Puisi: Reuni (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Reuni" menggambarkan perasaan kerinduan akan masa lalu, pertemuan dengan teman-teman lama, dan refleksi akan perubahan yang terjadi seiring ...
Reuni

puluhan tahun ini kau ke mana
menghilang tanpa kabar berita
kucari kau di pagelaran dan paseban
kuburu kau, barangkali di petilasan

yogya ternyata telah berubah
jalan-jalan kota ramai kendaraan
andong dan sepeda makin payah
apalah arti penyair hidup susah

benar, kita berguru pada pengalaman
kita lupakan nama-nama para dosen
juga petugas perpustakaan dan penguji skripsi
benar, kita kembali pada lagu dan puisi

puluhan tahun barangkali sia-sia
rekah senyummu tanpa makna
nilai-nilai ujian menari di benak
betapa tua kita kini, ubanan dan botak

2022

Analisis Puisi:

Puisi "Reuni" karya Gunoto Saparie adalah sebuah ungkapan dari rasa rindu dan nostalgia akan masa lalu, kehilangan, perubahan, dan penerimaan atas perubahan tersebut. Puisi ini menggambarkan perasaan kerinduan akan masa lalu, pertemuan dengan teman-teman lama, dan refleksi akan perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu.

Kerinduan dan Kehilangan: Puisi ini dimulai dengan ungkapan rasa kehilangan seseorang yang pergi tanpa kabar yang jelas. Penyair mencari jejak orang tersebut dalam tempat-tempat yang dahulu sering mereka singgahi bersama. Gambaran tentang kehilangan dan kepergian yang tidak diketahui arahnya menciptakan suasana rindu yang mendalam.

Perubahan dan Nostalgia: Penyair melukiskan perubahan yang terjadi dalam lingkungan sekitarnya, terutama dalam konteks kota Yogyakarta. Deskripsi tentang perubahan jalanan yang semakin ramai dengan kendaraan modern dan hilangnya kereta kuda serta sepeda tradisional memberikan gambaran tentang bagaimana masa lalu telah berubah secara drastis.

Kembali ke Asal dan Penerimaan: Puisi ini mencapai puncaknya ketika penyair mengakui bahwa setelah sekian lama, mereka kembali ke awal, pada aspek-aspek kehidupan yang mendasar, yaitu lagu dan puisi. Hal ini merupakan refleksi atas perubahan yang terjadi dan bagaimana hal-hal yang mendasar dari masa lalu tetap relevan dalam kehidupan sekarang.

Puisi "Reuni" adalah ungkapan kerinduan akan masa lalu, kehilangan, perubahan, dan penerimaan. Melalui pencarian jejak masa lalu, penyair menggambarkan bagaimana perubahan telah mengubah lingkungan dan hubungan, namun pada akhirnya, ia menemukan kembali dasar-dasar kehidupan yang tetap relevan dalam lagu dan puisi, sebagai refleksi dan penerimaan akan perubahan yang terjadi.

Gunoto Saparie
Puisi: Reuni
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.