Puisi: Gerilyawan (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Gerilyawan" karya Gunoto Saparie memuji semangat dan pengorbanan para gerilyawan yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
Gerilyawan

dalam kegelapan malam
mereka pun tiarap, lalu merangkak
mereka bergegas menembus kelam
terus maju, "merdeka atau menjadi budak!"

tanah air basah darah memerah
korban-korban gugur bunga bangsa
karena cinta pada negeri indonesia
mereka pun berjuang tanpa kenal lelah

dengan menggenggam bambu runcing
semangat mereka terbakar, berkobar
tak gentar menerjang peluru mendesing
percaya kemerdekaan menyingsing bagai fajar

dalam keremangan subuh dinihari
mereka tetap fokus pada satu tujuan
gerilyawan tanpa pamrih, "merdeka atau tenggelam!"
mereka yakin tuhan berpihak kepada ibu pertiwi

2021

Analisis Puisi:

Puisi "Gerilyawan" karya Gunoto Saparie adalah sebuah karya yang memuji semangat dan pengorbanan para gerilyawan yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Puisi ini menciptakan gambaran heroik tentang perjuangan mereka.

Tema Pembebasan dan Patriotisme: Puisi ini secara konsisten mencerminkan tema pembebasan dan patriotisme. Ini berbicara tentang gerilyawan yang berjuang untuk meraih kemerdekaan Indonesia dari penjajah, dan tema ini sangat sentral dalam puisi.

Simbolisme Malam dan Kelam: Penggunaan "kegelapan malam" dan "kelam" dalam puisi ini menciptakan kontras dengan semangat dan terang yang dibawa oleh gerilyawan. Malam dan kegelapan dapat diinterpretasikan sebagai penindasan dan keadaan sulit yang dihadapi oleh bangsa Indonesia di bawah penjajahan.

Semangat dan Pengorbanan: Puisi ini menyoroti semangat dan pengorbanan para gerilyawan. Mereka merangkak di dalam kegelapan malam, melalui bahaya, dan bahkan menghadapi kematian demi cita-cita kemerdekaan. Ini adalah gambaran heroik dari keberanian dan tekad mereka.

Bahasa dan Gaya: Penulis menggunakan bahasa yang kuat dan gaya sastra yang mendalam untuk menciptakan suasana yang membangkitkan semangat. Pilihan kata-kata seperti "merdeka atau menjadi budak" dan "kemerdekaan menyingsing bagai fajar" memperkuat pesan pembebasan.

Religiusitas: Puisi ini juga menggambarkan keyakinan para gerilyawan pada tuhan dan bahwa Tuhan berpihak kepada Indonesia. Ini menciptakan dimensi spiritual dalam perjuangan mereka.

Gambaran Heroik: Puisi ini menciptakan gambaran heroik tentang gerilyawan yang melawan penjajah dengan sederetan gambaran seperti menggenggam bambu runcing dan menerjang peluru mendesing. Ini mengilustrasikan kekuatan dan keberanian mereka.

Puisi "Gerilyawan" karya Gunoto Saparie adalah penghormatan kepada para pahlawan kemerdekaan Indonesia. Dalam puisi ini, penulis mengekspresikan semangat, pengorbanan, dan tekad para gerilyawan yang berjuang demi kemerdekaan. Bahasa dan gambaran yang digunakan menciptakan kesan heroik yang mendalam tentang perjuangan mereka untuk merdeka.

Puisi: Gerilyawan
Puisi: Gerilyawan
Karya: Gunoto Saparie


BIODATA GUNOTO SAPARIE

Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.