Puisi: Sandiwara Seoul (Karya T. Alias Taib)

Puisi “Sandiwara Seoul” karya T. Alias Taib mengajak pembaca untuk terbuka terhadap lingkungan dan budaya yang berbeda. Pertemuan dengan sesuatu ....

Sandiwara Seoul


seharian angin itu
        mengekoriku
menjilat pipiku
menyelak kulitku
merarnas rambutku

seharian angin itu
        menegurku
mendengar tuturku
mempelajari tabiatku
bertanya darahku

seharian angin itu
        mengibarkan
bendera Korea
di jantungku

Seoul, Musim Gugur 1986

Sumber: Horison (Desember, 1990)

Analisis Puisi:

Puisi “Sandiwara Seoul” karya T. Alias Taib merupakan puisi pendek yang menggambarkan pengalaman seseorang ketika berada di Seoul, Korea. Angin dalam puisi tidak hanya menjadi bagian dari suasana kota, tetapi diperlakukan seperti makhluk hidup yang dapat mengikuti, menjilat, menegur, mendengar, mempelajari, bahkan bertanya. Pada bagian akhir, pengalaman tersebut berkembang menjadi gambaran simbolis tentang tumbuhnya kedekatan dengan Korea.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pengalaman dan kedekatan emosional seseorang dengan lingkungan serta budaya Korea. Tema tersebut terlihat dari pengulangan frasa:

“seharian angin itu”

Angin menjadi sesuatu yang terus hadir sepanjang hari. Ia mengikuti dan berinteraksi dengan penyair hingga akhirnya:

“mengibarkan
bendera Korea
di jantungku”

Bendera Korea yang dikibarkan di “jantung” menunjukkan bahwa Korea tidak lagi sekadar menjadi tempat yang dikunjungi. Pengalaman berada di Seoul telah meninggalkan kesan yang mendalam dalam hati penyair.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa sebuah perjalanan ke tempat baru dapat meninggalkan pengalaman emosional yang begitu kuat sehingga tempat tersebut terasa menjadi bagian dari diri seseorang.

Angin dapat dimaknai sebagai simbol dari lingkungan Seoul dan pengalaman hidup di Korea. Angin menyentuh tubuh, mendengar tutur kata, mengenali kebiasaan, bahkan bertanya tentang darah. Seolah-olah lingkungan tempat tersebut sedang berusaha mengenal siapa penyair.

Frasa:

“bertanya darahku”

dapat dimaknai lebih jauh sebagai pertanyaan mengenai asal-usul, identitas, dan latar belakang seseorang. Angin tidak hanya menyentuh tubuh, tetapi seolah ingin mengetahui siapa sebenarnya orang yang datang ke Seoul.

Sementara itu:

“bendera Korea
di jantungku”

mengandung makna bahwa pengalaman tersebut telah menimbulkan rasa kedekatan, kekaguman, atau keterikatan emosional terhadap Korea.

Judul “Sandiwara Seoul” juga menarik. Kata “sandiwara” dapat mengisyaratkan bahwa pengalaman di Seoul seperti sebuah pertunjukan atau episode kehidupan yang diperankan dan dirasakan oleh penyair. Namun, meskipun disebut “sandiwara”, pengalaman tersebut meninggalkan jejak nyata dalam hati.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa pengalaman berinteraksi dengan tempat dan budaya baru dapat memperkaya kehidupan serta meninggalkan kenangan yang mendalam.

Puisi ini juga menyampaikan bahwa perjalanan bukan hanya tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sebuah tempat dapat memberikan pengalaman yang membentuk perasaan dan cara seseorang memandang dunia.

Selain itu, puisi mengajak pembaca untuk terbuka terhadap lingkungan dan budaya yang berbeda. Pertemuan dengan sesuatu yang baru dapat menimbulkan rasa kagum dan kedekatan emosional.

Bendera Korea di dalam hati menunjukkan bahwa suatu pengalaman dapat menjadi bagian dari memori dan identitas emosional seseorang, meskipun ia bukan berasal dari tempat tersebut.

T. Alias Taib
Puisi: Sandiwara Seoul
Karya: T. Alias Taib

Biodata T. Alias Taib:
  • T. Alias Taib lahir pada tanggal 20 Februari 1943 di Kuala Terengganu, Malaysia. Ia mulai menulis puisi dan cerpen pada tahun 1960.
  • T. Alias Taib meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 2004 di Kuala Lumpur, Malaysia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.