Puisi: Kediam-diaman (Karya Harijadi S. Hartowardojo)

Puisi "Kediam-diaman" menghadirkan gambaran yang kuat tentang ketegangan dan perasaan terancam yang muncul dari situasi yang gelap dan mencekam.
Kediam-diaman

Cahaya berko terbeber depan sepeda
Pelan menjalar ke muka
Segerak sepeda. Tapi pikiran pengendara
Melanjut tiada terdera

Ada suara begitu pelan memanggil
Dari balik kelam di luar sinar memendam
Dan ini resia tergulung mengembang buka:
Ada gadis bersembunyi dalam kubangan!

Sepeda, pengembara dan caya sebentar padam
Hilang dalam kelam. Kelam hitam mulai mencekam
Mendera ini resia, kematian pudar terpuntang-panting
Janganlah sendu; jangan!

Sumber: Luka Bayang (1964)

Analisis Puisi:

Puisi "Kediam-diaman" karya Harijadi S. Hartowardojo adalah sebuah penggambaran tentang ketegangan antara cahaya dan kegelapan, serta perjalanan pikiran dan perasaan manusia dalam menghadapi situasi yang mencekam. Dengan penggunaan imaji yang kuat, penyair menggambarkan perasaan terperangkap dan kegelapan yang mengancam.

Kontras Antara Cahaya dan Kegelapan: Puisi ini dimulai dengan gambaran cahaya yang berkilauan di depan sepeda, tetapi kemudian mengarah pada kegelapan yang mengancam dan mencekam. Kontras antara cahaya dan kegelapan menciptakan suasana tegang dan misterius yang mengalir sepanjang puisi.

Simbolisme Sepeda: Sepeda dalam puisi ini mewakili perjalanan atau pergerakan dalam kehidupan. Meskipun sepeda bergerak pelan dan seakan-akan terhenti, pikiran pengendara tetap melanjutkan tanpa terhambat. Hal ini menggambarkan ketegangan antara perjalanan fisik dan perjalanan pikiran yang tak terhentikan.

Suara dari Balik Kelam: Suara yang pelan memanggil dari balik kelam merupakan simbol dari kegelapan atau masalah yang mengintai di luar cahaya. Keberadaan gadis yang bersembunyi dalam kubangan menciptakan ketegangan dan rasa was-was yang mencekam.

Perasaan Terperangkap dan Ancaman Kematian: Penyair berhasil menggambarkan perasaan terperangkap dan terancam oleh kegelapan. Ancaman kematian dan ketidakpastian masa depan tercermin dalam perasaan penyair yang meresapi situasi yang mencekam.

Resolusi Terhadap Ketegangan: Meskipun situasinya tegang dan mencekam, penyair menyerukan untuk tidak merasa sendu dan terpuruk. Ini menunjukkan semangat untuk tetap bertahan dan melawan ketakutan serta ancaman yang mengintai.

Puisi "Kediam-diaman" menghadirkan gambaran yang kuat tentang ketegangan dan perasaan terancam yang muncul dari situasi yang gelap dan mencekam. Dengan penggunaan imaji yang kuat, penyair berhasil menciptakan suasana yang intens dan misterius, sementara pada saat yang sama mengajak pembaca untuk menemukan kekuatan dan semangat dalam menghadapi ketidakpastian dan ketegangan dalam kehidupan.

Harijadi S. Hartowardojo
Puisi: Kediam-diaman
Karya: Harijadi S. Hartowardojo

Biodata Harijadi S. Hartowardojo:
  • Harijadi S. Hartowardojo (nama lengkap: Harjadi Sulaiman Hartowardojo / EyD: Hariyadi Sulaiman Hartowardoyo) lahir pada tanggal 18 Maret 1930 di Desa Ngankruk Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Indonesia.
  • Harijadi S. Hartowardojo meninggal dunia pada tanggal 9 April 1984 di Jakarta, Indonesia (dimakamkan di Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia).
  • Harijadi S. Hartowardojo adalah salah satu Sastrawan Angkatan 1950-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.