Ketika Soli Deo Gloria Hampir Penghabisan
1973
Sumber: Suara Kesunyian (1981)
Analisis Puisi:
Puisi “Ketika Soli Deo Gloria Hampir Penghabisan” karya Korrie Layun Rampan merupakan puisi yang menggunakan bahasa simbolik, metaforis, dan penuh perenungan. Penyair menghadirkan gambaran tentang perjalanan waktu, perubahan zaman, kegelisahan manusia, serta suasana sosial yang dipenuhi pertentangan dan ketidakpastian.
Sejumlah ungkapan seperti “arus zaman”, “jingga transisi”, “Dewa-dewa mabuk matahari”, “Mahsyar”, dan “mursal” membuat puisi ini memiliki lapisan makna yang cukup kompleks. Puisi tidak hanya berbicara mengenai perjalanan waktu secara harfiah, tetapi juga menggambarkan keadaan manusia ketika berhadapan dengan perubahan zaman dan kemungkinan berakhirnya suatu keadaan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan waktu, perubahan zaman, serta kegelisahan manusia dalam menghadapi masa transisi dan kehancuran nilai-nilai kehidupan.
Sejak bagian awal, penyair menggunakan ungkapan “Kampar waktu pun menghanyutkan kita / Dalam arus zaman”. Waktu digambarkan seperti arus yang membawa manusia tanpa dapat dihentikan. Manusia berada di dalam perjalanan sejarah dan harus mengikuti perubahan yang terus berlangsung.
Tema tersebut kemudian diperkuat oleh gambaran tentang tirani, pertentangan, kekacauan, serta suasana seperti menjelang suatu penghabisan. Dengan demikian, puisi ini dapat dibaca sebagai refleksi penyair terhadap perjalanan manusia dan masyarakat yang berada dalam situasi penuh perubahan dan kegelisahan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik dan refleksi terhadap kehidupan manusia yang berada dalam pusaran perubahan zaman, konflik, kekuasaan, serta ketidakpastian moral.
Ungkapan “Selalu tiran berceloteh dengan makna ganda” dapat dibaca sebagai kritik terhadap kekuasaan yang menggunakan bahasa untuk menyamarkan maksud sebenarnya. Kata “tiran” sendiri mengarah pada sosok penguasa yang menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang.
Sementara itu, gambaran “pelog-pelog burung malang atas ranting yang rapuh” menunjukkan kondisi kehidupan yang rentan. Burung berusaha membangun atau mempertahankan sarangnya, tetapi tempat berpijaknya sendiri rapuh dan dikelilingi angin yang ganas.
Ungkapan “jingga transisi” juga memiliki makna simbolis. Jingga merupakan warna yang sering diasosiasikan dengan senja, yaitu batas antara terang dan gelap. Karena itu, “jingga transisi” dapat dimaknai sebagai masa peralihan dari satu keadaan menuju keadaan lainnya.
Pada bagian akhir, “Ruang: Mahsyar!” memberikan kesan bahwa semua kekacauan tersebut akhirnya menuju suatu titik pertanggungjawaban. Manusia yang sebelumnya “saling tuding-menuding” seakan berada di ruang pengadilan besar, tempat segala tindakan dan perkataan harus dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, puisi ini dapat dipahami sebagai renungan mengenai waktu yang terus berjalan, perubahan yang tidak dapat dihindari, perilaku manusia dalam menghadapi kekuasaan dan konflik, serta konsekuensi dari segala tindakan manusia.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat dalam puisi ini adalah agar manusia menyadari bahwa waktu terus bergerak dan setiap perubahan membawa konsekuensi. Manusia perlu bersikap kritis terhadap kekuasaan, tidak mudah terjebak dalam pertentangan, serta menyadari bahwa setiap tindakan pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa kehidupan tidak berlangsung selamanya. Waktu akan terus berjalan, sementara manusia hanya menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Gambaran manusia yang “saling tuding-menuding” memberikan pelajaran agar manusia tidak mudah menyalahkan pihak lain ketika menghadapi persoalan. Sikap saling menuduh justru dapat memperbesar kekacauan.
Kehadiran kata “Mahsyar” juga dapat dipahami sebagai pengingat mengenai pertanggungjawaban. Apa yang dilakukan manusia selama hidup pada akhirnya akan memiliki konsekuensi.
Dengan demikian, puisi ini mengajak pembaca untuk lebih sadar terhadap perjalanan waktu, bersikap bijaksana dalam menghadapi perubahan, tidak menyalahgunakan kekuasaan, serta bertanggung jawab terhadap tindakan sendiri.
Puisi “Ketika Soli Deo Gloria Hampir Penghabisan” karya Korrie Layun Rampan merupakan puisi reflektif yang menggambarkan perjalanan manusia di tengah arus waktu dan perubahan zaman. Penyair menggunakan berbagai simbol seperti arus, burung, ranting rapuh, angin puyuh, jingga, senja, jam, dan Mahsyar untuk menyampaikan gagasan yang lebih dalam.
Puisi ini mengingatkan pembaca bahwa waktu tidak pernah berhenti. Ketika manusia sibuk dengan pertentangan, saling menuding, dan berbagai persoalan kehidupan, waktu tetap bergerak menuju “penghabisan”. Karena itu, manusia dituntut untuk menyadari perjalanan hidupnya sebelum tiba pada saat segala sesuatu harus dipertanggungjawabkan.
Karya: Korrie Layun Rampan
Biodata Korrie Layun Rampan:
- Korrie Layun Rampan adalah seorang penulis (penyair, cerpenis, novelis, penerjemah), editor, dan kritikus sastra Indonesia berdarah Dayak Benuaq.
- Korrie Layun Rampan lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur.
- Korrie Layun Rampan meninggal dunia pada tanggal 19 November 2015 di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat.
