arloji dan peristiwa alam untuk merenungkan tentang waktu dan eksistensi.

Perasaan Ketergesaan dan Kerentanan:
  1. Detak Arloji yang Mendalam: Puisi ini dimulai dengan gambaran detak arloji yang tiba-tiba "dentamkan bisu," menciptakan suasana ketergesaan dan perubahan mendadak. Ini menggambarkan bagaimana waktu dapat mempengaruhi perasaan dan situasi seseorang.
  2. Langkah yang Renta dan Puing-puing Waktu: Penyair menggambarkan "langkahku yang renta" yang dipaksa untuk bergegas dan tersuruk "dalam puing-puing waktu berdaki." Ini menciptakan gambaran tentang seseorang yang merasa terjebak dalam perubahan waktu dan merasa rentan.
Kerentanan Tubuh dan Jiwa: 
  1. Mata Gerhana Menikam: Puisi ini menggunakan gambaran "mata gerhana menikam," yang menciptakan citra penjajaran antara perubahan alam dan perubahan dalam kehidupan manusia. Mata gerhana menggambarkan perubahan yang tiba-tiba dan tajam.
  2. Kaki Terluka Gemetar: Gambaran "kaki terluka gemetar tapi tak bisa roboh" menggambarkan kerentanan tubuh dan kemauan yang kuat untuk bertahan meskipun dalam keadaan sulit.
Perubahan dan Pergeseran:
  1. Belukar Usia Lapar dan Sempit: Puisi ini menggambarkan keadaan belukar usia yang lapar dan sempit, menciptakan gambaran tentang perubahan dan situasi yang menghambat perjalanan kehidupan.
  2. Gerhana yang Menyergap: Pengulangan gambaran gerhana yang "kembali menyergap" menggambarkan pengulangan perubahan dan tantangan dalam hidup.
Refleksi dan Perubahan dalam Karya Sastra:
  1. Gerhana Menelanjangi Tubuhku: Penyair menggambarkan gerhana yang "menelanjangi tubuhku," yang dapat diartikan sebagai pengalaman yang menghadapkan seseorang pada kerentanan dan perubahan.
  2. Sajak-sajak yang Dikencingi: Penyair menggunakan gambaran bahwa gerhana "tertawa menuding sambil kencingi sajak-sajakku," menciptakan citra pengabaian dan perubahan terhadap hasil karya.
Kesimpulan dan Pesan Filosofis: Puisi ini merenungkan tentang perubahan, kerentanan, dan bagaimana waktu dapat mempengaruhi perasaan dan identitas manusia. Dengan menggunakan gambaran alam dan peristiwa alam, penyair menggambarkan perubahan sebagai sesuatu yang tak terhindarkan dan seringkali tiba-tiba.

Puisi ini juga mengajukan pertanyaan tentang bagaimana perubahan tersebut mempengaruhi karya dan eksistensi seseorang. Keseluruhan puisi ini menciptakan atmosfer melankolis yang mengajak pembaca untuk merenung tentang perjalanan hidup dan pengaruh waktu terhadap manusia.

Secara keseluruhan, puisi "Detak Arloji" karya Tjahjono Widarmanto adalah sebuah karya sastra yang menggambarkan perubahan, kerentanan, dan perasaan manusia terhadap waktu dan peristiwa alam. Melalui imaji-imaji yang kuat dan bahasa yang mendalam, puisi ini mengajak pembaca untuk merenung tentang arti dan makna di balik perubahan dalam hidup manusia.

Tjahjono Widarmanto
Puisi: Detak Arloji
Karya: Tjahjono Widarmanto

Biodata Tjahjono Widarmanto:
  • Tjahjono Widarmanto lahir pada tanggal 18 April 1969 di Ngawi, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.