Puisi: Si Bisu, Si Lupa (Karya Gus tf)

Puisi “Si Bisu, Si Lupa” karya Gus tf merupakan puisi reflektif yang membahas hubungan manusia dengan kata-kata, ingatan, pengalaman, dan kehidupan.
Si Bisu, Si Lupa

Letih mengembara, capek berkelana, akhirnya ia putuskan
jadi Si Bisu. Ketika itulah ia tahu: Tiap kali bicara, sebenarnya
mengurangi hidupnya. Maka mulailah ia tinggal dalam pikiran;
dalam kenangan. Menciptakan dunia sendiri, seperti musik
dibuntal melodi, melengkung-ngambang dalam ruangan

segala dekat dalam jangkauan.

Capek mengembara, puas berkelana, akhirnya ia putuskan
jadi Si Lupa. Barulah ia tahu: Tiap kali mengenang, sebenarnya
getar riang kian berkurang. Maka mulailah ia tinggal dalam alpa;
dalam lupa. Menciptakan dunia kedua, seakan hidup kemarin

tak pernah ada. Dan ia mengulang, mengulang lagi kehadirannya.

Payakumbuh, 1997

Sumber: Daging Akar (Penerbit Buku Kompas, 2005)

Analisis Puisi:

Puisi “Si Bisu, Si Lupa” karya Gus tf merupakan puisi reflektif yang membahas hubungan manusia dengan kata-kata, ingatan, pengalaman, dan kehidupan. Puisi ini menghadirkan sosok “ia” yang setelah lelah mengembara dan berkelana memilih menjadi “Si Bisu”, lalu memilih menjadi “Si Lupa”.

Pilihan untuk diam dan melupakan bukan sekadar keadaan fisik atau hilangnya ingatan. Keduanya dapat dibaca sebagai bentuk perenungan, perlindungan diri, dan usaha menciptakan ruang kehidupan baru setelah pengalaman yang panjang.

Melalui bahasa yang filosofis, penyair mempertanyakan sesuatu yang mendasar: apakah berbicara dan mengingat selalu membuat hidup menjadi lebih kaya, atau justru dapat mengurangi sesuatu dari kehidupan itu sendiri?

Tema

Tema utama puisi ini adalah perenungan tentang kehidupan, pengalaman, ingatan, dan pilihan untuk diam serta melupakan. Tema tersebut tampak melalui dua bagian utama puisi.

Bagian pertama berpusat pada keputusan tokoh “ia” menjadi Si Bisu:

“Tiap kali bicara, sebenarnya
mengurangi hidupnya.”

Bagian kedua berpusat pada keputusan menjadi Si Lupa:

“Tiap kali mengenang, sebenarnya
getar riang kian berkurang.”

Dari kedua bagian tersebut terlihat adanya gagasan bahwa kata-kata dan kenangan tidak selalu membawa kebahagiaan. Dalam kondisi tertentu, berbicara justru dianggap mengurangi pengalaman hidup, sementara mengingat masa lalu dapat mengurangi kegembiraan yang masih tersisa.

Dengan demikian, tema puisi dapat dirumuskan sebagai pencarian ketenangan melalui diam dan pelepasan terhadap masa lalu.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini cukup filosofis. “Si Bisu” dan “Si Lupa” dapat dibaca sebagai simbol dari dua bentuk pelepasan diri.

1. Si Bisu sebagai simbol keheningan

Menjadi “Si Bisu” tidak harus berarti kehilangan kemampuan berbicara secara fisik.

Ia dapat dimaknai sebagai pilihan untuk berhenti mengungkapkan segala sesuatu kepada dunia luar.

Tokoh “ia” merasa:

“Tiap kali bicara, sebenarnya
mengurangi hidupnya.”

Kalimat tersebut dapat ditafsirkan bahwa pengalaman hidup terkadang terasa kehilangan keaslian ketika terus-menerus dijelaskan dengan kata-kata.

Ada pengalaman yang mungkin justru lebih bermakna ketika disimpan dalam pikiran dan dirasakan sendiri.

Karena itu:

“Maka mulailah ia tinggal dalam pikiran;
dalam kenangan.”

Ia menciptakan ruang kehidupan yang bersifat personal dan tidak bergantung pada komunikasi dengan orang lain.

2. Si Lupa sebagai simbol pelepasan masa lalu

Setelah memilih diam, tokoh “ia” kemudian memilih melupakan.

“Tiap kali mengenang, sebenarnya
getar riang kian berkurang.”

Di sini, kenangan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang selalu indah. Mengingat masa lalu justru dapat membuat seseorang terus hidup dalam pengalaman yang sudah berlalu.

Dengan menjadi “Si Lupa”, tokoh tersebut berusaha membebaskan dirinya dari dominasi masa lalu.

Ia menciptakan:

“dunia kedua”

seakan-akan kehidupan sebelumnya tidak pernah ada.

Makna tersiratnya adalah bahwa terkadang manusia perlu melepaskan sesuatu yang pernah dialaminya agar dapat benar-benar menjalani kehidupan yang baru.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa manusia terkadang perlu belajar diam, berdamai dengan pikirannya, dan melepaskan masa lalu agar dapat melanjutkan kehidupan.

Puisi tidak serta-merta mengatakan bahwa berbicara atau mengingat adalah sesuatu yang buruk. Sebaliknya, penyair memperlihatkan bagaimana kedua hal tersebut dapat memiliki konsekuensi tertentu.

Pesan yang dapat diambil antara lain:
  • Tidak semua hal harus disampaikan kepada orang lain. Ada pengalaman yang dapat disimpan sebagai bagian dari kehidupan pribadi.
  • Tidak semua kenangan harus terus dipelihara. Kenangan tertentu justru dapat menjadi beban jika terus dihidupkan.
  • Manusia perlu belajar melepaskan masa lalu. Kehidupan tidak selalu harus berputar pada pengalaman yang telah berlalu.
  • Ketenangan dapat ditemukan melalui penerimaan diri.
  • Setelah mengalami perjalanan panjang, seseorang berhak menciptakan ruang hidup yang baru.
Amanat terpentingnya adalah jangan sampai kehidupan hari ini sepenuhnya dikuasai oleh kata-kata dan kenangan masa lalu.

Gus tf Sakai
Puisi: Si Bisu, Si Lupa
Karya: Gus tf

Biodata Gus tf Sakai:
  • Gustrafizal Busra atau lebih dikenal Gus tf Sakai lahir pada tanggal 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatera Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.