Memandang Ikan di Akuarium
Memandang akuarium
Memandang ikan-ikan
Kapan mereka tidur
Matanya tak pernah terpejam
Andaikan aku tidak bisa tidur
Betapa capeknya
Tenagaku habis untuk berjaga
Badan pun lesu, pikiran jadi tak bermutu
Andaikan mata tak terpejam
Betapa sengsaranya aku
Tak bisa bermimpi
Terbang di antara awan-awan
Aku tak ingin jadi ikan
Sebab aku ingin bisa tidur
Setelah suntuk bekerja dan belajar
Demi masa depan
Rungkut Surabaya, 11 Mei 2013
Sumber: Selendang untuk Bunda: kumpulan sajak anak (Sanggar Kalimas Surabaya, 2013)
Analisis Puisi:
Puisi “Memandang Ikan di Akuarium” karya Tengsoe Tjahjono mengangkat pengamatan sederhana terhadap ikan di dalam akuarium menjadi sebuah renungan tentang tidur, kelelahan, mimpi, serta kehidupan manusia yang dipenuhi pekerjaan dan belajar demi masa depan.
Puisi ini menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami, tetapi menyimpan gagasan yang cukup dalam. Ikan yang tampak selalu membuka mata menjadi pemicu bagi penyair untuk membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa bisa tidur. Dari sana, penyair menunjukkan bahwa tidur bukan sekadar kebutuhan fisik, tetapi juga berkaitan dengan istirahat, mimpi, pemulihan tenaga, dan keseimbangan hidup.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pentingnya tidur dan istirahat dalam kehidupan manusia. Tema tersebut muncul melalui pertanyaan:
“Kapan mereka tidur
Matanya tak pernah terpejam”
Pengamatan terhadap ikan kemudian digunakan untuk membandingkan kehidupan ikan dengan kehidupan manusia.
Penyair membayangkan:
“Andaikan aku tidak bisa tidurBetapa capeknya”
Tidur dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting karena tanpa tidur tubuh dan pikiran akan mengalami kelelahan.
Selain itu, terdapat tema perjuangan meraih masa depan:
“Setelah suntuk bekerja dan belajarDemi masa depan”
Dengan demikian, puisi memiliki dua gagasan yang saling berkaitan, yaitu kebutuhan manusia untuk beristirahat dan tuntutan kehidupan untuk bekerja serta belajar demi masa depan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa istirahat merupakan bagian penting dari kehidupan manusia dan tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang tidak berguna.
Manusia memang perlu bekerja dan belajar untuk mencapai masa depan. Namun, manusia juga membutuhkan waktu untuk beristirahat agar tubuh dan pikirannya tetap sehat dan mampu menjalani aktivitas berikutnya.
Puisi juga mengandung pemaknaan tentang kebebasan manusia untuk bermimpi. Ketika tidur, manusia dapat memasuki dunia mimpi:
“Terbang di antara awan-awan”
Mimpi di sini dapat dibaca secara harfiah sebagai pengalaman ketika tidur, tetapi juga dapat dimaknai secara simbolis sebagai harapan dan cita-cita.
Dengan demikian, tidur bukan sekadar berhenti beraktivitas. Tidur memungkinkan manusia memulihkan diri sekaligus mempertahankan ruang batin untuk bermimpi.
Ada pula makna tentang perbedaan antara manusia dan makhluk lain. Penyair tidak ingin menjadi ikan karena ia menghargai kemampuan manusia untuk tidur, bermimpi, belajar, dan merencanakan masa depan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa manusia perlu menghargai waktu istirahat dan tidur setelah menjalani aktivitas yang melelahkan.
Bekerja dan belajar memang penting untuk mencapai masa depan. Namun, tubuh dan pikiran memiliki batas. Istirahat diperlukan agar seseorang dapat kembali menjalankan kehidupannya dengan baik.
Puisi juga mengingatkan bahwa tidur memberikan kesempatan bagi manusia untuk bermimpi. Karena itu, kehidupan tidak hanya terdiri atas aktivitas produktif seperti bekerja dan belajar, tetapi juga membutuhkan jeda, pemulihan, dan ruang untuk berimajinasi.
Pesan lain yang dapat diambil adalah pentingnya bersyukur terhadap kemampuan manusia. Penyair justru menyadari bahwa tidur adalah sesuatu yang berharga setelah membayangkan kehidupan ikan.
Karya: Tengsoe Tjahjono
Biodata Tengsoe Tjahjono:
- Tengsoe Tjahjono lahir pada tanggal 3 Oktober 1958 di Jember, Jawa Timur.