Puisi: Perahu Nuh (Karya Ahmadun Yosi Herfanda)

Puisi “Perahu Nuh” karya Ahmadun Yosi Herfanda mengangkat kisah Nabi Nuh dan banjir besar sebagai dasar untuk menyampaikan renungan tentang ...
Perahu Nuh

ini bukan perahu kertas, karena bukan
perahu Sapardi. tapi ini perahu Nuh
yang dirangkai dari kayu-kayu takdir
dengan layar anyaman nasib
yang dinukilkan hujan dan badai

naiklah, bersama Yafith, Syam dan Ham
untuk menggapai puncak tertinggi Agri
sebab hujan akan membadai
dan banjir akan menjadi bah
yang tak mudah ditaklukkan
oleh keperkasaan tangan Kan'an
dan kesombongan hati Bani Rasib

ini bukan perahu kertas, tapi perahu Nuh
dibangun dari batang-batang pohon tua
dari hutan-hutan takdirnya. naik saja
sudah ada sepasang domba dan sapi
sudah ada sepasang gajah dan keledai
segala binatang diselamatkan berpasangan
untuk dapat melanjutkan kehidupan

jika kau belum menemukan pasangan
naik saja. jangan ragu. pasanganmu
telah menunggu di dalam perahu

Jakarta, September 2013

Sumber: Puisi Indonesia '87: kumpulan puisi (Teras Budaya Jakarta, 2014)

Catatan:

  1. Agri adalah nama gunung di wilayah Turki, tempat ditemukannya sisa-sisa perahu Nabi Nuh, yang juga dikenal sebagai bukit Arafat.
  2. Yafith, Syam, dan Ham, adalah anak-anak Nabi Nuh yang ikut naik ke perahu Nuh dan selamat.
  3. Kan'an adalah anak Nabi Nuh yang membangkang, tidak mau naik  perahu Nuh, dan tewas dalam banjir besar itu.

Analisis Puisi:

Puisi “Perahu Nuh” karya Ahmadun Yosi Herfanda mengangkat kisah Nabi Nuh dan banjir besar sebagai dasar untuk menyampaikan renungan tentang keselamatan, takdir, kesombongan, pilihan hidup, serta pentingnya segera mengambil jalan yang benar sebelum datangnya bencana.

Penyair memadukan kisah religius dengan simbol-simbol kehidupan. “Perahu Nuh” tidak hanya dipahami sebagai perahu dalam kisah banjir besar, tetapi juga sebagai lambang keselamatan dan tempat berlindung dari berbagai ancaman kehidupan. Sementara itu, nama-nama seperti Yafith, Syam, Ham, Kan'an, Agri, dan Bani Rasib memperkuat latar kisah religius sekaligus memperluas ruang tafsir puisi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keselamatan manusia melalui kepatuhan, iman, dan kesediaan memilih jalan yang benar ketika menghadapi ancaman kehidupan.

Tema tersebut dibangun melalui simbol perahu Nabi Nuh:

“tapi ini perahu Nuh
yang dirangkai dari kayu-kayu takdir
dengan layar anyaman nasib”

Perahu menjadi tempat penyelamatan dari banjir besar. Namun, secara simbolis, perahu dapat dimaknai sebagai jalan atau sarana yang membawa manusia keluar dari kehancuran.

Tema tentang bahaya kesombongan juga sangat kuat. Penyair menyebut:

“kesombongan hati Bani Rasib”

dan:

“keperkasaan tangan Kan'an”

Kekuatan fisik dan kesombongan ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan manusia ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan.

Dengan demikian, tema puisi tidak hanya berkaitan dengan kisah Nabi Nuh, tetapi juga pertentangan antara keselamatan dan kebinasaan, iman dan pembangkangan, serta kerendahan hati dan kesombongan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa “perahu Nuh” dapat dibaca sebagai simbol keselamatan, sedangkan banjir merupakan simbol berbagai ancaman, bencana, atau kehancuran yang dapat menghampiri manusia.

Kalimat:

“naik saja. jangan ragu.”

merupakan ajakan yang tampak sederhana, tetapi memiliki makna luas. Manusia sering kali berada dalam situasi yang menuntut keputusan. Ketika jalan keselamatan sudah tersedia, keraguan dan kesombongan justru dapat membawa seseorang kepada kehancuran.

“Kayu-kayu takdir” dan “layar anyaman nasib” juga menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Ada hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia, sehingga manusia perlu menyadari keterbatasannya.

Sosok Kan'an menjadi simbol manusia yang menolak keselamatan karena merasa dapat bertahan dengan kekuatan sendiri. Ia memiliki kesempatan untuk naik ke perahu, tetapi memilih membangkang.

Sebaliknya, binatang-binatang yang masuk ke perahu secara berpasangan melambangkan keberlanjutan kehidupan.

Bagian:

“jika kau belum menemukan pasangan”

juga memiliki makna yang lebih luas daripada persoalan jodoh. “Pasangan” dapat ditafsirkan sebagai pendamping, jalan hidup, tempat berlindung, atau sesuatu yang membuat kehidupan dapat diteruskan.

Karena itu, puisi dapat dibaca sebagai ajakan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan memperoleh keselamatan dan tidak terlalu mengandalkan kekuatan diri sendiri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah agar manusia tidak sombong, tidak membangkang terhadap kebenaran, dan tidak ragu mengambil jalan keselamatan ketika kesempatan itu tersedia.

Kisah Kan'an menunjukkan bahwa hubungan keluarga atau kedekatan dengan orang yang benar tidak otomatis menyelamatkan seseorang jika ia memilih untuk membangkang.

Sebaliknya, perahu Nuh menjadi simbol bahwa keselamatan membutuhkan kesediaan untuk percaya dan mengikuti jalan yang benar.

Puisi juga mengajarkan pentingnya memikirkan keberlanjutan kehidupan:

“segala binatang diselamatkan berpasangan
untuk dapat melanjutkan kehidupan”

Ada pesan tentang kelangsungan generasi dan kehidupan. Kehidupan harus dipertahankan dengan menjaga keberagaman makhluk dan hubungan antarsesama.

Pada tingkat yang lebih personal, bagian:

“jika kau belum menemukan pasangan
naik saja. jangan ragu.”

dapat dipahami sebagai pesan agar seseorang tidak merasa sendirian atau merasa tidak memiliki tempat dalam kehidupan. Keselamatan dan kesempatan untuk memulai kehidupan baru tetap terbuka.

Ahmadun Yosi Herfanda
Puisi: Perahu Nuh
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda

Biodata Ahmadun Yosi Herfanda:
  • Ahmadun Yosi Herfanda (kadang ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH) adalah seorang penulis puisi, cerpen, esai, sekaligus berprofesi sebagai jurnalis dan editor berkebangsaan Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Januari 1958.
  • Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai media-media massa, semisal: Horison, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana, dan Ulumul Qur'an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.