Puisi: Rumah (Karya Tengsoe Tjahjono)

Puisi “Rumah” karya Tengsoe Tjahjono mengingatkan bahwa kerasnya dunia luar tidak seharusnya dibawa masuk ke dalam rumah. Persaingan dan konflik ...

Rumah

Ketika ditanya tentang rumah, aku bayangkan surga
Di mana penghuninya saling bertegur-sapa, saling
berbagi suka-duka, berbagi tenaga, menjaga dan 
mencinta

Rumah adalah tempat gelisah dilabuhkan,
Dari pergunjingan di ruang-ruang kerja, intrik dan
perebutan kuasa
Dari persaingan kalah-menang, saling sikut-tendang, 
pada ruang pergaulan, pada distrik resmi dan tak resmi,
yang meletihkan

Rumah adalah tempat ketentraman ditemukan
Dari hiruk jalan raya dan penodongan
Dari segala rambu dan traffic lights yang dibisukan para pejalan
Dari keringat yang menyugai oleh akutnya kepadatan 
Dari sumpah-serapah yang menghutan pada jantung
kemudi

Dalam rumah tidak dijumpai dendam dan sakit hati
culas dan iri, marah dan dengki
sebab Tuhan dari tiap lubang ventilasi selalu berbisik
: Kukirim cuma-cuma matahari, bagilah sepenuh-penuh 
hati

Dalam rumah tidak ada pandang saling-curiga
Dalam rumah tumbuh sikap saling-terbuka
Dalam rumah tidak ada politik jual-beli dan untung-rugi
Sebab cita-cita rumah hanya satu: damai di hati

Rumah adalah antitesa dunia
Separo surga kumulai dari sana

21 Juli 2013

Sumber: Yang Bertamu Adalah Ilham: sekumpulan puisi (SatuKata book@rt publishing, 2013)

Analisis Puisi:

Puisi “Rumah” karya Tengsoe Tjahjono mengangkat rumah sebagai lebih dari sekadar bangunan atau tempat tinggal. Dalam puisi ini, rumah digambarkan sebagai ruang ideal yang penuh kedamaian, kasih sayang, keterbukaan, dan ketenteraman. Rumah menjadi tempat seseorang kembali setelah menghadapi berbagai persoalan, persaingan, konflik, dan kerasnya kehidupan di luar.

Melalui perbandingan antara suasana rumah dan dunia luar, penyair menyampaikan gagasan bahwa rumah yang sesungguhnya dapat menjadi semacam “separo surga”, yaitu tempat manusia menemukan kedamaian batin.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kedamaian, kasih sayang, dan ketenteraman dalam kehidupan keluarga atau lingkungan rumah. Hal tersebut terlihat sejak bagian awal:

“Ketika ditanya tentang rumah, aku bayangkan surga”

Rumah langsung dihubungkan dengan gambaran surga. Bukan berarti rumah benar-benar sama dengan surga, melainkan rumah ideal digambarkan sebagai tempat yang menghadirkan kebahagiaan, keamanan, dan ketenteraman.

Tema tersebut diperkuat melalui gambaran para penghuninya yang:

“saling bertegur-sapa, saling
berbagi suka-duka, berbagi tenaga, menjaga dan
mencinta”

Dengan demikian, rumah dalam puisi ini dibangun bukan terutama oleh dinding dan atap, melainkan oleh hubungan antarmanusia yang saling peduli.

Selain kedamaian keluarga, puisi ini juga mengangkat tema pelarian dari kerasnya kehidupan sosial. Dunia luar digambarkan penuh persaingan, intrik, perebutan kekuasaan, kemacetan, kemarahan, dan berbagai konflik. Sebaliknya, rumah menjadi tempat untuk memulihkan ketenangan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa rumah yang sesungguhnya tidak ditentukan oleh kemewahan fisik, melainkan oleh kualitas hubungan antara orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Sebuah bangunan dapat besar dan indah, tetapi belum tentu menjadi rumah dalam makna yang sebenarnya. Sebaliknya, tempat sederhana dapat menjadi rumah apabila di dalamnya terdapat kasih sayang, keterbukaan, rasa aman, dan kepedulian.

Ungkapan:

“Rumah adalah tempat gelisah dilabuhkan”

mengandung makna bahwa rumah merupakan tempat seseorang menurunkan beban batinnya. Setelah menghadapi tekanan pekerjaan, persaingan, dan persoalan sosial, seseorang membutuhkan ruang untuk merasa diterima.

Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap kehidupan modern. Dunia luar digambarkan penuh dengan:
  • persaingan,
  • perebutan kekuasaan,
  • intrik,
  • kemacetan,
  • kekerasan,
  • kemarahan,
  • serta hubungan yang didasarkan pada kepentingan.
Sebaliknya, rumah ideal dibangun di atas prinsip:

“saling-terbuka”

dan bukan:

“politik jual-beli dan untung-rugi”

Artinya, hubungan di dalam rumah seharusnya tidak dihitung berdasarkan keuntungan pribadi. Kasih sayang tidak seharusnya menjadi transaksi.

Makna penting lainnya terdapat dalam personifikasi Tuhan yang seolah berbisik melalui ventilasi rumah:

“Kukirim cuma-cuma matahari, bagilah sepenuh-penuh
hati”

Matahari dapat dimaknai sebagai simbol berkah, kehidupan, kehangatan, dan kasih Tuhan. Jika Tuhan memberikan cahaya secara cuma-cuma kepada semua orang, manusia pun seharusnya belajar berbagi dan mencintai tanpa perhitungan berlebihan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa rumah seharusnya menjadi tempat yang memberikan rasa aman, damai, dan kasih sayang bagi seluruh penghuninya.

Penyair mengajak pembaca untuk membangun rumah yang tidak dipenuhi oleh:
  • dendam,
  • sakit hati,
  • iri,
  • dengki,
  • kemarahan,
  • kecurigaan,
  • serta kepentingan pribadi.
Sebaliknya, rumah perlu dibangun dengan sikap:
  • saling berbagi,
  • saling menjaga,
  • saling mencintai,
  • saling terbuka,
  • dan saling menerima.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa kerasnya dunia luar tidak seharusnya dibawa masuk ke dalam rumah. Persaingan dan konflik mungkin tidak dapat dihindari dalam kehidupan sosial, tetapi rumah dapat menjadi tempat seseorang mendapatkan kembali ketenangan.

Pesan lainnya adalah bahwa kedamaian besar dapat dimulai dari lingkungan terkecil. Sebelum berbicara tentang perdamaian dunia, manusia dapat memulainya dari keluarga dan rumahnya sendiri.

Tengsoe Tjahjono
Puisi: Rumah
Karya: Tengsoe Tjahjono

Biodata Tengsoe Tjahjono:
  • Tengsoe Tjahjono lahir pada tanggal 3 Oktober 1958 di Jember, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.