Puisi: Kasih di Seberang Sana (Karya Maman S. Tawie)

Puisi “Kasih di Seberang Sana” karya Maman S. Tawie menyampaikan bahwa kerinduan merupakan bagian dari cinta. Ketika seseorang benar-benar berarti, ..

Kasih di Seberang Sana

O, malam. Kau di depan jendela
Kasihku di seberang sana
Suaranya dalam nyala hatiku

O, pulau jauh
membayang di cermin tua
Kasihku di seberang sana
mengadu sendu
jiwaku hampa

Wahai, kasihku di seberang sana
aku mengembara
mendengar nyanyian gemintang
antara waktu dan mauku
Mengapa sedumu bertanya dalam kalbuku?

Mendung, biarkan aku, tanpa cium
Kasihku di seberang sana
bisu tanpa tanya

Garis-garis langit, tersirat
dan bibir ini, kasih
mengucap salam duka
dalam kegaiban cinta

Di hutan belantara, gunung, lautan
dan lembah, berlagu
dalam gaung
cerminku retak
di malam putih

Musim bersanding
di telaga biru yang dingin
dan kau di depan jendela, kasihku
memejam mata

Mendung, biarkan aku, tanpa cium
sebelum panas menjalar
senyum di kaki langit pijar
melukai mimpi
yang sembunyi dalam hening mawar

Dalam hujan, guruh, petir
dan badai
kekasihku
kau pandang muka lukaku
dengan sayang

O, di seberang sana
kau singkap tirai
bersatu kita
dalam fana menggapai bumi ini
kukawini sepi

O, malam. Kau di depan jendela
ia datang merasuki dada
Kasih di seberang sana
mengetuk lagu dan ciumku

Kasih di seberang sana
terpisah sudah

1975

Sumber: Kebun di Belakang Rumah (1995)

Analisis Puisi:

Puisi “Kasih di Seberang Sana” karya Maman S. Tawie merupakan puisi yang mengangkat persoalan cinta, jarak, kerinduan, kesepian, dan perpisahan. Penyair menggunakan malam, jendela, pulau jauh, mendung, hujan, guruh, petir, badai, gunung, lautan, dan langit sebagai gambaran keadaan batin seseorang yang terpisah dari kekasihnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan cinta terhadap seseorang yang berada jauh, yang pada akhirnya berhadapan dengan kenyataan perpisahan. Tema tersebut tampak sangat jelas melalui pengulangan:

“Kasihku di seberang sana”

Frasa tersebut muncul berkali-kali dan menjadi pusat perhatian puisi. “Seberang sana” dapat dipahami sebagai simbol jarak—jarak tempat, waktu, keadaan, maupun perasaan.

Tema kerinduan semakin kuat melalui:

“jiwaku hampa”

dan:

“Mengapa sedumu bertanya dalam kalbuku?”

Penyair menggambarkan cinta yang masih terasa dekat secara batin, meskipun secara fisik berada jauh.

Pada bagian akhir, tema cinta tersebut berubah menjadi tema perpisahan:

“Kasih di seberang sana
terpisah sudah”

Kalimat ini menjadi penutup yang menegaskan bahwa kerinduan yang sejak awal memenuhi puisi akhirnya berujung pada kehilangan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta dapat tetap hidup dalam ingatan dan perasaan meskipun dua orang secara fisik terpisah, tetapi cinta tidak selalu mampu mengalahkan keadaan dan waktu.

“Seberang sana” bukan sekadar tempat yang jauh. Ia dapat menjadi simbol sesuatu yang sulit dijangkau. Kekasih mungkin masih hadir dalam hati, tetapi tidak lagi dapat hadir sepenuhnya dalam kehidupan nyata.

Hal tersebut tampak pada:

“Suaranya dalam nyala hatiku”

Kekasih tidak hadir secara fisik, tetapi suaranya masih hidup dalam hati penyair.

Ungkapan:

“cerminku retak”

juga memiliki makna simbolis. Cermin yang retak dapat menggambarkan keutuhan hubungan atau harapan yang mulai pecah.

Sementara itu:

“kukawini sepi”

merupakan salah satu ungkapan paling kuat dalam puisi. Penyair seolah menerima bahwa kesepian kini menjadi bagian dari kehidupannya.

Makna tersirat lainnya adalah bahwa kenangan dapat membuat seseorang merasa dekat dengan orang yang sebenarnya sudah jauh atau telah hilang dari kehidupannya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa cinta dan hubungan antarmanusia harus dihargai selagi masih memiliki kesempatan untuk bersama, sebab jarak, waktu, keadaan, dan kehidupan dapat membawa seseorang kepada perpisahan.

Puisi juga menyampaikan bahwa kerinduan merupakan bagian dari cinta. Ketika seseorang benar-benar berarti, kehadirannya dapat terus terasa bahkan ketika ia tidak berada di dekat kita.

Namun puisi ini sekaligus menunjukkan sisi lain dari cinta: tidak semua kerinduan berakhir dengan pertemuan.

Oleh karena itu, pesan yang dapat diambil adalah pentingnya menjaga hubungan, menghargai kebersamaan, serta menerima kenyataan ketika sebuah hubungan harus berakhir.
Maman S. Tawie
Puisi: Kasih di Seberang Sana
Karya: Maman S. Tawie

Biodata Maman S. Tawie:
  • Maman S. Tawie adalah salah satu sastrawan asal Kalimantan Selatan.
  • Maman S. Tawie lahir pada tanggal 25 September 1957 di dusun Sei Tirik, desa Lokpaikat, kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
  • Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa seperti Horison, Pelita, Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Radar Banjarmasin, Angkatan Bersenjata, Merdeka, Kompas, Suara Karya, Zaman, Eksponen, dan Berita Buana.
  • Maman S. Tawie  meninggal dunia pada tanggal 7 April 2014 (pada usia 56 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.