Pesta Serangga
bulan yang mengalir di relung nafas
sungai itu
mengurai musik semesta. Sepi berdansa
dan cacing yang mendekor keberadaan cahaya
mereguk makna kehidupan dan cawan-
cawan air akarku
antara lagu rangrang dan mabuk gangsir
sedu langit tumpah. Peradaban pun basah
dan ketipak terompahmukah itu, bundaku
masih nyata kudengar menghela nilai-nilai
purba
1987
Sumber: Horison (Mei, 1989)
Analisis Puisi:
Puisi “Pesta Serangga” karya Maman S. Tawie menghadirkan dunia malam yang penuh dengan simbol alam, suara serangga, sungai, langit, akar, dan kenangan. Meskipun judulnya sederhana, puisi ini memiliki lapisan makna yang cukup kompleks. Serangga seperti rangrang dan gangsir tidak hanya hadir sebagai bagian dari alam, tetapi menjadi pengantar untuk merenungkan kehidupan, peradaban, akar budaya, serta nilai-nilai masa lalu.
Penyair mempertemukan alam dan manusia. Suara-suara alam kemudian berubah menjadi “musik semesta”, sementara hujan dan suara langkah menghidupkan kembali kenangan terhadap sosok ibu dan nilai-nilai lama.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehidupan alam sebagai ruang perenungan tentang kehidupan manusia, nilai-nilai leluhur, dan hubungan manusia dengan akar kehidupannya.
Hal tersebut terlihat pada bait pertama:
“sungai itumengurai musik semesta.”
Sungai tidak hanya digambarkan sebagai unsur alam, tetapi seolah menjadi bagian dari harmoni kehidupan.
Kemudian muncul serangga:
“cacing yang mendekor keberadaan cahaya”
serta:
“lagu rangrang dan mabuk gangsir”
Serangga menjadi bagian dari kehidupan malam yang oleh penyair dipandang sebagai sebuah “pesta”.
Tema tersebut kemudian berkembang menjadi perenungan terhadap masa lalu:
“menghela nilai-nilaipurba”
Dengan demikian, puisi ini tidak sekadar berbicara tentang serangga, tetapi tentang kehidupan, alam, kenangan, dan nilai-nilai lama yang masih hidup dalam ingatan manusia.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa alam dapat menjadi pintu menuju ingatan, kesadaran, dan hubungan manusia dengan masa lalu.
“Pesta serangga” dapat dimaknai sebagai gambaran bahwa setiap makhluk, sekecil apa pun, memiliki peran dalam kehidupan. Serangga yang biasanya dianggap remeh justru ditempatkan sebagai bagian dari “musik semesta”.
Ungkapan:
“mereguk makna kehidupan”
menunjukkan bahwa kehidupan tidak hanya dimiliki manusia. Alam dan seluruh makhluk di dalamnya juga menjadi bagian dari proses kehidupan yang memiliki makna.
Sementara itu, frasa:
“cawan-cawan air akarku”
mengandung simbol tentang akar kehidupan, asal-usul, dan identitas.
Kata “akar” dapat dimaknai sebagai hubungan dengan tanah kelahiran, keluarga, tradisi, dan masa lalu.
Makna tersebut semakin kuat pada bagian:
“nilai-nilaipurba”
“Purba” dapat merujuk pada nilai-nilai lama atau warisan leluhur yang masih tersimpan dalam ingatan.
Dengan demikian, puisi secara tersirat mengingatkan bahwa kemajuan kehidupan tidak seharusnya membuat manusia melupakan akar budaya dan nilai yang membentuk dirinya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah agar manusia menghargai alam, menyadari keterhubungan semua makhluk, serta tidak melupakan akar kehidupan dan nilai-nilai yang diwariskan generasi sebelumnya.
Puisi menunjukkan bahwa kehidupan dapat ditemukan bahkan dalam hal-hal kecil seperti suara serangga, aliran sungai, cahaya, dan hujan.
Selain itu, puisi mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan masa lalu. Nilai-nilai yang disebut sebagai:
“nilai-nilai purba”
tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan. Nilai tersebut dapat menjadi akar yang membentuk identitas seseorang.
Pesan lainnya adalah bahwa kenangan terhadap orang-orang yang telah memberikan nilai kehidupan kepada kita dapat tetap hidup melalui suara, tempat, dan pengalaman sederhana.
Dalam konteks ini, suara yang mengingatkan penyair kepada “bundaku” menjadi simbol bahwa kasih dan ajaran orang tua dapat bertahan dalam ingatan meskipun waktu terus berjalan.
Karya: Maman S. Tawie
Biodata Maman S. Tawie:
- Maman S. Tawie adalah salah satu sastrawan asal Kalimantan Selatan.
- Maman S. Tawie lahir pada tanggal 25 September 1957 di dusun Sei Tirik, desa Lokpaikat, kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
- Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa seperti Horison, Pelita, Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Radar Banjarmasin, Angkatan Bersenjata, Merdeka, Kompas, Suara Karya, Zaman, Eksponen, dan Berita Buana.
- Maman S. Tawie meninggal dunia pada tanggal 7 April 2014 (pada usia 56 tahun).
