Rindu Betara
Sekokoh karang, tajam ombak menembus ingatan
Saat buihnya mendaras namamu, berdeburan
di jantung laut, manja pada hangat pelukan
Segala berwajah engkau di liuk gelombang
Langit mengerjap di mataku, rinduku malang
Hingga teja matahari di Barat, rupa udara
bikin mabuk padamu, duhai betara
: kujelang asmara sewangi daun bidara
2016
Sumber: Merapi (12 Agustus 2016)
Analisis Puisi:
Puisi "Rindu Betara" karya Weni Suryandari membawa pembaca ke dalam perjalanan rindu yang penuh warna dan romantisme.
Keindahan Alam dan Rindu: Penyair membuka puisi dengan gambaran alam yang megah dan penuh daya tarik. "Sekokoh karang, tajam ombak menembus ingatan" menciptakan citra kekokohan dan kekuatan alam, menggambarkan rindu sebagai sesuatu yang dapat menembus dan menggetarkan ingatan. Sentuhan kelembutan pun terasa melalui "Saat buihnya mendaras namamu, berdeburan di jantung laut, manja pada hangat pelukan," memberikan nuansa intim dan penuh kasih pada rindu.
Metafora Laut dan Rupa Betara: Metafora laut yang mencirikan rindu sebagai buih yang mendaras dan manja pada pelukan laut adalah ungkapan yang mempesona. "Segala berwajah engkau di liuk gelombang" menunjukkan bahwa segala hal di sekitar penyair mencerminkan wajah sang Betara, menciptakan suasana romantis yang memenuhi pikiran dan perasaan.
Hubungan dengan Alam Semesta: Puisi ini menghubungkan rindu dengan alam semesta, menciptakan gambaran yang menyentuh. "Langit mengerjap di mataku, rinduku malang" menciptakan citra kelembutan langit yang menyatu dengan perasaan kehilangan dan kerinduan. Teja matahari di Barat yang membuat "mabuk padamu" menunjukkan daya pesona dan pengaruh yang kuat dari sosok yang dirindukan.
Panggilan Romantis pada Betara: Dalam bait berikutnya, penyair menyampaikan panggilan romantis pada Betara. "Hingga teja matahari di Barat, rupa udara, bikin mabuk padamu, duhai betara" adalah ekspresi cinta yang lembut dan puitis, menggambarkan kecantikan dan pesona yang melibatkan penyair sepenuhnya.
Keindahan Kata dan Bunyi: Puisi ini menarik perhatian melalui penggunaan kata-kata yang indah dan harmoni bunyi. "Kujelang asmara sewangi daun bidara" adalah penutup yang menawan, menyiratkan keharuman dan kelembutan yang menjadi bagian dari asmara dan rindu.
Puisi "Rindu Betara" karya Weni Suryandari adalah sebuah persembahan rindu yang penuh warna dan indah. Dengan gambaran alam yang megah, metafora yang kuat, dan ekspresi romantis, penyair berhasil menggambarkan kekuatan dan keindahan perasaan rindu. Puisi ini tidak hanya membangun gambaran tentang rindu pada sosok Betara, tetapi juga mengajak pembaca untuk merasakan dan merenungkan keindahan asmara yang dipenuhi warna dan kelembutan.
Karya: Weni Suryandari
Biodata Weni Suryandari:
- Weni Suryandari lahir pada tanggal 4 Februari 1966 di Surabaya, Indonesia.
