Sepuluh Soneta
/I/
Yang mendorong kami menjalani derita
di dalam perjuangan dan pengurbanan panjang,
hanyalah semata Kasih dan Cinta
kepada ummat yang terdera sekarang.
Bukan hadiah yang kami pinta:—
kami sendiri yang berjuang sekarang,
tak'kan mengalami Kommunisme tercipta
dan merasakan buahnya di masa datang.
Kami hanya pencangkul tanah.
penabur benih, penyiram semai,
perabuk pohon menjelang berbuah.
Kami sendiri tak'kan turut mengenyam:—
kami akan telah menjadi bangkai
terbaring damai di makam hitam.
/II/
Kami manusia biasa, tak haus darah,
kami anti-kekerasan, anti-menindas;
sekalipun kami berbendera merah,
dan menganut doktrin perjuangan kelas.
Kami hanya pesuruh Sejarah,
penghapus masyarakat berkelas-kelas,
kami enggan manusia diperah,
kami enggan tenaga kerja dirampas;
kami enggan melihat ummat
terus menderita berabad-abad
bagai budak dikerajaan Nero;
kami hanya ingin manusia berbagia,
kami ingin Kasih, Bakti dan Setia
mengisi hati di dunia antero.
/III/
Kami beekan vandalist, perusak,
yang hanya dapat membinasakan segala
di dalam taifun nafsu yang gila,
hingga semua hancur berserak,
hingga sekaliannya luluh-lantak ...!
Kami pun penyusun-pembangun pula
dari Dunia Baru, di mana ‘kan bermula
Hidup Baru yang akan bersemarak ....
Kami architect dari Dunia Baru,
di mana Kosmos mengusir Chaos,
di mana Rakyat bertakhta di Olympos,
di mana semua telah tertentu,
tiap benda tegak di tempatnya,
tiap kerja berlaku pada sa'atnya ....
/IV/
Kami yang meninggalkan kekasih dan tunangan,
isteri dan anak, memasuki derita,
menekan perasaan rindu dan cinta
karena mengabdi kewajiban dan perjuangan:—
kami yang dinanti penjara,
pembuangan dan tiang-gantungan karena cita,
kami yang memberi dan tiada meminta,
apakah maksud kami gerangan?
Tak lain—untuk merombak yang lama:—
ikatan yang memperbudak kita bersama,
untuk membentuk nilai-nilai baru;
dan bersama Sejarah yang melangkah maju,
kami pun melangkah menang berjuang
dan tiada satu kuasa dapat mengempang!
/V/
Kami bekan anti segala moral
dan menghapuskan tiap nilai ruhani;
tapi moral kelas modal dan feodal
masih berhaklah disebut “moral” kini?
Mengadakan perang untuk menjagal
berjuta manusia di dunia ini
dan terus membela kemiskinan kekal,
mengisap Buruh, memeras Tani ...,
adakah itu moral, kawan?
Bukantah lebih rendah dari hewan?
Kami tolak tegas moral begitu!
Moral kami moral Kebenaran,
berdasarkan Cinta, Setia dan Kejujuran:—
itulah moral manusia—tipe—baru!
/VI/
Kami tokh akan mati, pasti mati:—
tak mungkin manusia hidup kekal!
Hanya apakah kami mati berarti
ataukah percuma, itulah yang menjadi soal!
Kami mau mati di dalam berbakti,
di dalam membela keyakinan dan ideal:—
mau mati di dalam ketenangan hati
telah berjuang sebagai perjurit tak dikenal ....
Kami ingin mati bermanfa'at
bagi perjuangan pembebasan ummat,
hingga tak sia-sia hidup di dunia!
Karena itu selama jantung berdebur
kami mengabdi Cita yang luhur,
kami curahkan kasih ke ummat-manusia.
/VII/
Derita telah kami alami
di batang tubuh sendiri dan sakit
yang menggigit, rasa pedih yang menjerit
dirasakan tiap orang yang dibasmi
oleh musuhnya, itu kami pahami;
tapi mengapa mereka yang sedikit
jumlahnya terus mengamuk sengit
hendak membinasakan kelas kami?
