Puisi: Sisa Doanya Masih Ada (Karya Kliwon Mansi)

Puisi “Sisa Doanya Masih Ada” karya Kliwon Mansi mengajarkan pentingnya ketabahan menghadapi waktu. Tidak semua persoalan dapat segera diselesaikan.

Sisa Doanya Masih Ada

sisa doanya masih ada
percakapan sunyi
kemalangan kata-kata
sebelum ditengok kembali
ia pun harus menjadi cahaya

memenuhi ruangan ini
dari percakapan sebelumnya, ia pun
masih tabah kepada waktu

Halaman Kampung, 20 Agustus 2026

Analisis Puisi:

Puisi “Sisa Doanya Masih Ada” karya Kliwon Mansi merupakan puisi pendek yang menghadirkan suasana hening dan penuh perenungan. Meskipun hanya terdiri atas beberapa larik, puisi ini menyimpan gagasan tentang doa, kesunyian, waktu, harapan, dan ketabahan.

Penyair menggunakan kata-kata yang sederhana tetapi simbolis. “Doa”, “percakapan sunyi”, “cahaya”, “ruangan”, dan “waktu” menjadi unsur penting yang saling berkaitan dalam membangun makna puisi. Kehadiran “sisa doa” seolah menunjukkan bahwa sesuatu yang pernah diucapkan atau diharapkan belum sepenuhnya hilang. Ia masih bertahan dan dapat menjadi cahaya dalam keadaan yang sunyi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketabahan mempertahankan harapan melalui doa di tengah kesunyian dan kemalangan. Tema tersebut langsung tercermin melalui judul sekaligus larik pembuka:

“sisa doanya masih ada”

Kata “sisa” menunjukkan bahwa mungkin telah terjadi sesuatu yang mengurangi, menghapus, atau mengubah keadaan sebelumnya. Namun, doa itu tidak sepenuhnya lenyap.

Puisi kemudian menghadirkan:

“percakapan sunyi”

dan:

“kemalangan kata-kata”

Kedua ungkapan tersebut menciptakan gambaran tentang keadaan batin yang penuh kesenyapan dan kesulitan.

Di tengah keadaan tersebut, masih terdapat kemungkinan munculnya cahaya:

“ia pun harus menjadi cahaya
memenuhi ruangan ini”

Dengan demikian, tema puisi tidak berhenti pada kesedihan. Ada gagasan tentang harapan yang tetap bertahan meskipun keadaan sedang sulit.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa harapan tidak selalu hadir dalam bentuk yang utuh; terkadang yang tersisa hanyalah sebuah doa, tetapi sisa tersebut sudah cukup untuk membuat seseorang bertahan.

Kata “sisa” memiliki peran penting. Ia menyiratkan bahwa ada sesuatu yang telah berlalu atau mengalami kehilangan. Namun, kehilangan bukan berarti semuanya berakhir.

“Sisa doa” dapat dimaknai sebagai harapan terakhir seseorang ketika kemampuan untuk melakukan sesuatu sudah terbatas. Ketika kata-kata tidak lagi mampu menyelesaikan persoalan, doa menjadi bentuk komunikasi yang tersisa.

Ungkapan:

“ia pun harus menjadi cahaya”

menunjukkan perubahan dari sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang menerangi. Cahaya secara simbolis dapat berarti harapan, petunjuk, kekuatan, ketenangan, atau kehadiran Tuhan.

Sementara itu:

“memenuhi ruangan ini”

dapat dimaknai sebagai keinginan agar harapan tersebut memenuhi ruang batin yang sebelumnya kosong dan gelap.

Bagian akhir:

“masih tabah kepada waktu”

menegaskan bahwa ketabahan merupakan inti dari puisi. Waktu biasanya digambarkan sebagai sesuatu yang mengubah keadaan dan menghapus kenangan. Namun, dalam puisi ini, sesuatu yang tersisa tetap mampu bertahan menghadapi waktu.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah jangan menganggap bahwa harapan telah benar-benar hilang hanya karena keadaan sedang sulit atau sesuatu yang berharga telah berlalu.

Doa yang tersisa tetap memiliki arti. Bahkan ketika kata-kata tidak lagi mampu menjelaskan keadaan, doa dapat menjadi sumber kekuatan batin.

Puisi ini juga mengajarkan pentingnya ketabahan menghadapi waktu. Tidak semua persoalan dapat segera diselesaikan. Ada keadaan yang hanya dapat dilewati dengan kesabaran dan keteguhan.

Pesan lainnya adalah bahwa sesuatu yang kecil dan tersisa tetap dapat memberikan arti yang besar. Sisa doa yang tampaknya sederhana justru digambarkan mampu menjadi cahaya dan memenuhi sebuah ruangan.

Kliwon Mansi
Puisi: Sisa Doanya Masih Ada
Karya: Kliwon Mansi

Biodata Kliwon Mansi:
  • Kliwon Mansi lahir pada tanggal 12 September 1995 di Bekasi. Ia memiliki hobi membaca, menulis dan bermain catur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.