Puisi: Duduk di Pinggir Sungai (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Duduk di Pinggir Sungai" karya Gunoto Saparie menggambarkan bahwa perjalanan waktu membawa perubahan yang tidak hanya terjadi pada manusia, ...
Duduk di Pinggir Sungai

duduk di pinggir sungai
yang mengalir ke utara 
aku pun mengail santai
namun ikan-ikan entah ke mana

di ujung musim air kali surut
bertebaran sampah dan kotoran
tiada lagi keheningan dan kebeningan
masa kecilku dalam kenangan berkabut

ruang dan waktu telah berlalu
ingatan pun mendesak benak
jam-jam terus saja berdetak
menatap arus aku terlanda dejavu

ketika melintasi jalan setapak
menuju ke rumah pusaka, jalan kanak-kanak
kaukah itu menembang dan bermain melodi?
burung-burung kecil pun justru beterbangan dalam sepi

2020

Analisis Puisi:

Puisi "Duduk di Pinggir Sungai" karya Gunoto Saparie merupakan puisi reflektif yang mengangkat tema kenangan, perubahan lingkungan, dan perjalanan waktu. Melalui gambaran sederhana tentang seseorang yang duduk memancing di tepi sungai, penyair menghadirkan renungan mendalam mengenai perubahan alam sekaligus perubahan kehidupan manusia.

Sungai dalam puisi ini bukan sekadar bentang alam, melainkan simbol perjalanan hidup yang terus mengalir. Perubahan kondisi sungai menjadi cermin berubahnya zaman, memudarnya kenangan masa kecil, dan munculnya rasa rindu terhadap kehidupan yang pernah begitu sederhana dan damai.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan terhadap masa lalu dan keprihatinan atas perubahan lingkungan serta kehidupan. Tema tersebut didukung oleh beberapa tema pendukung, yaitu:
  • Kenangan masa kecil.
  • Perjalanan waktu.
  • Kerusakan lingkungan.
  • Nostalgia.
  • Hubungan manusia dengan alam.

Makna Tersirat

Puisi ini memiliki makna tersirat bahwa perjalanan waktu membawa perubahan yang tidak selalu menyenangkan.

Sungai melambangkan kehidupan yang terus mengalir tanpa dapat dihentikan. Arusnya menjadi simbol waktu yang membawa manusia menjauh dari masa kecil.

Ikan yang menghilang menyiratkan hilangnya keseimbangan alam sekaligus memudarnya kebahagiaan sederhana yang pernah dimiliki.

Sampah dan air yang surut menjadi simbol kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, sekaligus lambang memudarnya nilai-nilai kehidupan yang dahulu lebih harmonis.

Rumah pusaka melambangkan asal-usul, keluarga, dan identitas yang selalu dirindukan meskipun waktu terus berjalan.

Sementara itu, burung-burung yang beterbangan dalam sepi menjadi simbol hilangnya keceriaan masa kecil serta berubahnya suasana yang dahulu penuh kehidupan.

Secara keseluruhan, puisi ini mengingatkan bahwa manusia perlu menjaga alam sekaligus menghargai kenangan, karena keduanya merupakan bagian penting dari jati diri.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting.
  • Alam harus dijaga agar tetap lestari bagi generasi berikutnya.
  • Kenangan masa kecil merupakan bagian berharga yang membentuk kepribadian seseorang.
  • Waktu akan terus berjalan, tetapi nilai-nilai kehidupan yang baik hendaknya tetap dipelihara.
  • Kerusakan lingkungan dapat menghilangkan keindahan dan keseimbangan hidup manusia.
  • Manusia perlu sesekali menoleh ke masa lalu untuk memahami perjalanan hidupnya.
Melalui puisi ini, penyair mengajak pembaca menghargai alam dan mengenang masa lalu sebagai sumber kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Puisi "Duduk di Pinggir Sungai" karya Gunoto Saparie merupakan puisi yang memadukan nostalgia pribadi dengan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui simbol sungai, ikan, rumah pusaka, dan jalan setapak, penyair menggambarkan bahwa perjalanan waktu membawa perubahan yang tidak hanya terjadi pada manusia, tetapi juga pada alam di sekitarnya.

Puisi ini mengajak pembaca merenungkan pentingnya menjaga lingkungan sekaligus menghargai kenangan masa lalu. Sungai dalam puisi ini menjadi lambang kehidupan yang terus mengalir, sementara kenangan menjadi hulu yang selalu memberi makna bagi perjalanan manusia.

Gunoto Saparie
Puisi: Duduk di Pinggir Sungai
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.