Sumber: Montase (2016)
Analisis Puisi:
Puisi “Pralaya Matra” karya Wayan Jengki Sunarta, yang ditujukan untuk perupa Nyoman Erawan, merupakan puisi yang kuat dengan nuansa kritik sosial, kebudayaan, dan perenungan tentang kehancuran. Penyair menghadirkan dunia seni rupa, khususnya melalui simbol kanvas, warna, cat, kuas, dan sosok Erawan, untuk berbicara tentang kondisi Bali yang mengalami perubahan, kehilangan jati diri, serta tekanan akibat kekuasaan dan keserakahan.
Kata “pralaya” menjadi konsep penting dalam puisi. Pralaya dapat dipahami sebagai kehancuran atau peleburan suatu keadaan. Namun dalam puisi ini, kehancuran tidak hanya dipandang sebagai akhir. Pada bagian:
“pralaya keindahan maha sempurna kehancuran mula kehidupan baru.”
kehancuran justru diposisikan sebagai kemungkinan awal bagi lahirnya sesuatu yang baru.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehancuran lingkungan dan kebudayaan Bali akibat keserakahan manusia, sekaligus perlawanan seni terhadap kehilangan identitas dan nilai-nilai tradisi.
Tema tersebut tampak jelas melalui gambaran:
“tanah Bali habis dijarah bromocorah dan durjana”
Penyair memperlihatkan Bali bukan hanya sebagai ruang geografis, tetapi sebagai tanah yang memiliki kebudayaan, simbol spiritual, dan identitas yang sedang mengalami ancaman.
Kritik terhadap lunturnya tradisi juga tampak dalam:
“benang tridatu tak lagi bertuah, trisula tumpul, kain poleng jadi taplak meja, tapakdara sirna makna”
Simbol-simbol budaya yang seharusnya memiliki nilai spiritual justru kehilangan fungsi dan maknanya.
Di sisi lain, seni menjadi bentuk perlawanan. Sosok Erawan digambarkan:
“terus melukis dengan darah dan airmata”
Seni dalam puisi ini menjadi medium untuk menyuarakan kegelisahan terhadap kehancuran.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehancuran sebuah kebudayaan tidak selalu dimulai dari hilangnya bangunan atau simbol fisik, tetapi dapat dimulai dari hilangnya makna yang terkandung di dalam simbol tersebut.
Hal tersebut sangat jelas pada:
“kain poleng jadi taplak meja, tapakdara sirna makna”
Kain poleng secara simbolis berkaitan dengan budaya Bali, tetapi dalam puisi justru digambarkan menjadi taplak meja. Ini menunjukkan adanya proses komersialisasi, pengabaian, atau pengosongan makna budaya.
Begitu pula:
“benang tridatu tak lagi bertuah, trisula tumpul”
Simbol-simbol spiritual masih mungkin terlihat secara fisik, tetapi kekuatan maknanya telah melemah.
Makna lain berkaitan dengan sosok Erawan. Ia bukan hanya seorang pelukis, tetapi dapat dibaca sebagai simbol seniman yang mempertahankan suara kritis ketika masyarakat berada dalam tekanan.
Kalimat:
“meski lidah dan jiwamu nyaris hangus diberangus pralaya”
mengisyaratkan bahwa suara kritis dapat ditekan, tetapi seni masih dapat menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan.
Dengan demikian, puisi ini menyiratkan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menjadi kesaksian atas kehancuran sekaligus membuka kemungkinan bagi lahirnya kehidupan baru.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah agar manusia menjaga kebudayaan, lingkungan, identitas, dan nilai-nilai spiritual dari kehancuran akibat keserakahan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Puisi juga mengingatkan bahwa simbol budaya tidak cukup hanya dipertahankan secara fisik. Makna yang terkandung di dalamnya juga harus dipahami dan dihormati.
Selain itu, terdapat pesan kuat tentang kebebasan berekspresi dan peran seni. Ketika suara manusia dibungkam, seni dapat menjadi cara untuk menyampaikan kritik.
Erawan digambarkan tetap melukis meskipun:
“lidah dan jiwamu nyaris hangus”
Hal tersebut menunjukkan keteguhan seorang seniman dalam mempertahankan suara dan gagasannya.
Pesan lainnya adalah bahwa kehancuran tidak harus menjadi akhir. Konsep:
“kehancuran mula kehidupan baru”
