Di Beranda
di beranda
pada senja ini aku beristirah
menikmati rona jingga dan lembayung
melihat burung burung melintas
: entah di mana ia beristirah
pada rumah atau pada senja yang tak lagi ramah
di beranda
seperti roti yang keras dikunyah
atau seperti secangkir teh sepah
tanpa gula dan doa-doa
: hidup seperti lintasan pagi dan siang
berperang mengejar malam
di beranda
kita bisa melukis senja kapan saja
menciptakan malam, dan menduga pagi kan kembali
dengan sebatang rokok, kita sulut langit menggelap
sembari menunggu anak-anak menyanyikan
padang rembulan
di pelataran yang tinggal sepetak
tempat tubuh kita tergeletak
mendoai kubur sendiri
di beranda
kita hanya menunggu mati
meski waktu tak kan pasti
Sidoarjo, Oktober 2012
Sumber: Gresla Mamoso: kumpulan puisi (Forum Sastra Bersama Surabaya, 2013)
Analisis Puisi:
Puisi “Di Beranda” karya R. Giryadi merupakan puisi kontemplatif yang menggambarkan seseorang sedang berhenti sejenak di beranda untuk memandang senja, merenungkan perjalanan hidup, serta menyadari bahwa manusia pada akhirnya bergerak menuju kematian. Beranda dalam puisi ini bukan hanya sebuah tempat fisik, melainkan dapat dimaknai sebagai ruang perenungan antara kehidupan yang terus berjalan dan akhir yang pasti menunggu.
Dengan memanfaatkan gambaran senja, burung, teh sepah, rokok, malam, anak-anak, hingga kuburan, puisi ini membangun perenungan tentang usia, waktu, kehidupan, dan kematian.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perenungan tentang perjalanan hidup dan kesadaran manusia terhadap kematian. Tema tersebut tampak sejak bagian awal ketika penyair memilih untuk beristirahat:
“pada senja ini aku beristirah
menikmati rona jingga dan lembayung”
Senja sering dikaitkan dengan penghujung hari. Dalam konteks puisi, senja dapat pula menjadi simbol perjalanan manusia yang telah memasuki tahap akhir kehidupan atau masa ketika seseorang mulai banyak melakukan perenungan.
Tema kematian tampak semakin jelas pada bagian:
“tempat tubuh kita tergeletakmendoai kubur sendiri”
dan ditutup dengan:
“kita hanya menunggu matimeski waktu tak kan pasti”
Dengan demikian, puisi ini berbicara tentang kesadaran eksistensial manusia bahwa kehidupan terus bergerak, sementara kematian merupakan sesuatu yang pasti meskipun waktunya tidak pernah diketahui.
Selain itu, terdapat pula tema kejenuhan hidup, perjalanan waktu, dan pencarian makna kehidupan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa hidup merupakan perjalanan yang singkat, penuh kelelahan dan ketidakpastian, sehingga manusia perlu menyadari keterbatasan dirinya sebelum waktu benar-benar berakhir.
Beranda dapat dimaknai sebagai simbol tempat berhenti dan merenung. Seseorang yang berada di beranda tidak sepenuhnya berada di dalam rumah dan tidak sepenuhnya berada di luar. Posisi tersebut dapat menggambarkan manusia yang berada di antara masa lalu dan masa depan, antara kehidupan yang sedang dijalani dan kematian yang menunggu.
Senja juga memiliki makna simbolis. Senja bukan sekadar waktu menjelang malam, tetapi dapat menggambarkan fase kehidupan yang menuju penghujung.
Sementara itu, ungkapan:
“seperti roti yang keras dikunyah”
menunjukkan bahwa kehidupan membutuhkan perjuangan. Ada pengalaman yang tidak mudah diterima dan harus dijalani dengan susah payah.
Adapun:
“secangkir teh sepahtanpa gula dan doa-doa”
menyiratkan kehidupan yang kehilangan rasa, harapan, atau penghiburan spiritual.
Puisi ini juga memperlihatkan ironi ketika penyair menyatakan:
“kita bisa melukis senja kapan sajamenciptakan malam, dan menduga pagi kan kembali”
Manusia dapat merencanakan dan membayangkan banyak hal, tetapi tidak dapat memastikan apakah ia benar-benar akan menyaksikan pagi berikutnya. Karena itu, bagian akhir:
“kita hanya menunggu matimeski waktu tak kan pasti”
menjadi pengingat tentang keterbatasan manusia dalam menentukan nasib dan waktu kehidupannya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah agar manusia menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa waktu sangat terbatas dan kematian dapat datang tanpa kepastian waktu.
Manusia terus menjalani rutinitas, mengejar berbagai hal, dan bergerak dari pagi menuju malam. Namun, pada akhirnya semua orang akan sampai pada batas kehidupan.
Puisi ini mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, seperti penyair yang duduk di beranda, kemudian bertanya kepada diri sendiri: apakah kehidupan yang sedang dijalani telah memiliki makna?
Pesan lain yang dapat dipahami adalah pentingnya menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu manis. Ada masa ketika kehidupan terasa berat, hambar, dan melelahkan. Namun, kesadaran terhadap kenyataan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memahami kehidupan secara lebih dewasa.
Bagian:
“mendoai kubur sendiri”
juga dapat dimaknai sebagai ajakan untuk mempersiapkan diri. Manusia pada akhirnya tidak dapat sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab kehidupannya kepada orang lain. Setiap orang perlu merenungkan perjalanan hidup dan mempersiapkan dirinya menghadapi akhir kehidupan.
Karya: R. Giryadi
Biodata R. Giryadi:
- Rakhmat Giryadi lahir pada tanggal 10 April 1969 di Blitar.
- Rakhmat Giryadi meninggal dunia pada tanggal 8 Juli 2019 di RSUD Sidoarjo.