Puisi: Sang Pejalan (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Sang Pejalan” karya Gunoto Saparie menyiratkan bahwa keraguan merupakan bagian dari perjalanan manusia. Keimanan tidak selalu berada dalam ...
Sang Pejalan

aku ternyata telah berjalan jauh
hampir enam puluh tujuh tahun
melintasi desa, bukit, dan lembah
melewati kota, gang, dan perkampungan

benarkah kasih dan cinta percuma
benarkah hidup fana ini sia-sia
benarkah siang malam tiada makna
benarkah hanya menunggu maut itu tiba

aku ternyata telah berjalan jauh
puluhan tahun melalui kemarau
menembus hujan membasahi tubuh
dari bandara ke pelabuhan kelabu

benarkah iman kadang pasang seketika
benarkah bimbang kadang surut seketika
benarkah misteri tuhan tak teraba
benarkah kita?!

2021

Analisis Puisi:

Puisi “Sang Pejalan” karya Gunoto Saparie merupakan puisi reflektif yang menggambarkan perjalanan panjang kehidupan manusia. Penyair menggunakan pengalaman perjalanan secara fisik—melintasi desa, bukit, lembah, kota, gang, hingga pelabuhan—sebagai gambaran perjalanan batin seseorang dalam menjalani kehidupan.

Penyair telah melewati perjalanan selama hampir enam puluh tujuh tahun. Namun, perjalanan tersebut ternyata tidak hanya berbicara tentang jarak dan waktu. Di balik perjalanan panjang itu terdapat pertanyaan-pertanyaan eksistensial mengenai cinta, kehidupan, kematian, iman, keraguan, dan misteri Tuhan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah refleksi perjalanan hidup manusia dan pencarian makna kehidupan. Hal tersebut terlihat sejak bait pertama ketika penyair mengatakan:

“aku ternyata telah berjalan jauh
hampir enam puluh tujuh tahun”

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa perjalanan yang dimaksud bukan sekadar perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Angka “hampir enam puluh tujuh tahun” menegaskan perjalanan usia yang panjang.

Perjalanan hidup tersebut kemudian membawa penyair pada berbagai pertanyaan mendasar. Ia mempertanyakan apakah kasih dan cinta benar-benar memiliki arti, apakah kehidupan yang fana ini sia-sia, serta apakah manusia pada akhirnya hanya menunggu kematian.

Tema lain yang sangat kuat adalah pencarian spiritual. Pada bagian akhir, pertanyaan tentang iman dan misteri Tuhan memperlihatkan bahwa perjalanan hidup juga merupakan perjalanan seseorang dalam memahami hubungan dirinya dengan Tuhan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa panjangnya perjalanan hidup tidak selalu membuat manusia memperoleh seluruh jawaban atas pertanyaan kehidupannya.

Penyair telah berjalan selama hampir enam puluh tujuh tahun. Ia telah melihat banyak tempat, mengalami panas dan hujan, serta menjalani berbagai pengalaman. Namun pada akhirnya ia masih bertanya:

“benarkah misteri tuhan tak teraba
benarkah kita?!”

Di sinilah terdapat paradoks yang menarik. Secara usia, seseorang mungkin telah sangat jauh berjalan, tetapi secara spiritual dan filosofis ia tetap menjadi seorang pencari.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa keraguan merupakan bagian dari perjalanan manusia. Keimanan tidak selalu berada dalam keadaan yang sama. Penyair mengungkapkannya melalui:

“benarkah iman kadang pasang seketika
benarkah bimbang kadang surut seketika”

Kata “pasang” dan “surut” memberikan gambaran bahwa iman dan kebimbangan dapat mengalami perubahan. Ada saat seseorang merasa sangat yakin, tetapi ada pula saat ia diliputi keraguan.

Selain itu, puisi ini tidak memberikan jawaban secara langsung terhadap seluruh pertanyaan yang diajukan. Justru pertanyaan itulah yang menjadi inti renungan. Penyair seolah mengajak pembaca untuk ikut bertanya kepada dirinya sendiri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah agar manusia mau merenungkan perjalanan hidupnya dan tidak berhenti mencari makna kehidupan, meskipun menghadapi keraguan dan ketidakpastian.

Puisi ini tidak secara sederhana mengatakan bahwa hidup sia-sia atau tidak sia-sia. Sebaliknya, penyair mengajukan pertanyaan tersebut kepada pembaca.

Beberapa pesan yang dapat dipetik antara lain:
  1. Kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang.
  2. Manusia melewati berbagai tempat, keadaan, pengalaman, kebahagiaan, penderitaan, keyakinan, dan keraguan.
  3. Usia yang panjang tidak otomatis memberikan seluruh jawaban.
  4. Seseorang dapat memiliki pengalaman yang sangat banyak, tetapi tetap menghadapi pertanyaan mengenai tujuan hidup.
  5. Cinta dan kasih memiliki arti dalam kehidupan manusia.
  6. Pertanyaan mengenai apakah kasih dan cinta percuma justru menunjukkan betapa pentingnya kedua hal tersebut untuk direnungkan.
  7. Kematian merupakan bagian dari perjalanan kehidupan.
  8. Kesadaran terhadap kematian seharusnya mendorong manusia untuk mempertanyakan dan memahami makna hidupnya.
  9. Keraguan dapat menjadi bagian dari perjalanan spiritual.
  10. Iman dan kebimbangan digambarkan seperti sesuatu yang dapat pasang dan surut.
  11. Manusia harus menyadari keterbatasannya di hadapan Tuhan.
  12. Misteri Tuhan mungkin tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh akal manusia.
Puisi “Sang Pejalan” karya Gunoto Saparie merupakan puisi reflektif tentang perjalanan panjang manusia dalam menjalani kehidupan sekaligus mencari makna di balik perjalanan tersebut.

Sang penyair telah berjalan selama hampir enam puluh tujuh tahun, melewati berbagai tempat dan keadaan. Akan tetapi, pengalaman panjang itu tidak membuat semua pertanyaan kehidupan menjadi selesai. Sebaliknya, perjalanan tersebut justru melahirkan pertanyaan yang semakin mendalam tentang kasih, cinta, kehidupan, kematian, iman, kebimbangan, dan Tuhan.

Kekuatan puisi ini terletak pada penggunaan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa pembaca menuju persoalan eksistensial yang jauh lebih besar. “Benarkah kita?!” sebagai penutup menjadi semacam pertanyaan terbuka: setelah perjalanan hidup yang panjang, siapakah sebenarnya manusia, apa arti kehidupannya, dan sejauh mana ia mampu memahami misteri Tuhan?

Gunoto Saparie
Puisi: Sang Pejalan
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri. Tinggal di Jalan Taman Karonsih 654, Ngaliyan, Semarang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.