Puisi: Long Apari (Karya Korrie Layun Rampan)

Puisi “Long Apari” karya Korrie Layun Rampan menghadirkan kritik sosial terhadap kondisi wilayah yang kaya sumber daya alam, tetapi masih menyimpan ..

Long Apari


Ini perbatasan
Tak ada jung atau tongkang
Di sini gunung besi jurang tinggi
Tanah bukit dingin sekali

Tapi lebih dingin kesengsaraan
Yang melapis hidup di dalam badan
Di sini ruang hutan terbuka
Bukit-bukit lindap cahaya

Jauh ada patok negara
Yang berpindah setiap tahunnya
Kayu-kayu diangkut dengan heli
Pohon-pohon segera pergi

Kata orang ini beranda negeri
Tapi kaulihat sendiri
Beranda tanpa tiang tanpa palang
Dimasuki sesuka pialang

Pos remang pagi
Kemah perbatasan

Samarinda, 5/9/2013

Sumber: Dayak! Dayak! Di manakah Kamu? (2014)

Analisis Puisi:

Puisi “Long Apari” karya Korrie Layun Rampan menggambarkan kehidupan masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia yang penuh keterbatasan. Penyair menghadirkan kritik sosial terhadap kondisi wilayah yang kaya sumber daya alam, tetapi masih menyimpan berbagai persoalan kesejahteraan, pembangunan, dan kedaulatan.

Long Apari sendiri merupakan sebuah wilayah di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Latar geografis tersebut menjadi simbol penting dalam puisi ini untuk menyuarakan kegelisahan tentang kehidupan masyarakat di daerah terdepan Indonesia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan masyarakat perbatasan, ketimpangan pembangunan, serta kritik terhadap pengelolaan wilayah dan sumber daya alam. Penyair juga mengangkat persoalan nasionalisme melalui gambaran tentang wilayah yang disebut sebagai "beranda negeri", tetapi belum mendapatkan perhatian yang layak.

Makna Tersirat

Puisi ini mengandung sejumlah makna tersirat yang mendalam, antara lain:
  • Perbatasan bukan sekadar batas geografis, tetapi cermin perhatian negara terhadap rakyatnya.
  • Kekayaan alam tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat.
  • Eksploitasi sumber daya alam sering kali lebih diutamakan dibanding pembangunan manusia.
  • Kedaulatan negara tidak hanya dijaga dengan patok batas, tetapi juga melalui kehadiran negara dalam kehidupan masyarakat.
  • Kritik sosial disampaikan secara halus melalui ironi dan simbol-simbol alam.
Melalui puisi ini, pembaca diajak melihat bahwa pembangunan seharusnya tidak hanya terpusat di kota-kota besar, melainkan juga menjangkau daerah-daerah terluar.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Daerah perbatasan harus memperoleh perhatian yang sama dengan wilayah lainnya.
  • Kekayaan alam hendaknya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat setempat.
  • Menjaga kedaulatan negara tidak cukup melalui batas wilayah, tetapi juga melalui pemerataan pembangunan.
  • Kepedulian terhadap masyarakat pelosok merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
  • Pembangunan yang adil akan memperkuat persatuan bangsa.
Puisi “Long Apari” merupakan karya yang memadukan keindahan bahasa dengan kritik sosial yang kuat. Korrie Layun Rampan menghadirkan gambaran nyata mengenai kehidupan masyarakat di kawasan perbatasan yang kaya akan sumber daya alam, namun masih dibayangi kemiskinan dan ketimpangan pembangunan.

Penyair mengingatkan bahwa wilayah perbatasan bukan sekadar garis pemisah negara, melainkan rumah bagi masyarakat yang berhak memperoleh kesejahteraan dan perhatian yang setara. Oleh karena itu, puisi ini tidak hanya menjadi refleksi kondisi sosial, tetapi juga ajakan untuk memaknai nasionalisme melalui kepedulian terhadap seluruh pelosok negeri.

Korrie Layun Rampan
Puisi: Long Apari
Karya: Korrie Layun Rampan

Biodata Korrie Layun Rampan:
  • Korrie Layun Rampan adalah seorang penulis (penyair, cerpenis, novelis, penerjemah), editor, dan kritikus sastra Indonesia berdarah Dayak Benuaq.
  • Korrie Layun Rampan lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur.
  • Korrie Layun Rampan meninggal dunia pada tanggal 19 November 2015 di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.