Sepasang Sepatu
sepasang sepatu hadiah dari bapakku
teronggok di sudut kamar. aku teringat,
mengapa sepatu itu ada di sana
ada kisah yang tak pernah aku lupa meski
bapak tiada
sepasang sepatu meski terlihat tua
aku tetap menjaganya. ia hadiah bapak
ketika aku sudah mulai mengerti arti
dewasa
sepasang sepatu-kata bapak- seperti
kekasih yang tak lepas bergandengan
tangan, meski hatinya gundah gulana, ia
tetaplah bersama
bila ia pergi, pergilah bersama. bila ia
terluka terlukalah berdua: sepasang
sepatu adalah wajah kesetiaan
kini sepatuku suda tua. teronggok di sudut
kamar. aku menjaganya. menjaga pesan
bapak tentang arti kesetiaan
Buat sepatuku yang sudah tua, 2013
Sumber: Selendang untuk Bunda: kumpulan sajak anak (Sanggar Kalimas Surabaya, 2013)
Analisis Puisi:
Puisi “Sepasang Sepatu” karya R. Giryadi merupakan puisi yang mengangkat benda sederhana sebagai simbol kenangan dan nilai kehidupan. Sepasang sepatu yang telah tua bukan sekadar barang pemberian seorang bapak kepada anaknya, melainkan menjadi pengingat akan kasih sayang, pesan, dan ajaran tentang arti kesetiaan.
Melalui puisi ini, penyair menggambarkan hubungan emosionalnya dengan almarhum bapaknya. Meskipun sang bapak telah tiada, hadiah dan pesan yang pernah diberikan tetap hidup dalam ingatan. Sepasang sepatu yang teronggok di sudut kamar menjadi saksi dari kenangan tersebut.
Puisi ini bercerita tentang kenangan seorang anak terhadap bapaknya melalui sepasang sepatu yang pernah diberikan sebagai hadiah. Namun, makna puisi tidak berhenti pada hubungan antara anak dan ayah. Sepatu juga menjadi lambang kesetiaan, kebersamaan, dan komitmen untuk tetap bersama dalam berbagai keadaan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesetiaan, kasih sayang seorang bapak, serta kenangan yang tetap terjaga meskipun seseorang telah tiada. Hal tersebut terlihat sejak bagian awal puisi:
“sepasang sepatu hadiah dari bapakku
teronggok di sudut kamar. aku teringat”
Sepatu menjadi benda yang memunculkan kembali ingatan penyair terhadap bapaknya. Keberadaan benda tersebut menghubungkan masa kini dengan masa lalu.
Tema kesetiaan semakin jelas ketika sang bapak memberikan penjelasan mengenai makna sepasang sepatu. Sepasang sepatu selalu berjalan berdampingan dan saling melengkapi. Dari gambaran tersebut, bapak mengajarkan bahwa hubungan yang baik seharusnya dibangun atas dasar kebersamaan dan kesetiaan.
Puisi ini juga memperlihatkan tema penghormatan terhadap orang tua. Penyair menjaga sepatu tersebut bukan semata-mata karena nilai bendanya, melainkan karena sepatu itu menyimpan pesan dari seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Makna Tersirat
Makna Tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kesetiaan bukan hanya tentang tetap bersama ketika keadaan menyenangkan, tetapi juga tentang bertahan dan menghadapi kesulitan secara bersama-sama.
Sepasang sepatu digunakan sebagai simbol hubungan yang ideal. Sepatu kiri dan sepatu kanan memiliki bentuk serta fungsi yang saling melengkapi. Keduanya tidak dapat menjalankan fungsinya secara sempurna apabila dipisahkan.
Hal tersebut diperjelas melalui nasihat bapak:
“bila ia pergi, pergilah bersama. bila iaterluka terlukalah berdua”
Ungkapan tersebut tidak perlu dipahami secara harfiah. Seseorang tidak harus mengikuti pasangannya ke mana pun tanpa pertimbangan. Dalam konteks puisi, kalimat tersebut lebih tepat dimaknai sebagai gambaran tentang solidaritas, komitmen, dan kesediaan untuk menghadapi perjalanan hidup bersama.
Makna lain yang tersirat adalah pentingnya menjaga warisan nilai dari orang tua. Penyair menjaga sepatu yang tua karena benda tersebut telah berubah menjadi simbol ajaran bapaknya.
Pada bagian akhir, penyair mengatakan:
“aku menjaganya. menjaga pesanbapak tentang arti kesetiaan”
Kalimat tersebut menegaskan bahwa sebenarnya yang dijaga bukan hanya sepatu, tetapi juga nilai kehidupan yang diwariskan oleh sang bapak.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa kesetiaan dan kebersamaan perlu dijaga, terutama ketika menghadapi kesulitan dalam kehidupan.
Puisi ini mengajarkan bahwa hubungan yang kuat tidak hanya dibangun ketika keadaan sedang baik. Kesetiaan justru diuji ketika muncul kesedihan, masalah, dan berbagai cobaan.
Selain itu, puisi ini juga menyampaikan pesan untuk menghargai pemberian dan nasihat orang tua. Sebuah benda mungkin terlihat tua atau tidak memiliki nilai materi yang tinggi, tetapi dapat menyimpan nilai emosional yang sangat besar.
Penyair tetap menjaga sepatu tersebut karena ia memahami bahwa sepatu itu adalah bagian dari kenangan dan pesan bapaknya.
Pesan lain yang dapat diambil adalah bahwa orang yang telah tiada masih dapat terus hadir melalui nilai-nilai baik yang pernah diajarkannya. Selama pesan tersebut diingat dan diterapkan, kenangan terhadap orang tersebut tidak benar-benar hilang.
Karya: R. Giryadi
Biodata R. Giryadi:
- Rakhmat Giryadi lahir pada tanggal 10 April 1969 di Blitar.
- Rakhmat Giryadi meninggal dunia pada tanggal 8 Juli 2019 di RSUD Sidoarjo.