Puisi: Lupa Daratan (Karya Binhad Nurrohmat)

Puisi “Lupa Daratan” karya Binhad Nurrohmat memperlihatkan ironi mengenai pejabat, fasilitas negara, penggunaan dana rakyat, serta sikap tidak ...
Lupa Daratan

Sepulang dari acara studi banding di luar negeri sekian lama
koper pejabat itu sesak oleh-oleh buat keluarga dan pacarnya
dan tak bawa apa-apa 
untuk rakyat yang telah mendanainya.

Sumber: Demonstran Sexy (2008)

Analisis Puisi:

Puisi “Lupa Daratan” karya Binhad Nurrohmat merupakan puisi yang sangat singkat, tetapi mengandung kritik sosial dan politik yang tajam. Penyair memperlihatkan ironi mengenai pejabat, fasilitas negara, penggunaan dana rakyat, serta sikap tidak bertanggung jawab terhadap masyarakat.

Kekuatan puisi ini terletak pada pertentangan sederhana: seorang pejabat pulang dari perjalanan studi banding dengan koper yang penuh oleh-oleh untuk keluarga dan pacarnya, tetapi tidak membawa apa pun untuk rakyat yang membiayai perjalanan tersebut.

Judul “Lupa Daratan” sendiri menjadi petunjuk penting. Secara harfiah, istilah tersebut dapat berarti kehilangan kesadaran terhadap tempat atau keadaan asal. Dalam konteks puisi, “lupa daratan” mengarah pada sikap lupa diri, lupa tanggung jawab, dan lupa kepada rakyat setelah memperoleh fasilitas dan kesempatan dari negara.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap perilaku pejabat yang tidak memiliki kepedulian dan tanggung jawab kepada rakyat. Tema tersebut terlihat jelas pada bagian:

“dan tak bawa apa-apa untuk rakyat yang telah mendanainya.”

Rakyat digambarkan sebagai pihak yang membiayai perjalanan pejabat. Namun, setelah perjalanan tersebut selesai, manfaat yang secara simbolis seharusnya kembali kepada rakyat justru tidak terlihat.

Sebaliknya, pejabat tersebut membawa:

“koper pejabat itu sesak oleh-oleh buat keluarga dan pacarnya”

Pertentangan antara “koper sesak oleh-oleh” dan “tak bawa apa-apa untuk rakyat” menjadi inti kritik dalam puisi.

Dengan demikian, tema puisi berkaitan dengan penyalahgunaan fasilitas, ketidakpekaan pejabat, dan kesenjangan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan publik.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa seorang pejabat publik seharusnya mengingat bahwa jabatan dan fasilitas yang diterimanya berasal dari masyarakat.

Namun, dalam puisi, pejabat justru terlihat lebih memikirkan kepentingan pribadi.

“Rakyat” bukan hanya disebut sebagai pihak yang tidak mendapatkan oleh-oleh, tetapi sebagai pihak yang:

“telah mendanainya.”

Kata tersebut sangat penting karena menunjukkan adanya hubungan tanggung jawab.

Jika rakyat membiayai perjalanan seorang pejabat, maka seharusnya hasil perjalanan tersebut memberikan manfaat kepada rakyat, misalnya berupa pengetahuan, kebijakan, atau perbaikan pelayanan publik.

Namun, yang terlihat justru koper berisi oleh-oleh pribadi.

Dengan demikian, puisi menyindir pejabat yang menikmati fasilitas publik tetapi lupa kepada pihak yang memberikan fasilitas tersebut.

Makna lainnya adalah kritik terhadap budaya birokrasi yang menjadikan perjalanan dinas atau studi banding sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, sementara tujuan utamanya bagi masyarakat tidak menjadi perhatian.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa pejabat publik harus memiliki rasa tanggung jawab kepada rakyat dan tidak menjadikan fasilitas negara sebagai sarana untuk kepentingan pribadi.

Jabatan publik pada dasarnya merupakan amanah. Jika seorang pejabat memperoleh kesempatan melakukan perjalanan menggunakan dana publik, maka hasil perjalanan tersebut seharusnya dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk manfaat nyata.

Puisi juga mengingatkan agar pejabat tidak:
  • melupakan asal-usul fasilitas yang diterimanya;
  • mengutamakan kepentingan pribadi;
  • menggunakan kegiatan publik untuk kepentingan keluarga atau hubungan pribadi;
  • mengabaikan rakyat yang menjadi sumber pembiayaan.
Pesan yang lebih luas adalah bahwa kekuasaan harus disertai tanggung jawab.

Binhad Nurrohmat
Puisi: Lupa Daratan
Karya: Binhad Nurrohmat

Biodata Binhad Nurrohmat:
Binhad Nurrohmat lahir pada tanggal 1 Januari 1976 di Lampung, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.