Puisi: Sekeranjang Buah (Karya R. Giryadi)

Puisi “Sekeranjang Buah” karya R. Giryadi menggambarkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya melalui simbol sederhana, yaitu sekeranjang buah.

Sekeranjang Buah

sekeranjang buah ini kau kirim padaku
warnanya merah jambu, kau petik dari pohon
yang rimbun sepanjang tahun

sekeranjang buah ini, adalah rindumu padaku
meski tak terucap olehmu, ranum buahnya
sesegar hatimu yang tak berhenti berdoa

bila kukenang wajahmu, ibu
kukecup penuh degup
kukunyah hati gundah

sekeranjang buah ini, ibu
doa-doamu yang kau petik
dari pohon
tubuhmu
sendiri

Surabaya, 2013

Sumber: Selendang untuk Bunda: kumpulan sajak anak (Sanggar Kalimas Surabaya, 2013)

Analisis Puisi:

Puisi “Sekeranjang Buah” karya R. Giryadi merupakan puisi yang menggambarkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya melalui simbol sederhana, yaitu sekeranjang buah. Buah yang dikirimkan kepada penyair tidak hanya dimaknai sebagai makanan atau hasil dari sebuah pohon, melainkan sebagai lambang kerinduan, cinta, perhatian, dan doa seorang ibu.

Melalui gambaran buah yang berwarna merah jambu, ranum, dan segar, penyair membangun hubungan antara keindahan alam dengan ketulusan kasih seorang ibu. Pada bagian akhir, makna puisi menjadi semakin dalam ketika “pohon” tempat buah itu dipetik ternyata dikaitkan dengan tubuh sang ibu sendiri. Gambaran tersebut menunjukkan besarnya pengorbanan seorang ibu yang memberikan dirinya, tenaga, kasih, dan doa bagi anaknya.

Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang menerima sekeranjang buah dari ibunya. Namun, di balik pemberian tersebut terdapat kerinduan dan doa yang tidak selalu diucapkan secara langsung.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kasih sayang, kerinduan, doa, dan pengorbanan seorang ibu kepada anaknya. Hal tersebut terlihat sejak larik pertama:

“sekeranjang buah ini kau kirim padaku”

Pemberian buah menjadi bentuk perhatian dari seorang ibu kepada anaknya. Selanjutnya, penyair secara langsung menghubungkan buah tersebut dengan rasa rindu:

“sekeranjang buah ini, adalah rindumu padaku”

Dengan demikian, buah bukan sekadar benda yang dikirimkan, tetapi menjadi perantara perasaan antara ibu dan anak.

Tema kasih sayang semakin kuat melalui gambaran bahwa hati sang ibu tidak berhenti berdoa. Hal tersebut menunjukkan bahwa cinta seorang ibu tidak hanya hadir melalui tindakan nyata, tetapi juga melalui doa yang terus-menerus dipanjatkan untuk anaknya.

Pada bagian akhir, tema pengorbanan muncul melalui ungkapan:

“doa-doamu yang kau petik
dari pohon
tubuhmu
sendiri”

Tubuh ibu seolah digambarkan sebagai pohon yang terus memberikan hasil bagi anaknya. Gambaran ini menunjukkan bahwa kasih sayang seorang ibu berasal dari seluruh pengorbanan hidupnya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kasih sayang seorang ibu sering kali tidak selalu diucapkan secara langsung, tetapi dapat hadir melalui tindakan sederhana, perhatian, doa, dan pengorbanan.

Sekeranjang buah menjadi simbol utama dalam puisi. Secara harfiah, buah merupakan pemberian dari ibu kepada anak. Namun, secara lebih mendalam, buah tersebut membawa “rindu” dan “doa”.

Buah yang ranum dapat dimaknai sebagai kasih sayang yang telah tumbuh dan matang. Sementara kesegaran buah menggambarkan ketulusan hati seorang ibu.

Makna tersirat yang paling kuat terdapat pada bagian akhir:

“doa-doamu yang kau petik
dari pohon
tubuhmu
sendiri”

Tubuh ibu tidak benar-benar berubah menjadi pohon. Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa doa, kasih sayang, dan perhatian yang diberikan kepada anak lahir dari pengorbanan ibu sendiri.

Seorang ibu menggunakan tenaga, waktu, pikiran, dan seluruh kehidupannya untuk merawat anak. Oleh karena itu, “pohon tubuhmu sendiri” dapat dimaknai sebagai simbol sumber pengorbanan yang terus menghasilkan kasih bagi anaknya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah agar kita mampu memahami, menghargai, dan membalas kasih sayang serta pengorbanan orang tua, khususnya seorang ibu.

Kasih sayang tidak selalu disampaikan melalui kata-kata. Terkadang, seseorang menunjukkan cintanya melalui tindakan sederhana. Memberikan makanan, menanyakan keadaan, mengirimkan sesuatu, atau mendoakan dari kejauhan dapat menjadi bentuk kasih yang sangat tulus.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa doa seorang ibu memiliki arti yang besar. Seorang anak sebaiknya tidak memandang perhatian orang tua sebagai sesuatu yang biasa atau sepele.

Pesan lainnya adalah pentingnya menjaga hubungan batin dengan orang tua. Meskipun terdapat jarak, kasih sayang dan doa dapat tetap menghubungkan ibu dengan anaknya.

Selain itu, pembaca juga diajak untuk menyadari bahwa di balik kasih sayang seorang ibu terdapat pengorbanan yang besar. Karena itu, rasa cinta dan perhatian seorang ibu perlu dihargai selama masih memiliki kesempatan.

R. Giryadi
Puisi: Sekeranjang Buah
Karya: R. Giryadi

Biodata R. Giryadi:
  • Rakhmat Giryadi lahir pada tanggal 10 April 1969 di Blitar.
  • Rakhmat Giryadi meninggal dunia pada tanggal 8 Juli 2019 di RSUD Sidoarjo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.