Mengapa burjuasi menjalankan kediktatoran
dengan segala cara dan kekotoran
terhadap kami Rakyat Pekerja?
Juga kami terang tak memuja
kediktatoran, tapi kediktatoran RAKYAT perlu untuk
mengakhiri penindasan kapitalisme yang terkutuk.
/VIII/
Kawan, butir-butir pasir di pesisir
yang hilang diterbangkan angin lalu:—
dicampur dengan kerikil, cement dan air
akan dapat mewujudkan tembok batu!
Juga dari para pencinta Tanah air
yang menyusun diri, bersatu-padu,
melawan penjajahan, akan terlahir
kekuatan dahsyat dan kemenangan berestu!
Akan kita biarkankah Amerika
menyebarkan terus derita dan duka,
dan menegakkan koloni di negeri ini?
Tidak! Kita akan bangun menyusun
kekuatan dan berjuang tak lenal ampun,
berkurban dengan ikhlas dan berani!
/IX/
Kami tahu ke mana kami pergi,
apa yang telah, sedang dan akan kami perbuat:—
kami tak'kan berpaling dan balik lagi
seolah-olah orang yang merasa tersesat.
Kami tahu kami untung, tak rugi,
di dalam penyerahan mutlak pada Rakyat:—
kami menyongsong matahari pagi
merupakan barisan yang selalu bertambah kuat.
Kami, kaum kommunist, selalu gembira
di dalam derita, di dalam sengsara:—
kami tersenyum yakin ‘kan menang!
Juga di kurungan tembok penjara
dan tiang gantungan kaum angkara
kami selalu bersikap tenang!
/X/
Suara kami dari hati bersih
akan menembus tembok tebal penjara
mengumandang ke lembah, gunung dan segara,
mencari hati Rakyat yang pedih merintih.
Di sini kami, di penjara, tak'kan tersisih
karena Rakyat di samping kami dan berbicara
menuntut pembebasan kami: segera!
Itulah pembalasan kasih dengan kasih!
Kami dan Rakyat adalah satu, tunggal!
Hancurkanlah Rakyat di seantero bumi
kalau musuh mau membasmi kami!
Kepentingan lain tak kami kenal,
selain kepentingan Rakyat-tertindas
yang kami bela di setiap embusan napas!
Jakarta, 5 Januari 1952
Catatan:
Bagian I-V dimuat di Harian Rakjat edisi 12 Januari 1952, sedangkan bagian VI-X dimuat di Harian Rakjat edisi 19 Januari 1952.
Analisis Puisi:
Puisi “Sepuluh Soneta” karya Boejoeng Saleh merupakan karya yang sarat dengan gagasan perjuangan, pengorbanan, pembelaan terhadap rakyat, serta cita-cita membangun tatanan masyarakat baru. Terdiri atas sepuluh bagian yang ditandai dengan angka Romawi I sampai X, puisi ini menggunakan sudut pandang “kami” untuk menyuarakan keyakinan sekelompok manusia yang merasa mengabdikan hidupnya bagi perjuangan rakyat.
Dari keseluruhan puisi, tampak kuat latar pemikiran politik dan sosial pada zamannya. Penyair berbicara mengenai perjuangan kelas, kapitalisme, kaum buruh, kaum tani, penjajahan, penindasan, serta cita-cita membentuk “Dunia Baru”. Di sisi lain, puisi ini juga banyak berbicara tentang pengorbanan pribadi: meninggalkan keluarga, menghadapi penjara, pembuangan, bahkan kematian demi sebuah cita-cita.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjuangan dan pengorbanan demi pembebasan rakyat serta terciptanya masyarakat yang dianggap lebih adil. Tema tersebut terlihat sejak bagian pertama ketika penyair menyatakan bahwa yang mendorong perjuangan mereka adalah:
“Kasih dan Cinta
kepada ummat yang terdera sekarang.”
Perjuangan tidak digambarkan sebagai usaha untuk memperoleh keuntungan pribadi. Tokoh “kami” justru menyadari bahwa mereka mungkin tidak akan menikmati hasil perjuangan tersebut.
