Puisi: Tanah Merah (Karya Maman S. Tawie)

Puisi “Tanah Merah” karya Maman S. Tawie mengingatkan bahwa suatu tempat dapat menyimpan sejarah dan kenangan yang tidak mudah dilupakan. Jalan, ...

Tanah Merah


Jalan di sana
menguak waktu
pada saat aku
berkemas
tak ada nafsu
hanya kasih

Tanah merah itu
menyimpan wajah gelap, tertenda
tiada bising berseri
lenyap kembali
dari mana engkau
mengerti lagi

Seribu satu rasa
menambah gejolak suara

Saat aku berlari
menyongsong
hanya satu pualam
menjerit aku
padamu
dan pada semesta

1974

Sumber: Kebun di Belakang Rumah (1995)

Analisis Puisi:

Puisi “Tanah Merah” karya Maman S. Tawie merupakan puisi yang menghadirkan pengalaman batin yang kuat melalui gambaran perjalanan, perpisahan, kenangan, dan gejolak perasaan. Dengan menggunakan simbol “jalan” dan “tanah merah”, penyair membawa pembaca pada suasana yang penuh misteri, kesedihan, dan kegelisahan.

Puisi ini tidak menyampaikan maknanya secara langsung. Kata-kata yang digunakan cenderung simbolis sehingga pembaca perlu menafsirkan hubungan antara perjalanan penyair, tanah merah, wajah yang gelap, dan pualam. “Tanah merah” dapat dipahami bukan hanya sebagai tempat secara geografis, tetapi juga sebagai ruang penyimpan kenangan, pengalaman, atau peristiwa yang meninggalkan bekas mendalam dalam diri tokoh.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan batin yang dipenuhi kenangan, kasih, kehilangan, dan gejolak perasaan.

Pada bait pertama, penyair sedang bersiap atau berkemas:

“pada saat aku
berkemas
tak ada nafsu
hanya kasih”

Kata “berkemas” dapat menunjukkan sebuah persiapan untuk pergi atau meninggalkan sesuatu. Namun, kepergian tersebut bukan didorong oleh keinginan pribadi, melainkan oleh “kasih”. Hal ini memberikan kesan bahwa terdapat ikatan emosional yang kuat antara penyair dengan sesuatu atau seseorang yang ditinggalkannya.

Tema kehilangan semakin terasa pada bait berikutnya ketika tanah merah digambarkan sebagai tempat yang menyimpan “wajah gelap”. Pada bagian akhir, emosi penyair mencapai puncaknya melalui ungkapan:

“menjerit aku
padamu
dan pada semesta”

Dengan demikian, puisi ini dapat dibaca sebagai ungkapan seseorang yang sedang menghadapi suatu pengalaman emosional yang sangat dalam dan sulit diungkapkan secara biasa.

Makna Tersirat

Makna Tersirat puisi ini berkaitan dengan kenangan dan kehilangan yang tetap melekat meskipun seseorang telah meninggalkan suatu tempat atau masa lalu.

Ungkapan:

“Tanah merah itu
menyimpan wajah gelap”

dapat dimaknai bahwa sebuah tempat mampu menyimpan jejak peristiwa yang pernah terjadi di dalamnya. “Tanah merah” menjadi simbol ruang yang menyimpan pengalaman dan kenangan.

Kata “gelap” dapat melambangkan kesedihan, tragedi, misteri, atau pengalaman pahit. Sementara itu, “lenyap kembali” memberikan kesan bahwa sesuatu pernah hadir tetapi kemudian menghilang.

Pertanyaan:

“dari mana engkau
mengerti lagi”

menunjukkan adanya jarak antara penyair dengan seseorang yang disapa “engkau”. Jarak tersebut mungkin merupakan jarak fisik, emosional, atau bahkan jarak yang disebabkan oleh kematian.

Jika “pualam” ditafsirkan sebagai batu nisan, maka bagian akhir semakin kuat menunjukkan kesedihan akibat kehilangan. Penyair seolah datang kembali kepada seseorang yang telah tiada dan kemudian meluapkan jeritannya kepada orang tersebut sekaligus kepada semesta.

Makna tersirat yang dapat ditarik adalah bahwa kasih dan kehilangan dapat membuat sebuah tempat menjadi sangat berarti bagi seseorang. Tempat tersebut bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang penyimpanan kenangan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa kasih, kenangan, dan kehilangan merupakan bagian dari pengalaman manusia yang dapat meninggalkan jejak mendalam.

Puisi juga mengingatkan bahwa suatu tempat dapat menyimpan sejarah dan kenangan yang tidak mudah dilupakan. Jalan, tanah, dan benda-benda yang tampak sederhana dapat menjadi simbol dari pengalaman hidup seseorang.

Selain itu, puisi mengajarkan bahwa perasaan tidak selalu mudah dijelaskan secara logis. Kesedihan, kerinduan, kasih, dan kehilangan dapat bercampur menjadi satu hingga seseorang hanya mampu mengekspresikannya melalui “jeritan”.

Jika “pualam” dimaknai sebagai batu nisan, amanat lainnya adalah bahwa kehilangan orang yang dicintai dapat meninggalkan luka yang dalam, tetapi kasih kepada orang yang telah pergi tetap hidup dalam ingatan.

Maman S. Tawie
Puisi: Tanah Merah
Karya: Maman S. Tawie

Biodata Maman S. Tawie:
  • Maman S. Tawie adalah salah satu sastrawan asal Kalimantan Selatan.
  • Maman S. Tawie lahir pada tanggal 25 September 1957 di dusun Sei Tirik, desa Lokpaikat, kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
  • Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa seperti Horison, Pelita, Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Radar Banjarmasin, Angkatan Bersenjata, Merdeka, Kompas, Suara Karya, Zaman, Eksponen, dan Berita Buana.
  • Maman S. Tawie  meninggal dunia pada tanggal 7 April 2014 (pada usia 56 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.