Detik pun Berlarian
matahari terbanting
petaka adalah gemuruhnya
detik pun berlarian
menjeritkan nestapa
dan bila kubuka jendela
pada matamu segalanya mereda
1984
Sumber: Horison (Mei, 1989)
Analisis Puisi:
Puisi “Detik pun Berlarian” karya Maman S. Tawie menggambarkan keadaan batin seseorang ketika menghadapi petaka, kegelisahan, dan nestapa. Meskipun hanya terdiri atas tiga bait pendek, puisi ini memiliki perubahan suasana yang kuat: dari keadaan penuh bencana dan kecemasan menuju ketenangan ketika penyair memandang seseorang yang dicintainya.
Kekuatan puisi ini terletak pada penggunaan simbol matahari, detik, jendela, dan mata. Keempat unsur tersebut tidak sekadar menggambarkan benda atau keadaan secara harfiah, tetapi menjadi media untuk menyampaikan pengalaman emosional penyair.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kekuatan kasih atau kehadiran seseorang dalam meredakan kegelisahan dan penderitaan batin.
Pada dua bait pertama, puisi menghadirkan gambaran tentang petaka dan nestapa. Namun, pada bait terakhir terjadi perubahan yang sangat jelas:
“dan bila kubuka jendelapada matamu segalanya mereda”
“Mata” dalam larik tersebut dapat dimaknai sebagai simbol seseorang yang memberikan ketenangan kepada penyair. Dengan memandang mata orang tersebut, segala kegelisahan seolah menghilang.
Dengan demikian, tema puisi dapat pula dikaitkan dengan cinta, ketenangan, dan harapan di tengah keadaan yang penuh tekanan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehadiran seseorang yang dicintai dapat menjadi tempat berlindung secara emosional ketika seseorang menghadapi masa sulit.
“Matahari terbanting” dapat dimaknai sebagai simbol runtuhnya keadaan yang sebelumnya normal atau baik. Sementara “petaka” dan “nestapa” menunjukkan penderitaan yang sedang dialami.
Kemudian muncul simbol “jendela”:
“dan bila kubuka jendela”
Jendela biasanya menjadi penghubung antara ruang dalam dan dunia luar. Dalam puisi ini, jendela dapat ditafsirkan sebagai simbol jalan untuk membuka diri, melihat, atau mendekati seseorang.
Yang lebih menarik adalah frasa:
“pada matamu”
Mata dapat menjadi simbol kasih, perhatian, ketulusan, atau rasa aman. Ketika penyair membuka “jendela” kepada mata seseorang, dunia yang sebelumnya penuh petaka berubah menjadi tenang.
Makna tersiratnya adalah bahwa kasih dan kedekatan emosional dapat mengubah cara seseorang mengalami penderitaan. Masalah mungkin belum benar-benar hilang, tetapi kehadiran orang yang memberikan rasa aman membuat penderitaan tersebut terasa lebih ringan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan, manusia membutuhkan tempat untuk menemukan ketenangan.
Tempat tersebut tidak selalu berupa lokasi fisik. Ia dapat berupa seseorang yang memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan ketenangan.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa ketika kehidupan terasa penuh petaka dan masalah, hubungan emosional dengan orang yang dipercaya dapat membantu seseorang melewati masa sulit.
Selain itu, puisi menyiratkan bahwa ketenangan batin dapat ditemukan melalui kasih dan kedekatan, bahkan ketika keadaan di luar diri sedang tidak menentu.
Karya: Maman S. Tawie
Biodata Maman S. Tawie:
- Maman S. Tawie adalah salah satu sastrawan asal Kalimantan Selatan.
- Maman S. Tawie lahir pada tanggal 25 September 1957 di dusun Sei Tirik, desa Lokpaikat, kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
- Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa seperti Horison, Pelita, Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Radar Banjarmasin, Angkatan Bersenjata, Merdeka, Kompas, Suara Karya, Zaman, Eksponen, dan Berita Buana.
- Maman S. Tawie meninggal dunia pada tanggal 7 April 2014 (pada usia 56 tahun).