Hal itu diperjelas melalui perumpamaan sebagai orang yang:
“pencangkul tanah,penabur benih, penyiram semai,perabuk pohon menjelang berbuah.”
Mereka bekerja untuk menyiapkan sesuatu yang hasilnya mungkin baru dinikmati oleh generasi berikutnya.
Tema-tema pendukung yang juga sangat kuat adalah pengorbanan, solidaritas terhadap rakyat, perlawanan terhadap penindasan, anti-kekerasan, perjuangan kelas, dan cita-cita perubahan sosial.
Makna Tersirat
Makna tersirat yang paling kuat dalam puisi ini adalah bahwa sebuah perjuangan besar membutuhkan pengorbanan pribadi dan kesediaan untuk mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan diri sendiri.
Tokoh “kami” tidak menganggap keberhasilan pribadi sebagai tujuan utama. Bahkan pada bagian I, mereka mengakui bahwa mereka mungkin tidak akan menikmati “buah” dari perjuangan tersebut.
Gambaran:
“Kami hanya pencangkul tanah.penabur benih, penyiram semai”
mengandung makna bahwa para pejuang berperan sebagai perintis. Mereka menanam sesuatu yang diharapkan akan tumbuh dan menghasilkan manfaat pada masa depan.
Makna tersirat lainnya adalah keyakinan bahwa perubahan sosial tidak dapat dicapai tanpa keberanian menghadapi penderitaan. Penjara, pembuangan, tiang gantungan, bahkan kematian dipandang sebagai risiko yang mungkin harus diterima.
Namun, puisi ini tidak semata-mata berbicara tentang penderitaan. Di dalamnya terdapat keyakinan bahwa perjuangan harus memiliki dasar moral. Cinta, kesetiaan, kebenaran, kejujuran, dan pengabdian kepada rakyat menjadi nilai yang terus ditekankan.
Bagian VIII juga menyampaikan makna penting mengenai kekuatan persatuan. Butir-butir pasir yang jika dicampur dengan bahan lain dapat menjadi tembok merupakan gambaran bahwa individu-individu yang bersatu dapat membentuk kekuatan yang jauh lebih besar.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Ada beberapa amanat atau pesan yang dapat ditemukan dalam puisi ini.
- Perjuangan membutuhkan pengorbanan. Penyair menunjukkan bahwa sebuah cita-cita besar tidak dapat dicapai tanpa kesediaan untuk berkorban. Para tokoh dalam puisi rela kehilangan kenyamanan pribadi, berpisah dengan keluarga, bahkan mempertaruhkan kehidupan.
- Kepentingan bersama harus diperjuangkan. Puisi menekankan pentingnya kepedulian terhadap orang lain, khususnya mereka yang mengalami penindasan dan penderitaan. Perjuangan tidak semestinya hanya berorientasi pada kepentingan pribadi.
- Persatuan dapat menghasilkan kekuatan. Gambaran butir pasir pada bagian VIII menyiratkan bahwa individu yang tampak kecil dan lemah dapat menjadi kekuatan besar apabila bersatu.
- Kehidupan harus memiliki arti. Bagian VI menyampaikan gagasan bahwa manusia memang akan mati, tetapi yang penting adalah bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Hidup yang diabdikan kepada sesuatu yang diyakini luhur dipandang lebih bermakna daripada hidup tanpa tujuan.
- Perubahan membutuhkan keberanian. Puisi ini juga menyampaikan bahwa perubahan terhadap keadaan yang dianggap tidak adil membutuhkan keberanian untuk menghadapi berbagai risiko dan hambatan.
Puisi “Sepuluh Soneta” karya Boejoeng Saleh merupakan puisi yang kuat dengan muatan sosial-politik dan ideologis. Kesepuluh bagiannya membentuk rangkaian pemikiran tentang perjuangan, pengorbanan, penindasan, persatuan, kematian, dan cita-cita membangun kehidupan yang dianggap lebih adil.
Karya: Boejoeng Saleh
Biodata Boejoeng Saleh:
- Saleh Iskandar Poeradisastra atau Boejoeng Saleh lahir pada tanggal 25 Desember 1923 di Jakarta.