Puisi: Sejak Terusir (Karya Tjahjono Widarmanto)

Puisi "Sejak Terusir" karya Tjahjono Widarmanto mengajak pembaca untuk merenung tentang makna hidup, kehilangan, dan keinginan yang melampaui ....
Sejak Terusir

semenjak itulah lelaki itu menjadi terusir
dipasrahkan langkah pada malam
wajahnya terbakar oleh hasrat
seperti mahkota yang pecah terbakar

dia tak mengingat apa-apa
hanya mengikut angin
entah di mana entah kemana
tubuhnya tak lagi lunak sebab tunduk
tapi tumbuh legam perkasa sebab birahi begitu gaib

: "duh, guru, alangkah nikmatnya rindu.
duh, guru, betapa pesonanya fana.
duh, guru, inikah kunci pengetahuan tersembunyi itu?"

Sumber: Perbincangan Terakhir dengan Tuan Guru (2018)

Analisis Puisi:

Puisi "Sejak Terusir" karya Tjahjono Widarmanto adalah salah satu contoh puisi yang memiliki kedalaman makna dan menggunakan bahasa yang kaya akan imaji.

Tema dan Makna: Puisi ini mengeksplorasi tema perasaan terusir dan hasrat yang melibatkan tokoh lelaki. Hasrat dan keinginan dalam puisi ini diibaratkan seperti mahkota yang pecah terbakar, menggambarkan keintiman yang meledak-ledak namun juga merusak. Lelaki dalam puisi ini terusir dan kehilangan arah, mengikuti angin tanpa tujuan yang jelas. Hal ini mewakili perasaan bingung dan hampa dalam hidupnya.

Imaji dan Metafora: Puisi ini menggunakan imaji-imaji yang kuat untuk menggambarkan perasaan dan suasana. Contohnya, "wajahnya terbakar oleh hasrat / seperti mahkota yang pecah terbakar" menggambarkan betapa kuatnya hasrat yang membara dan merusak. Mahkota yang pecah menjadi simbol kerusakan dan ketidakutuhan.

Gaya Bahasa: Puisi ini menggunakan gaya bahasa yang beragam, seperti perbandingan ("seperti mahkota yang pecah terbakar"), personifikasi ("tubuhnya tak lagi lunak sebab tunduk"), dan retorika ("duh, guru, inikah kunci pengetahuan tersembunyi itu?"). Gaya bahasa ini menghidupkan puisi dan membantu dalam menggambarkan perasaan yang dalam.

Struktur dan Ritme: Puisi ini terdiri dari beberapa bait yang memiliki panjang yang seragam, tetapi memiliki ritme yang mengalir. Penggunaan ritme ini memberikan nuansa terdalam pada pembaca saat membaca puisi, seolah-olah merasakan getaran perasaan yang ingin disampaikan oleh penyair.

Pertanyaan Filosofis: Pada bagian akhir puisi, terdapat tiga pertanyaan retoris yang mengundang pembaca untuk merenung. Pertanyaan-pertanyaan ini mengeksplorasi aspek rindu, pesona, dan pengetahuan tersembunyi. Ini juga mencerminkan kebingungan dan pencarian makna yang dialami oleh tokoh dalam puisi.

Makna Lebih Dalam: Puisi "Sejak Terusir" dapat ditafsirkan sebagai representasi dari perjalanan manusia dalam mencari arti dan tujuan hidup. Lelaki dalam puisi ini kehilangan arah setelah terusir, dan ia terjebak dalam hasrat yang kuat namun gaib. Puisi ini mengajukan pertanyaan tentang apakah keinginan dan pengetahuan sejati dapat ditemukan melalui pengorbanan dan kehilangan.

Secara keseluruhan, puisi "Sejak Terusir" karya Tjahjono Widarmanto adalah karya sastra yang memukau dengan imaji-imaji yang kuat dan penggunaan bahasa yang kaya. Melalui penyampaian perasaan dan pemikiran tokoh lelaki yang terusir, puisi ini mengajak pembaca untuk merenung tentang makna hidup, kehilangan, dan keinginan yang melampaui pemahaman kita.

Tjahjono Widarmanto
Puisi: Sejak Terusir
Karya: Tjahjono Widarmanto

Biodata Tjahjono Widarmanto:
  • Tjahjono Widarmanto lahir pada tanggal 18 April 1969 di Ngawi, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.