Puisi: Sajadah (Karya R. Giryadi)

Puisi “Sajadah” karya R. Giryadi mengangkat tema perjalanan hidup, doa seorang ibu, hubungan antara anak dan orang tua, serta kesadaran spiritual.

Sajadah

Kepada Ibuku

Ibu,
Petualangan ini sudah begitu jauh. Asam garam tak lenak kucecap,
meski lidah melepuh lepuh. Dalam laut ini, aku seperti ikan:
bertahan dalam keruh

Gelombang tak surut hantam para pelabuh yang melempar sauh
pada subuh ini. dan dermaga ini tetaplah angkuh dan kukuh.
Hanya doamu obat paling ampuh

Ibu,
Sungguh ini perjalanan yang teramat jauh. Sementara aku teringat
si malin yang membatu bersujud pada sabdamu
sabda yang pernah kau ucapkan padaku, tentang anak durhaka

Tetapi ini aku anakmu, Ibu. Bukan si Malin. Aku bukan batu yang
bersujud karena sabdamu. Aku bersujud pada sajadah ini sebelum
subuh, sebelum air matamu menetes dan cakrawala merona
merah

Ibu,
Pada sajadah ini, doamu jadi prasasti dan aku pasti kembali.

Sidoarjo, 2012

Sumber: Selendang untuk Bunda: kumpulan sajak anak (Sanggar Kalimas Surabaya, 2013)

Analisis Puisi:

Puisi “Sajadah” karya R. Giryadi merupakan puisi yang mengangkat tema perjalanan hidup, doa seorang ibu, hubungan antara anak dan orang tua, serta kesadaran spiritual. Melalui simbol sajadah, penyair mempertemukan perjalanan seorang anak yang penuh tantangan dengan doa dan kasih sayang ibunya.

Puisi ini menggunakan perjalanan laut sebagai gambaran kehidupan. Penyair berada dalam perjalanan yang sangat jauh dan harus menghadapi “gelombang”, “laut”, “dermaga”, serta berbagai kesulitan. Di tengah perjalanan tersebut, doa ibu menjadi sumber kekuatan.

Selain itu, penyair menghadirkan kisah Malin Kundang sebagai perbandingan. Namun, penyair menegaskan bahwa dirinya bukanlah Malin yang durhaka kepada ibunya. Ia justru tetap mengingat ibunya dan bersujud kepada Tuhan di atas sajadah sebelum waktu subuh.

Pada akhirnya, sajadah menjadi simbol yang sangat penting. Di atas sajadah tersebut, doa ibu berubah menjadi sesuatu yang abadi seperti prasasti, sekaligus menjadi pengingat bahwa penyair memiliki janji untuk kembali.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup yang penuh perjuangan, kekuatan doa seorang ibu, dan hubungan spiritual antara seorang anak dengan Tuhan serta ibunya.

Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang sedang menjalani perjalanan jauh dan penuh tantangan. Perjalanan tersebut dapat dibaca sebagai perjalanan nyata, tetapi juga sebagai simbol perjalanan kehidupan.

Hal tersebut tampak pada larik:

“Petualangan ini sudah begitu jauh. Asam garam tak lenak kucecap”

Ungkapan “asam garam” menggambarkan pengalaman hidup yang telah banyak dirasakan oleh penyair. Ia telah menghadapi berbagai keadaan sulit selama perjalanannya.

Laut kemudian digunakan sebagai gambaran kehidupan:

“Dalam laut ini, aku seperti ikan:
bertahan dalam keruh”

Penyair harus bertahan dalam keadaan yang tidak mudah. Namun, di tengah kesulitan tersebut, ia menemukan kekuatan dari doa ibunya:

“Hanya doamu obat paling ampuh”

Tema spiritual semakin kuat pada bagian kedua dan ketiga ketika penyair berbicara tentang sajadah, sujud, subuh, air mata, dan doa.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini sangat erat dengan gagasan tentang keteguhan hati, kekuatan doa, bakti kepada orang tua, dan perjalanan spiritual manusia.

Laut dapat dimaknai sebagai simbol kehidupan. Kehidupan tidak selalu tenang. Ada “gelombang” yang menghantam, ada “laut keruh” yang membuat perjalanan sulit, dan ada “dermaga” sebagai tempat persinggahan.

Dalam kondisi tersebut, penyair mengatakan:

“Hanya doamu obat paling ampuh”

Doa ibu menjadi simbol kekuatan yang tidak terlihat secara fisik, tetapi mampu memberikan ketenangan dan daya tahan kepada seorang anak.

Makna penting lainnya terdapat pada simbol sajadah. Sajadah bukan sekadar alas untuk salat, tetapi menjadi ruang pertemuan antara manusia dengan Tuhan. Di atas sajadah, penyair bersujud dan mengingat ibunya.

Hal ini terlihat pada:

“Aku bersujud pada sajadah ini sebelum
subuh”

Sujud menunjukkan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, sementara doa ibu menunjukkan hubungan emosional antara anak dan orang tua.

Pada bagian akhir:

“Pada sajadah ini, doamu jadi prasasti”

terdapat makna yang sangat mendalam. Doa ibu diibaratkan sebagai prasasti, yaitu sesuatu yang tertulis dan bertahan lama. Artinya, doa dan kasih ibu telah terukir dalam kehidupan penyair dan tidak mudah hilang.

Kalimat:

“aku pasti kembali”

juga dapat dimaknai secara luas. “Kembali” tidak hanya berarti pulang secara fisik kepada ibu, tetapi dapat berarti kembali kepada keluarga, nilai-nilai yang diajarkan ibu, dan jalan spiritual yang diyakininya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah agar seseorang tidak melupakan orang tua, terutama ibu, di tengah perjalanan hidup yang penuh tantangan.

Puisi ini juga mengajarkan pentingnya menghargai doa dan pengorbanan seorang ibu. Doa orang tua dapat menjadi sumber kekuatan bagi anak ketika menghadapi kesulitan.

Selain itu, penyair menyampaikan pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan. Penyair tidak hanya mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, tetapi juga bersujud dan berdoa.

Kisah Malin Kundang memberikan pesan tambahan bahwa seorang anak harus menghindari perilaku durhaka kepada orang tua. Penyair justru menjadikan kisah tersebut sebagai pengingat agar dirinya tidak melakukan kesalahan yang sama.

Pesan lain yang sangat kuat adalah bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, ia seharusnya tidak melupakan tempat dan orang yang menjadi sumber kasih sayangnya.

Janji:

“aku pasti kembali”

menunjukkan adanya komitmen untuk pulang dan kembali kepada ibu.

R. Giryadi
Puisi: Sajadah
Karya: R. Giryadi

Biodata R. Giryadi:
  • Rakhmat Giryadi lahir pada tanggal 10 April 1969 di Blitar.
  • Rakhmat Giryadi meninggal dunia pada tanggal 8 Juli 2019 di RSUD Sidoarjo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.