Lelaki Bulan
Di tepi fajar engkau terpaku, tatap
ujung-ujung rambutku, basah serupa
setangkup hujan yang tergenggam
di tangan birahi tak bertuan
Ranting-ranting tua berderak pelan,
mengusik lamunan, merapal mantra
Zulaikha kepada Yusuf, pesona nubuat
sambil kutelan kata-katamu
hingga beku nadi
Aku berdiri, menggenggam mimpi
mencintaimu setinggi bulan berlesung pipit
Aroma mawar di kesunyian,
membawa hatiku
padamu
Desember, 2013
Sumber: Indopos (13 September 2014)
Analisis Puisi:
Puisi "Lelaki Bulan" karya Weni Suryandari adalah karya sastra yang memukau dengan bahasa yang indah dan imaji yang kuat. Puisi ini menggambarkan perasaan cinta dan keindahan dengan memanfaatkan gambaran alam dan mitologi.
Imaji Fajar dan Rambut: Puisi dibuka dengan gambaran tepi fajar dan lelaki yang terpaku, menatap ujung rambut penyair. Imaji ini menciptakan suasana mistis dan romantis. Fajar sebagai latar menggambarkan awal hari, mungkin sebagai metafora awal cinta atau kesadaran baru.
Simbolisme Hujan dan Birahi: Perbandingan rambut yang basah seperti setangkup hujan yang tergenggam menciptakan gambaran sensual dan intens. Hujan seringkali diartikan sebagai lambang pembersihan atau kegembiraan, sementara kata "birahi tak bertuan" memberikan nuansa keinginan atau keinginan yang muncul tanpa batasan.
Ranting Tua dan Mantra: Ranting-ranting tua yang berderak pelan memberikan nuansa kehadiran alam yang ikut merasakan perasaan. Merapal mantra Zulaikha kepada Yusuf menghadirkan elemen mitologis dan romantisme, menciptakan koneksi antara cinta manusia dan cerita mitos.
Beku Nadi dan Mencintaimu setinggi Bulan: Pernyataan "beku nadi" memberikan gambaran ketika perasaan mencapai puncaknya, dan waktu seolah-olah berhenti. Pemilihan kata "mencintaimu setinggi bulan" membawa gambaran akan kebesaran dan keindahan cinta yang mendalam. Bulan sering kali dianggap sebagai simbol romantis dalam puisi.
Aroma Mawar dan Kesunyian: Aroma mawar di kesunyian menciptakan citra keharuman dan kesepian yang mendalam. Mawar sebagai simbol cinta dan kesunyian sebagai ruang intim memberikan dimensi emosional yang dalam pada hubungan di antara dua insan.
Penutup dengan "Padamu": Penyair menutup puisi dengan kata "padamu", memberikan fokus pada objek cinta. Ini menciptakan kesan langsung dan personal, menyoroti bahwa seluruh puisi adalah ekspresi perasaan kepada lelaki bulan.
Puisi "Lelaki Bulan" karya Weni Suryandari adalah karya yang memadukan keindahan alam, mitologi, dan romantisme. Melalui imaji yang kaya dan bahasa yang indah, puisi ini berhasil merangkai cerita cinta yang penuh warna, memberikan pengalaman emosional yang mendalam kepada pembaca.
Karya: Weni Suryandari
Biodata Weni Suryandari:
- Weni Suryandari lahir pada tanggal 4 Februari 1966 di Surabaya, Indonesia.
