Puisi: Sia-Sia (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Sia-Sia” karya Gunoto Saparie mengingatkan bahwa waktu yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan. Pertemuan dapat berakhir, orang-orang ...
Sia-Sia

pahit kopi teronggok sia-sia di dasar gelas
percakapan-percakapan tak juga tuntas
ketika selepas pagi buta tamu-tamu berkemas
buah-buah catur dan kartu-kartu remi pun terhempas

Analisis Puisi:

Puisi “Sia-Sia” karya Gunoto Saparie merupakan puisi pendek yang menggunakan benda-benda sederhana seperti kopi, gelas, percakapan, catur, dan kartu remi untuk menggambarkan suatu keadaan yang berakhir tanpa penyelesaian. Di balik empat lariknya, penyair menghadirkan kesan tentang percakapan yang tidak menemukan titik temu, kebersamaan yang berakhir, serta berbagai usaha yang pada akhirnya terasa percuma.

Judul “Sia-Sia” menjadi kunci penting untuk memahami keseluruhan puisi. Kata tersebut memberikan penekanan bahwa sesuatu yang sebelumnya dilakukan atau diharapkan ternyata tidak menghasilkan penyelesaian sebagaimana yang diinginkan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegagalan mencapai penyelesaian dalam sebuah hubungan atau percakapan sehingga segala usaha terasa percuma. Tema tersebut terlihat jelas melalui larik:

“percakapan-percakapan tak juga tuntas”

Percakapan biasanya menjadi sarana untuk menyampaikan pikiran, menyelesaikan persoalan, atau mencari kesepahaman. Namun, dalam puisi ini percakapan justru berakhir tanpa kesimpulan.

Kondisi tersebut diperkuat oleh gambaran:

“pahit kopi teronggok sia-sia di dasar gelas”

Kopi yang tersisa di dasar gelas menjadi simbol sesuatu yang tidak selesai atau tidak lagi berguna. Rasa pahit juga dapat dikaitkan dengan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kebersamaan dan komunikasi tidak selalu menghasilkan pemahaman atau penyelesaian. Seseorang dapat berbicara panjang, menghabiskan waktu bersama, bahkan melakukan berbagai aktivitas, tetapi persoalan yang mendasarinya tetap tidak selesai.

Kata “sia-sia” dapat mengarah pada perasaan kecewa karena usaha yang dilakukan tidak menghasilkan sesuatu yang berarti.

Kopi yang pahit dan tertinggal di dasar gelas dapat menjadi simbol sisa pengalaman yang tidak menyenangkan. Kopi telah kehilangan fungsi utamanya sebagai minuman yang dinikmati; yang tersisa hanyalah rasa pahit.

Begitu pula dengan percakapan. Ia telah berlangsung, tetapi:

“tak juga tuntas”

Artinya, kata-kata telah dikeluarkan, tetapi mungkin tidak mampu menjembatani perbedaan.

Sementara catur dan kartu remi dapat dimaknai lebih jauh sebagai simbol permainan, strategi, dan pertarungan. Dalam kehidupan, manusia sering menyusun strategi untuk mencapai tujuan. Namun, ketika permainan selesai dan semua orang pergi, papan dan kartu hanya tertinggal sebagai sisa aktivitas.

Puisi ini dengan demikian dapat dibaca sebagai refleksi tentang waktu yang telah berlalu tanpa menghasilkan kepastian.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah pentingnya menyelesaikan persoalan melalui komunikasi yang efektif dan tidak membiarkan waktu berlalu tanpa tujuan yang jelas.

Percakapan yang tidak tuntas dapat meninggalkan persoalan yang sama. Oleh karena itu, berbicara saja tidak cukup; diperlukan kemauan untuk mendengarkan, memahami, dan mencari penyelesaian.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa waktu yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan. Pertemuan dapat berakhir, orang-orang dapat pergi, dan berbagai aktivitas dapat ditinggalkan. Jika tidak menghasilkan sesuatu yang berarti, semuanya berpotensi menjadi sia-sia.

Pesan lainnya adalah agar manusia tidak terjebak dalam perdebatan atau permainan tanpa tujuan. Catur dan kartu dalam puisi dapat menjadi simbol aktivitas yang menghabiskan waktu, sementara persoalan utama tetap belum terselesaikan.

Foto Gunoto Saparie
Puisi: Sia-Sia
Karya: Gunoto Saparie

GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  dan Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia--Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), dan Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta.  Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.