Puisi: Hujan yang Datang (Karya Remmy Novaris DM)

Puisi “Hujan yang Datang” karya Remmy Novaris DM menghadirkan gambaran tentang kehidupan, kematian, dan perubahan suasana yang terjadi secara tiba ..

Hujan yang Datang

hanya sebuah hotel. orang datang. orang pergi
dari kota-kota tak dikenal. mengabarkan ajal.
(siapa yang terpelanting dari lantai tujuh
menyisakan teriakan di pelataran yang panas?)

: ada roh yang tiba-tiba menguap dari batu
ada wajah mengering di atas debu

tapi tiba-tiba hujan datang
menyapu semua dongeng tentang kematian

'93

Sumber: Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Grasindo, Jakarta, 2000)

Analisis Puisi:

Puisi “Hujan yang Datang” karya Remmy Novaris DM merupakan puisi yang menghadirkan gambaran tentang kehidupan, kematian, dan perubahan suasana yang terjadi secara tiba-tiba. Melalui latar sebuah hotel, penyair memperlihatkan tempat yang menjadi persinggahan bagi banyak orang dari berbagai kota. Namun, di balik aktivitas datang dan pergi tersebut, muncul bayangan tentang ajal, kematian, roh, teriakan, dan wajah yang mengering di atas debu.

Menariknya, puisi ini tidak berakhir dalam suasana kematian. Pada bagian akhir, hujan datang secara tiba-tiba dan “menyapu semua dongeng tentang kematian”. Kehadiran hujan menjadi bagian penting dalam puisi karena membawa perubahan dari suasana panas, kering, dan mencekam menuju kemungkinan baru.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kematian, kefanaan hidup, serta datangnya pembaruan yang seolah menghapus jejak kesedihan dan kematian.

Puisi ini bercerita tentang sebuah hotel yang menjadi tempat persinggahan banyak orang. Mereka datang dan pergi dari kota-kota yang tidak dikenal. Akan tetapi, aktivitas tersebut tidak digambarkan sebagai perjalanan biasa. Kehadiran mereka justru dikaitkan dengan “ajal”.

Kata-kata:

“hanya sebuah hotel. orang datang. orang pergi”

menggambarkan kehidupan manusia yang bersifat sementara. Hotel dapat dimaknai sebagai tempat singgah, bukan tempat tinggal yang permanen. Dalam konteks yang lebih luas, kehidupan manusia juga dapat dipandang sebagai sebuah perjalanan: manusia datang, menjalani kehidupannya, kemudian pergi.

Tema kematian semakin kuat melalui gambaran seseorang yang terpelanting dari lantai tujuh, teriakan yang tertinggal di pelataran, roh yang menguap, serta wajah yang mengering di atas debu.

Namun, bagian akhir menghadirkan perubahan penting:

“tapi tiba-tiba hujan datang
menyapu semua dongeng tentang kematian”

Hujan menjadi simbol yang mengubah keseluruhan suasana puisi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini dapat dipahami sebagai perenungan mengenai ketidakabadian hidup dan cara alam atau waktu menghapus jejak berbagai peristiwa, termasuk kematian.

Hotel tidak hanya dapat dipahami sebagai bangunan tempat orang menginap. Hotel juga dapat menjadi simbol kehidupan yang bersifat sementara. Orang datang dan pergi, sebagaimana manusia hadir dan kemudian meninggalkan kehidupan.

Sementara itu, “kota-kota tak dikenal” dapat menggambarkan ketidakpastian asal-usul, perjalanan, atau arah kehidupan manusia. Setiap orang membawa kisahnya masing-masing, tetapi pada akhirnya semua manusia menghadapi kenyataan yang sama, yaitu kematian.

Bagian:

“ada roh yang tiba-tiba menguap dari batu
ada wajah mengering di atas debu”

menghadirkan gambaran bahwa kematian dapat meninggalkan jejak yang mengerikan. Namun, jejak tersebut tidak berlangsung selamanya.

Ketika hujan datang, semua “dongeng tentang kematian” disapu. Hujan dapat dimaknai sebagai simbol pembersihan, perubahan, kehidupan baru, atau berlalunya waktu. Sesuatu yang sebelumnya terasa begitu besar dan menakutkan akhirnya dapat memudar.

Dengan demikian, puisi ini juga dapat menyampaikan gagasan bahwa kematian memang menjadi bagian dari kehidupan, tetapi kehidupan terus bergerak dan waktu tidak berhenti hanya karena sebuah peristiwa tragis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan dan kematian merupakan bagian dari perjalanan yang tidak dapat dipisahkan, tetapi manusia tidak dapat terus-menerus terjebak dalam kesedihan dan bayang-bayang kematian.

Setiap manusia datang dan pergi. Tidak ada kehidupan yang berlangsung selamanya. Karena itu, manusia perlu menyadari bahwa segala sesuatu bersifat sementara.

Puisi ini juga dapat mengajarkan bahwa setelah suatu peristiwa tragis, kehidupan tetap berjalan. Waktu terus bergerak, dan perubahan akan selalu datang. Dalam puisi ini, hujan menjadi gambaran bahwa sesuatu yang baru dapat muncul setelah suasana yang panas, kering, dan penuh kematian.

Selain itu, pembaca juga dapat mengambil pesan bahwa tidak semua jejak peristiwa akan bertahan selamanya. Alam dan waktu dapat mengubah cara manusia memandang kenangan, kesedihan, bahkan kematian.

Remmy Novaris DM
Puisi: Hujan yang Datang
Karya: Remmy Novaris DM

Biodata Remmy Novaris DM:
  • Remmy Novaris Daud Masinambouw lahir 5 November 1958.
© Sepenuhnya. All rights reserved.